Pacitanku.com, PACITAN – Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Pacitan memastikan video viral seorang penyandang disabilitas bernama Widiono alias Nano di Desa Mentoro, Kecamatan Pacitan, bukan merupakan tindakan perundungan (bullying).
Kepastian ini diperoleh setelah tim gabungan melakukan kunjungan rumah (home visit) dan klarifikasi langsung kepada pihak keluarga serta tetangga pembuat konten pada Jumat (6/11/2026) untuk merespons aduan masyarakat.
Kepala Dinas Sosial Kabupaten Pacitan, Heri Setijono, menjelaskan bahwa pembuatan video tersebut murni dilatarbelakangi niat tetangga untuk menggalang donasi bagi keluarga Widiono yang tergolong kurang mampu.
Interaksi di dalam video yang sempat memicu kecaman warganet dipastikan hanya candaan keseharian di antara mereka.
“Berdasarkan klarifikasi langsung di lapangan, video viral tentang penyandang disabilitas atas nama Widiono di Desa Mentoro bukan merupakan kasus perundungan. Tujuan awal pembuat konten semata-mata untuk membantu menggalang donasi guna meringankan beban hidup keluarga, bukan untuk mengejek atau merendahkan,”kata Heri Setijono dalam siaran pers resmi yang diterima Pacitanku.com, Sabtu (7/11/2026) di Pacitan.
Sebelumnya, rekaman video yang diunggah akun TikTok @zie.ken46 tersebut menuai sorotan warganet karena menampilkan interaksi yang dinilai kurang pantas.
Dalam video itu, Widiono terlihat duduk di lantai teras rumah di dekat seorang lansia berkursi roda, lalu perekam melemparkan kerupuk ke arahnya sembari melontarkan gurauan berbahasa Jawa.
Pada potongan video lainnya, Widiono tampak berjongkok memasukkan tumpukan dedaunan ke dalam karung di halaman rumah. Saat bersamaan, perekam mengarahkan kakinya ke arah tumpukan daun di dekat tubuh Widiono. Potongan visual tanpa konteks utuh itulah yang kemudian memicu kesalahpahaman publik di media sosial.
Menindaklanjuti polemik tersebut, Dinsos Pacitan bersama Pemerintah Desa Mentoro, Pendamping Disabilitas, Pendamping Program Keluarga Harapan (PKH), Sistem Layanan dan Rujukan Terpadu (SLRT), serta Pendamping Rehabilitasi Sosial (Rehsos) turun langsung melakukan asesmen kondisi fisik, psikologis, sosial, dan ekonomi keluarga.
“Keluarga menyampaikan bahwa video tersebut hanya candaan yang sudah biasa dilakukan di lingkungan mereka. Pihak keluarga tidak merasa dirugikan, tersinggung, ataupun terancam, karena pembuat konten justru sering membantu kebutuhan sehari-hari mereka secara materiil maupun dukungan lainnya,”imbuh Heri.
Hasil asesmen menunjukkan Widiono saat ini dalam keadaan sehat dan aman. Ia tinggal bersama kedua orang tuanya yang sedang mengalami gangguan kesehatan sehingga tidak dapat beraktivitas secara maksimal.
Untuk menopang kebutuhan dasar, keluarga Widiono tercatat telah menerima manfaat bantuan sosial meliputi PKH, Bantuan Pangan Non-Tunai (BPNT), serta jaminan kesehatan BPJS.
Dalam pertemuan mediasi tersebut, tim gabungan juga memberikan edukasi mengenai etika pembuatan konten yang ramah dan berperspektif disabilitas. Pengunggah video telah menyampaikan permohonan maaf secara terbuka atas kesalahpahaman yang timbul di ruang publik.
“Sebagai bentuk tanggung jawab untuk menghentikan polemik, pembuat konten telah menghapus (take down) video tersebut dan berkomitmen lebih berhati-hati serta meminta izin keluarga terlebih dahulu ke depannya. Saat ini kondisi Widiono aman, dan hubungan kekeluargaan dengan tetangga tetap terjalin baik,”pungkas Heri.










