Ibas Gaungkan Pelestarian Budaya Lewat Rekor Dunia MURI Gebyar Langen Tayub Pacitan 2026: Akar Budaya Jangan Patah

oleh -12 Dilihat
Wakil Ketua MPR RI Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas) didampingi sang istri Aliya Rajasa dan Bupati Pacitan Indrata Nur Bayuaji memberikan keterangan pers kepada wartawan di acara Gebyar Langen Tayub Pacitan 2026.
APRESIASI ANTUSIASME WARGA — Wakil Ketua MPR RI, Dr. H. Edhie Baskoro Yudhoyono, B.Com., M.Sc. (Ibas), didampingi sang istri, Aliya Rajasa Baskoro Yudhoyono, serta Bupati Pacitan, Indrata Nur Bayuaji, memberikan keterangan pers kepada awak media di sela pergelaran Gebyar Langen Tayub Pacitan 2026 di Stadion Wijaya Krida, Kabupaten Pacitan. Ibas mengapresiasi semangat gotong royong ribuan pambeksa yang sukses mencatatkan Rekor Dunia MURI di momentum Hari Sumpah Pemuda. (Foto: Sulthan Shalahuddin/Pacitanku)

PACITAN — Wakil Ketua MPR RI, Dr. H. Edhie Baskoro Yudhoyono, B.Com., M.Sc. (Ibas), sukses menginisiasi pergelaran tari kolosal Gebyar Langen Tayub Pacitan 2026 yang memecahkan rekor Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) di Stadion Wijaya Krida, Kabupaten Pacitan.

Momentum peringatan Hari Sumpah Pemuda ini melibatkan 5.288 penari (pambeksa) dari seluruh penjuru daerah yang tampil serentak di tengah guyuran hujan demi merawat kelestarian budaya leluhur.

Dalam pidatonya di hadapan ribuan masyarakat, Ibas menegaskan bahwa pelestarian seni tradisional merupakan langkah krusial untuk menjaga jati diri bangsa di tengah gempuran modernisasi. Menurutnya, ekspresi kesenian daerah memiliki filosofi mendalam yang melampaui sekadar keindahan gerak dan irama.

“Zaman boleh terus berubah, tetapi akar budaya jangan sampai patah. Mari kita jaga Langen Tayub ini, kenalkan kepada generasi muda, beri ruang pada seniman, dan wariskan dengan bangga,” tegas Ibas.

Atas peran sentralnya sebagai pemrakarsa, Ibas resmi dianugerahi piagam penghargaan MURI bernomor 12.990/SK/MURI/X/2026 untuk kategori Pagelaran Tari Langen Tayub dengan Jumlah Peserta Terbanyak.

Baca juga: Tembus Hujan Deras, 5.288 Penari Pecahkan Rekor MURI Langen Tayub Pacitan 2026

Senior Representative MURI, Ari Andriani, yang memverifikasi langsung di lokasi, mengungkapkan bahwa tingginya antusiasme warga yang bertahan di lapangan basah justru membuat jumlah peserta melampaui target awal 5.000 orang.

Tercatat sebanyak 5.288 penari dari 170 desa di 12 kecamatan se-Kabupaten Pacitan—terdiri atas 3.130 penari pria dan 2.205 penari wanita berbusana adat khas Pacitan—menari bersama mengikuti alunan gamelan Jawa dan tembang para waranggana.

Ayunan sampur para pambeksa berpadu selaras dengan ritme gending Dirgahayu, Mustika Pancasila, Pisang Bali, hingga Ricik-ricik.

Ketua Umum MURI, Prof. Dr. Jaya Suprana, melalui sambungan telekonferensi menyatakan bahwa capaian di Pacitan ini layak dicatat sebagai rekor dunia karena merefleksikan nilai luhur kebangsaan.

“Museum Rekor-Dunia Indonesia memandang peristiwa ini sebagai cerminan semangat gotong royong, kecintaan terhadap budaya daerah, serta tekad bersama menjaga warisan leluhur. MURI mencatatnya sebagai Rekor Dunia,” tutur Jaya Suprana.

Langkah nyata Ibas dalam mengangkat marwah kesenian lokal tersebut mendapat apresiasi tinggi dari Bupati Pacitan, Indrata Nur Bayuaji. Kehadiran ribuan penari di tengah cuaca hujan dinilai menjadi bukti kuatnya ikatan kultural masyarakat setempat.

“Kami atas nama warga masyarakat Pacitan menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Mas Ibas yang sudah menjadi pemrakarsa dalam acara Gebyar Langen Tayub Pacitan ini,”kata Bupati Indrata Nur Bayuaji.

Suksesnya pencatatan rekor dunia Gebyar Langen Tayub Pacitan 2026 ini membuktikan bahwa tradisi lokal mampu menjadi simpul pemersatu yang merawat filosofi guyub rukun masyarakat.

Lebih dari itu, perhelatan budaya berskala masif ini diharapkan turut memperkuat karakter kebangsaan sekaligus menggerakkan roda pariwisata dan ekonomi kreatif di Kabupaten Pacitan.

No More Posts Available.

No more pages to load.