Pacitanku.com, ARJOSARI-Putra asal Gunungsari, Kecamatan Arjosari, Kabupaten Pacitan, Dr. Hasan Khalawi, secara mandiri mengikuti Persidangan Serantau Pandangan Alam dan Peradaban ke-2 yang digelar Adab International Network (AIN).
Kegiatan yang mempertemukan peserta dari Indonesia, Malaysia, dan Singapura tersebut berlangsung pada 4–6 September 2026 di 5G Resort, Bogor, Jawa Barat.
Forum ini mengusung tema “Pengislahan Umat Islam melalui Gagasan Ta’dib” dengan menghadirkan para murid dan cucu murid Allahyarham Prof. al-Attas.
Hasan menjelaskan, keikutsertaannya dalam forum tersebut didorong oleh panggilan hati dan keinginan untuk terus belajar serta berkontribusi dalam pengembangan keilmuan.
“Yang memotivasi saya mengikuti ini adalah nurani, panggilan jiwa. Untuk penghambaan, ibadah dengan Gusti Allah,” ungkap Hasan.
Menurutnya, forum AIN menjadi ruang pertemuan dan pembahasan keilmuan yang berkaitan dengan pemikiran Syed Muhammad Naquib al-Attas, khususnya mengenai Islamisasi ilmu dan gagasan ta’dib.
Hasan memaknai Islamisasi ilmu sebagai upaya mengembalikan perkembangan ilmu pengetahuan agar tetap selaras dengan nilai, fitrah, dan tujuan kemanusiaan.
Sementara ta’dib, menurutnya, berkaitan erat dengan pembentukan manusia yang beradab, baik dalam aspek jasmani maupun jiwa.

Selain mengikuti Persidangan Serantau AIN di Bogor, Hasan bersama keluarga juga menghadiri kegiatan yang digelar Yayasan Nur Semesta di Kota Tangerang bersama Ustaz Hasbi Sein.
Ia menyebut Yayasan Nur Semesta sebagai salah satu pusat kajian Risalah Nur di Indonesia.
Baginya, dua forum tersebut menjadi ruang untuk mempertemukan gagasan dan keilmuan yang sama-sama memiliki perhatian terhadap pembaruan pemikiran Islam.
“Dua kutub itu adalah mujadid, pembaru abad ini, dengan keilmuan yang kokoh,” katanya.
Hasan berharap pengalaman dan ilmu yang diperoleh dari rangkaian kegiatan tersebut tidak berhenti pada forum pertemuan.
Ia ingin terus bergerak dan memberikan makna di mana pun berada.
“Harapan setelah mengikuti, selalu bergerak. Karena bergerak itu berkah. Jadi kita harus selalu berarti, bermakna di mana pun tempatnya,” tuturnya.
Menariknya, selama berada di Bogor, Hasan juga merasakan pengalaman yang tidak biasa.
Ia mengaku sempat merasakan dampak batuk Gunung Krakatau yang menjadi salah satu pengalaman tersendiri selama perjalanan.
Di balik rangkaian pertemuan tersebut, Hasan juga melihat adanya sisi menarik tentang perjumpaan antarmanusia.
Menurutnya, pertemuan dalam forum tersebut terasa memiliki keterhubungan yang lebih dalam karena sebelumnya pernah terjadi perjumpaan dalam alam ruh dan keterikatan dalam perjalanan kehidupan.
Bagi Hasan, pengalaman tersebut semakin memperkuat keyakinannya bahwa perjalanan mencari ilmu bukan sekadar menghadiri sebuah acara, melainkan juga menjadi bagian dari proses untuk terus belajar, bergerak, dan memberi manfaat.








