Fakta Unik Sejarah Pacitan: Baru Dipimpin 31 Tokoh, tetapi Sudah Masuk Urutan Bupati Ke-33

oleh -242 Dilihat
Kolase foto 12 tokoh Bupati Pacitan dari masa ke masa, mulai dari Soesanto Tirtoprodjo hingga Indrata Nur Bayuaji.
Deretan potret 12 tokoh yang pernah memimpin pemerintahan Kabupaten Pacitan lintas generasi. Berurutan dari kiri atas ke kiri bawah: Soesanto Tirtoprodjo, Raden Soewondo Ranoewidjojo, R. Moch Koesnan, Imam Hanafie, Mochtar Abdul Kadir, Soedjito, Sutjipto Hs., Soetrisno, Sujono, Gepeng Soedibjo, Indartato, dan Indrata Nur Bayuaji (Foto: Kolase Pacitanku.com).

Pacitanku.com, PACITAN – Kursi kepemimpinan eksekutif Kabupaten Pacitan menyimpan catatan sejarah unik sejak pertama kali dibentuk pada 1745 silam.

Meski secara administratif wilayah berjuluk Kota 1001 Gua ini baru dipimpin oleh 31 pejabat definitif, bupati petahana Indrata Nur Bayuaji justru tercatat sebagai bupati ke-33 secara periodisasi akibat adanya masa jabatan terpisah dan jeda transisi pemerintahan di masa lampau.

Teka-teki selisih angka penomoran tersebut terjawab melalui catatan resmi Humas Pemerintah Kabupaten Pacitan. Kunci utamanya terletak pada sosok R. Tumenggung Martohadiwinoto atau Mas Ngabehi Martohadiwinata yang menduduki kursi bupati dalam dua kurun waktu terpisah.

Ia pertama kali memimpin sebagai Bupati ke-9 Pacitan pada periode 1864 hingga 1866, lalu menyerahkan tampuk kekuasaan kepada R. Adipati Martohadinegoro atau Raden Mas Cokrodipuro yang menjabat pada 1866 hingga 1879.

Setelah jeda 13 tahun tersebut, Martohadiwinoto kembali diangkat sebagai Bupati ke-11 Pacitan untuk periode 1879 hingga awal abad ke-20.

Karena satu tokoh yang sama dihitung dalam dua urutan periodisasi berbeda, serta adanya penjabat sementara di sela transisi kekuasaan, nomor urut kepemimpinan menjadi lebih banyak dibandingkan jumlah individu pejabat definitifnya.

Urutan Bupati Pacitan Era Sebelum Kemerdekaan (1745–1945)

Kilas balik urutan kepemimpinan Pacitan bermula hampir tiga abad silam pada zaman penjajahan, ketika masa jabatan kepala daerah belum dibatasi secara kaku lima tahunan seperti saat ini.

Urutan pertama ditempati oleh R.T. Notopoero atau Raden Ngabehi Tumenggung Notoprojo yang memimpin selama dua periode berturut-turut pada awal berdirinya Pacitan, yakni periode pertama pada 1745 hingga 1750 dan periode kedua pada 1750 hingga 1757.

Estafet kepemimpinan kemudian berlanjut ke urutan kedua yang dijabat secara singkat oleh R.T. Soerjonegoro I pada 1757. Selanjutnya, urutan ketiga diisi oleh R.T. Setrowidjojo I atau Setroketipo yang memimpin selama lebih dari setengah abad, terhitung sejak 1757 hingga 1812.

Kontras dengan masa bakti pendahulunya yang sangat panjang, bupati urutan keempat yakni R.T. Setrowidjojo II atau R.M. Lantjoer tercatat hanya menduduki jabatan selama tiga bulan pada 1812.

Roda pemerintahan berikutnya bergulir ke urutan kelima di bawah kendali M.T. Djogokarjo I atau Jayaniman pada 1812 hingga 1826, disusul urutan keenam oleh M.T. Djogonegoro atau Mas Sumadiwiryo yang menjabat singkat pada 1826.

Kepemimpinan lalu diteruskan secara berurutan oleh M.T. Djogokarjo II atau Mas Karyodipuro sebagai bupati ketujuh pada 1826 hingga 1850, serta R.T. Djogokarjo III atau Mas Purbohadikaryo sebagai bupati kedelapan pada 1850 hingga 1864.

Selepas era Djogokarjo III, kursi eksekutif memasuki fase unik yang memengaruhi penomoran sejarah Pacitan. R. Tumenggung Martohadiwinoto masuk sebagai bupati urutan kesembilan pada periode 1864 hingga 1866, sebelum digantikan oleh bupati kesepuluh R. Adipati Martohadinegoro atau Raden Mas Cokrodipuro pada 1866 hingga 1879.

Setelah masa jabatan Martohadinegoro berakhir, R. Tumenggung Martohadiwinoto atau Mas Ngabehi Martohadiwinata kembali ditunjuk menduduki kursi bupati urutan kesebelas sejak 1879 hingga pergantian abad (tercatat dalam arsip antara 1879–1900 hingga 1906).

Memasuki abad ke-20, urutan kepemimpinan dilanjutkan oleh R. Adipati Harjo Tjokronegoro I atau R.T. Cokrohadijoyo yang menjabat sejak 1906 hingga 1933.

Berakhirnya masa bakti Tjokronegoro I sempat menyisakan kekosongan kekuasaan jangka panjang selama empat tahun pada masa kolonial, sehingga roda pemerintahan dijalankan oleh Pelaksana Harian Patih R. Prawirohadiwiryo dari 1933 hingga 1937.

Kursi bupati definitif baru kembali terisi saat R.T. Soerjo Hadijokro menjabat pada 1937 hingga 1942, kemudian ditutup oleh kepemimpinan tokoh nasional Mr. Soesanto Tirtoprodjo di penghujung masa penjajahan pada 1944 hingga 1945.

Urutan Bupati Pacitan Era Setelah Kemerdekaan hingga Reformasi (1945–2000)

Dinamika politik pascakemerdekaan membawa pergantian kepemimpinan yang cukup cepat di Kabupaten Pacitan. Urutan bupati pertama setelah Indonesia merdeka diawali oleh Raden Soewondo yang memimpin pada 1945 hingga 1946, kemudian dilanjutkan oleh Hoetomo pada 1946 hingga 1948, serta Soebekti Poesponoto pada 1948 hingga 1950.

Memasuki dekade 1950-an, tampuk pemerintahan dipegang oleh R. Soekijoen Sastro Hadisewojo pada 1950 hingga 1956, lalu beralih kepada R. Anggris Joedoediprodjo pada 1956 hingga 1961.

Tahun 1961 menjadi fase transisi yang dinamis karena kursi bupati sempat diisi secara bergantian oleh Raden Broto Miseno dan Ali Moertadlo dalam tahun yang sama, sebelum akhirnya dijabat secara penuh oleh R. Katamsi Pringgodigdo sejak 1961 hingga 1964.

Stabilitas masa jabatan mulai terbentuk lebih teratur pada era berikutnya. Kursi bupati diduduki oleh R.S. Tedjo Soemarto pada 1964 hingga 1969, disusul masa kepemimpinan sebelas tahun oleh R. Moch Koesnan dari 1969 hingga 1980.

Selanjutnya, estafet pemerintahan berpindah setiap lima tahun secara berurutan kepada Imam Hanafie pada 1980 hingga 1985, H. Mochtar Abdul Kadir pada 1985 hingga 1990, H. Soedjito pada 1990 hingga 1995, hingga Sutjipto Hs. yang mengawal Pacitan melewati masa transisi reformasi pada 1995 hingga 2000.

Urutan Bupati Pacitan Era Modern dan Transisi Pilkada (2000–Sekarang)

Pada era demokrasi modern yang membatasi masa jabatan kepala daerah maksimal dua periode, tercatat dua bupati definitif yang berhasil menuntaskan mandat dua periode berturut-turut, diselingi oleh sejumlah penjabat sementara pada masa transisi.

Urutan pertama di era milenium baru ini ditempati oleh Bupati Soetrisno yang memimpin sejak tahun 2000 hingga 2005.

Sejarah politik Kabupaten Pacitan mencatat babak penting melalui kepemimpinan H. Sujono atau Suyono, khususnya pada periode 2005 hingga 2010.

Diusung oleh Partai Demokrat, Sujono mengukir sejarah sebagai bupati pertama di Pacitan yang terpilih secara langsung oleh rakyat melalui mekanisme Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada), berpasangan dengan Wakil Bupati Gepeng Soedibyo yang juga dikenal sebagai HG. Soedibjo.

Namun, Sujono wafat sebelum masa jabatannya berakhir. Untuk menjaga kesinambungan roda pemerintahan, posisi kepala daerah kemudian digantikan dan dilanjutkan oleh wakilnya, HG. Soedibjo, yang bertugas sebagai pelaksana tugas sekaligus penjabat bupati hingga 2011 menjelang pelantikan bupati definitif berikutnya.

Tongkat kepemimpinan definitif kemudian beralih kepada Drs. H. Indartato, M.M. sebagai Bupati ke-29 Pacitan yang juga sukses memimpin selama dua periode beruntun, yakni pada 2011 hingga 2016 serta 2016 hingga 2021.

Di sela pergantian periode pertama ke periode kedua Indartato, roda pemerintahan sempat dijalankan secara singkat oleh Penjabat Priyo Darmawan sejak 22 Februari 2016 hingga 4 April 2016.

Jeda transisi kembali terjadi saat masa bakti kedua Indartato berakhir, di mana kursi eksekutif diisi selama kurang lebih tiga pekan oleh Pelaksana Harian Heru Wiwoho Supardi Putra sejak 4 April 2021 hingga 26 April 2021.

Kini, puncak urutan kepemimpinan Kabupaten Pacitan berada di tangan Indrata Nur Bayuaji, S.S. yang resmi menyandang status bupati definitif ke-30 sekaligus Bupati ke-33 Pacitan secara urutan periodisasi masa jabatan.

Setelah menuntaskan periode pertamanya sejak 2021 hingga awal 2025, ia kembali terpilih melalui jalur pemilihan kepala daerah untuk melanjutkan estafet kepemimpinan periode kedua pada 2025 hingga 2030, sekaligus melengkapi deretan pemimpin dua periode dalam sejarah panjang Kota 1001 Gua.

Daftar Lengkap Bupati Pacitan dari Masa ke masa

Era Sebelum Kemerdekaan (Zaman Kolonial: 1745–1945)

  1. R.T. Notopoero (Raden Ngabehi Tumenggung Notoprojo) (1745–1757) – Bupati pertama Pacitan yang menjabat selama dua periode berturut-turut, yakni periode pertama (1745–1750) dan periode kedua (1750–1757).
  2. R.T. Soerjonegoro I (1757)
  3. R.T. Setrowidjojo I (Setroketipo) (1757–1812) – Bupati dengan masa jabatan terlama yang memimpin lebih dari setengah abad.
  4. R.T. Setrowidjojo II (R.M. Lantjoer) (1812) – Menjabat singkat selama 3 bulan.
  5. M.T. Djogokarjo I (Jayaniman) (1812–1826)
  6. M.T. Djogonegoro (Mas Sumadiwiryo) (1826)
  7. M.T. Djogokarjo II (Mas Karyodipuro) (1826–1850)
  8. R.T. Djogokarjo III (Mas Purbohadikaryo) (1850–1864)
  9. R. Tumenggung Martohadiwinoto (Mas Ngabehi Martohadiwinata) (1864–1866) – Menjabat pada periode pertama.
  10. R. Adipati Martohadinegoro (Raden Mas Cokrodipuro) (1866–1879)
  11. R. Tumenggung Martohadiwinoto (Mas Ngabehi Martohadiwinata) (1879–1906) – Kembali menjabat untuk periode kedua setelah jeda kepemimpinan bupati lain (dalam sebagian arsip tercatat 1879–1900). Karena merupakan tokoh yang sama dengan urutan ke-9, terdapat selisih antara jumlah individu pejabat definitif dan urutan periodisasi.
  12. R. Adipati Harjo Tjokronegoro I (R.T. Cokrohadijoyo) (1906–1933)
  13. R.T. Soerjo Hadijokro (1937–1942) – Menjabat setelah kekosongan kursi bupati selama empat tahun (1933–1937) yang diisi oleh Pelaksana Harian Patih R. Prawirohadiwiryo.
  14. Mr. Soesanto Tirtoprodjo (1944–1945)

Era Setelah Kemerdekaan hingga Reformasi (1945–2000)

  1. Raden Soewondo Ranoewidjojo (1945–1946)
  2. Hoetomo (1946–1948)
  3. Soebekti Poesponoto (1948–1950)
  4. R. Soekijoen Sastro Hadisewojo (1950–1956)
  5. R. Anggris Joedoediprodjo (1956–1961)
  6. Raden Broto Miseno (1961)
  7. Ali Moertadlo (1961)
  8. R. Katamsi Pringgodigdo (1961–1964)
  9. R.S. Tedjo Soemarto (1964–1969)
  10. R. Moch Koesnan (1969–1980)
  11. Imam Hanafie (1980–1985)
  12. H. Mochtar Abdul Kadir (1985–1990)
  13. H. Soedjito (1990–1995)
  14. Sutjipto Hs. (1995–2000)

Era Otonomi Daerah dan Pilkada Modern (2000–Sekarang)

  1. H. Soetrisno (2000–2005) – Memimpin pada awal era otonomi daerah.
  2. H. Sujono (H. Suyono) (2005–2010) – Bupati pertama di Pacitan yang terpilih secara langsung melalui mekanisme Pilkada (diusung oleh Partai Demokrat) berpasangan dengan Wakil Bupati Gepeng Soedibyo (HG. Soedibjo). Ia wafat sebelum masa jabatannya berakhir dan posisinya digantikan oleh wakilnya.
  3. Drs. H. Indartato, M.M. (2011–2021) – Memimpin selama dua periode berturut-turut hasil Pilkada langsung, yakni periode pertama (2011–2016) dan periode kedua (2016–2021).
  4. Indrata Nur Bayuaji, S.S. (2021–Sekarang) – Memimpin selama dua periode berturut-turut, yakni periode pertama (2021–2025) dan periode kedua (2025–2030). Secara urutan periodisasi masa jabatan (termasuk perhitungan periode terpisah dan masa transisi), Humas Pemkab Pacitan mencatatnya sebagai Bupati ke-33 Pacitan.

Daftar Penjabat Sementara (Pj / Plt / Plh) pada Masa Transisi

  1. Patih R. Prawirohadiwiryo (Pelaksana Harian: 1933–1937) – Mengisi kekosongan jabatan jangka panjang pada masa kolonial setelah berakhirnya masa jabatan R. Adipati Harjo Tjokronegoro I.
  2. HG. Soedibjo / Gepeng Soedibyo (Pelaksana Tugas / Pejabat: 2010–2011) – Menggantikan Bupati H. Sujono yang wafat sebelum masa baktinya berakhir, sekaligus memimpin masa transisi hingga pelantikan Bupati Indartato.
  3. Priyo Darmawan (Pejabat: 22 Februari 2016 – 4 April 2016) – Mengisi kekosongan singkat pada masa transisi pergantian periode pertama ke periode kedua Bupati Indartato.
  4. Heru Wiwoho Supardi Putra (Pelaksana Harian: 4 April 2021 – 26 April 2021) – Menjabat selama sekitar tiga pekan untuk mengisi jeda transisi sebelum Indrata Nur Bayuaji dilantik secara definitif.

No More Posts Available.

No more pages to load.