Pacitanku.com, PACITAN — Kabupaten Pacitan terus mematangkan langkah untuk memperkuat ekosistem kebudayaan lokal agar sejajar dengan pesona kota-kota berbudaya maju.
Melalui Focus Group Discussion (FGD) di kampus STKIP PGRI Pacitan, Rabu (9/9/2026), elemen pemerintah, akademisi, hingga budayawan duduk bersama merumuskan identitas budaya khas yang diharap kelak melekat kuat di hati masyarakat.
Staf Ahli Bupati Bidang Pemerintahan, Hukum, dan Politik, Djoko Putro Utomo, menyampaikan harapan agar kebudayaan terus dikembangkan dan menjadi napas utama dalam sektor pariwisata daerah.
“Potensi situs dan budaya sangat kuat perlu dikembangkan. Indeks kebudayaan Pacitan naiknya positif. Mudah-mudahan dengan diskusi pemajuan budaya ini, kita dapat menyamai pengembangan budaya di Solo atau Jogja,” tuturnya.
Gerakan pelestarian ini diwadahi melalui program Inventarisasi dan Kajian Objek Pemajuan Kebudayaan, yang didukung penuh oleh pendanaan Dana Indonesiana dari Kementerian Kebudayaan RI bersama Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).
Penggerak program sekaligus akademisi STKIP PGRI Pacitan, Agoes Hendriyanto, menekankan bahwa pendataan kekayaan budaya harus memberi manfaat nyata bagi masyarakat luas.
“Kita perlu mendiseminasikan luaran, mendengarkan pengalaman masyarakat, sekaligus memperoleh tanggapan terhadap nilai dan manfaat hasil kajian ini bagi pelestarian budaya Pacitan,”jelas Agoes.

Bentuk nyata dari dedikasi tersebut kini telah berwujud karya edukatif, di antaranya buku Ensiklopedia Pacitan Misteri 4: Rekam Jejak Peradaban Dunia Pacitanian, publikasi ilmiah nasional, hingga dokumentasi budaya.
Gagasan pemajuan ini mendapat dukungan positif dari para pengamat budaya.
Suyadi, salah satu narasumber, mengingatkan bahwa Pacitan telah memiliki enam Warisan Budaya Takbenda Indonesia (WBTbI), termasuk seni Kethek Ogleng. Pengakuan ini seyogianya menjadi pijakan awal pelestarian yang lebih membumi.
“Yang sudah dicatat harus dikembangkan dan dilestarikan. Jangan sampai kita justru mengembangkan budaya daerah lain, sementara kekayaan budaya sendiri belum maksimal dikembangkan,” pesannya.
Upaya merajut identitas budaya khas Pacitan ini akan terus berlanjut dan dimatangkan pada FGD tahap kedua, November 2026.
Kolaborasi lintas sektor ini diharapkan mampu menghidupkan ekosistem kebudayaan yang terus diwariskan kepada generasi muda, bukan sekadar menjadi catatan sejarah.












