Wabup Gagarin: Tradisi Entas-Entas di Nitikan Wujud Nyata Kedaulatan Pangan Warga Pacitan

oleh -6 Dilihat
Warga Dusun Nitikan Desa Sukoharjo Pacitan menarik gerobak jimpitan hasil bumi dalam tradisi Entas-Entas untuk dibagikan kepada tetangga.
Warga Dusun Nitikan, Desa Sukoharjo, Kecamatan Pacitan menggelar tradisi Entas-Entas dengan mengumpulkan jimpitan hasil bumi untuk dibagikan kepada warga yang tidak memiliki lahan pertanian, Sabtu (17/10/2026) malam. (Foto: Febriani Cahyaningtias/Pacitanku)

Pacitanku.com, PACITAN – Warga Dusun Nitikan, Desa Sukoharjo, Kecamatan Pacitan, Kabupaten Pacitan menghidupkan kembali tradisi leluhur Entas-Entas yang sempat hampir punah untuk memperkuat ketahanan pangan melalui pembagian hasil panen kepada tetangga yang tidak memiliki lahan pertanian, Sabtu (17/10/2026) malam.

Baca juga: Tak Punya Sawah Tetap Bisa Panen, Cara Hangat Warga Nitikan Pacitan Berbagi Lewat Tradisi Entas-Entas

Wakil Bupati Pacitan, Gagarin Sumrambah, yang hadir dalam kegiatan tersebut menegaskan bahwa Entas-Entas bukan sekadar seremoni warisan budaya, melainkan wujud nyata kemandirian pangan dan gotong royong masyarakat dari lingkungan terkecil.

“Ritual Entas-Entas bukan hanya tradisi ngentasne leluhur atau simbol syukuran di atas kertas, melainkan wujud nyata kemandirian pangan warga,” kata Gagarin dalam sambutannya.

Dalam pelaksanaannya, warga menggelar kirab keliling kampung dengan iringan musik thethekan. Di belakang rombongan, warga menarik sebuah gerobak untuk menampung jimpitan hasil bumi sukarela dari tiap rumah, mulai dari gabah, beras, hingga sayuran segar.

Seluruh komoditas pangan yang terkumpul langsung disalurkan kepada warga setempat yang tidak memiliki akses sawah maupun kebun. Rangkaian acara kemudian ditutup dengan kembul bujana atau makan bersama sebagai simbol kerukunan antartetangga.

Gagarin menilai, kebiasaan menanam di lahan pekarangan, memanen, dan berbagi hasil bumi mampu menciptakan lingkungan yang asri sekaligus mempererat persaudaraan.

Menurutnya, kedaulatan pangan dapat terwujud apabila masyarakat mengoptimalkan lahan sekitar rumah dan saling menopang warga yang mengalami keterbatasan.

“Apabila tangan kita mau menanam di pekarangan, hati kita mau srawung dan memberi jimpitan, kita tidak akan kelaparan serta tidak bergantung pada luar daerah,”ujarnya.

Ia menjelaskan, gerakan jimpitan hasil bumi mencerminkan kekuatan ketahanan pangan yang tumbuh dari partisipasi mandiri masyarakat, bukan semata-mata mengandalkan bantuan eksternal.

“Tanaman akan tumbuh apabila ditanam, siapa yang telaten bakal panen. Rezeki setiap orang berbeda, tetapi jika rasa kekeluargaan dan gotong royong dihidupkan, hal itu akan membawa kesentosaan di Bumi Nitikan. Kedaulatan pangan tidak berasal dari siapa-siapa, tetapi di tangan kita sendiri,” tegas Gagarin.

Melalui pelestarian tradisi Entas-Entas di Dusun Nitikan, Pemerintah Kabupaten Pacitan berharap nilai kearifan lokal dalam merawat bumi dan berbagi hasil panen dapat menjadi inspirasi kemandirian pangan bagi wilayah lain.

No More Posts Available.

No more pages to load.