Kesaksian Warga Pacitan Hadapi Gempa NTT M 7,7: Mengungsi dari Pesisir, Plafon Kantor Bupati Rubuh

oleh -102 Dilihat
Kondisi plafon bagian depan Kantor Bupati Ende yang rubuh usai diguncang gempa bumi tektonik magnitudo 7,7 di Nusa Tenggara Timur (NTT).
Potret kerusakan plafon bagian depan Kantor Bupati Ende yang rubuh akibat guncangan dahsyat gempa bumi tektonik bermagnitudo 7,7 di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu (15/8/2026) pagi. (Foto: Dok. Istimewa)

Pacitanku.com, PACITAN – Gempa bumi tektonik bermagnitudo (M) 7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu (15/8/2026) pagi menyisakan trauma mendalam bagi Helmy Yusuf Efendi.

Helmy, sapaan akrabnya, adalah mantan aktivis mahasiswa yang juga perantau asal Pacitan, Jawa Timur di NTT. Dia terpaksa mengevakuasi keluarganya dari pesisir pantai karena guncangan dahsyat tersebut.

Helmy, yang bermukim tak jauh dari bibir pantai, mengaku langsung membawa keluarganya berlari ke tempat yang lebih tinggi guna menghindari ancaman gelombang pasang dan gempa susulan.

“Alhamdulillah, Mas, kami sekeluarga dalam keadaan selamat dan sehat. Saat ini masih posisi waspada karena ada gempa susulan. Mohon doanya, ya, Mas,”ungkap Helmy saat dikonfirmasi dari Pacitan melalui pesan singkat, Sabtu (15/8/2026) malam.

Ia menceritakan bahwa situasi di sekitar tempat tinggalnya sangat mencekam. Guncangan keras tidak hanya meratakan sejumlah rumah warga, tetapi juga merusak gedung-gedung pemerintahan yang krusial.

“Kalau tempat saya aman, Mas, alhamdulillah. Cuma beberapa tetangga ada yang roboh. (Kami mengungsi) ke rumah teman yang di daratan lebih tinggi, Mas, sebab saya tinggal di dekat pantai. Rumah rusak di antaranya Kantor Bupati Kabupaten Ende, gedung pemerintahan, dan rumah warga,”paparnya.

Sesuai dengan kesaksian Helmy, kerusakan parah memang menimpa pusat pemerintahan setempat. Dilaporkan bahwa plafon bagian depan Kantor Bupati Ende mengalami kerusakan parah dan rubuh seketika akibat guncangan gempa bumi tektonik bermagnitudo 7,7 tersebut.

Secara akumulatif, dampak kerusakan dan korban jiwa akibat gempa yang berpusat di perairan NTT pada pukul 04.58 WIB ini sangat masif.

Berdasarkan data sementara Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) hingga pukul 18.48 WIB, total korban meninggal dunia mencapai 47 orang.

Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, merinci bahwa korban tewas tersebar di Kabupaten Manggarai sebanyak 24 orang, Manggarai Timur 17 orang, Sikka 3 orang, serta masing-masing satu orang di Manggarai Barat, Ngada, dan Ende.

“Kaji cepat dampak gempa M 7,7 di wilayah Provinsi NTT masih terus dilakukan oleh petugas gabungan. Selain evakuasi korban tewas, petugas juga terus melakukan perawatan medis bagi korban luka-luka,” jelas Berton.

Data BNPB juga mencatat 157 unit rumah rusak berat, 41 rusak sedang, dan 148 rusak ringan. Kerusakan fasilitas umum mencakup 87 fasilitas pendidikan, 18 fasilitas kesehatan, 5 tempat ibadah, dan 6 kantor.

Merespons bencana berskala besar ini, BNPB langsung memobilisasi bantuan logistik dari gudang di Kabupaten Flores Timur.

Selain itu, pemerintah pusat juga memberangkatkan 50 ribu paket bantuan seberat 275 ton melalui Baseops TNI AU Halim Perdanakusuma, Jakarta. Saat ini, 10.500 paket bantuan yang bersumber dari Presiden Prabowo Subianto telah mendarat di lokasi terdampak.

Getaran gempa NTT ini turut dirasakan hingga Kabupaten dan Kota Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB), serta Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan, di mana BPBD setempat telah mendirikan tiga titik posko pengungsian di Kecamatan Pasirmarannu, Pasilambena, dan Takabonerate.

Video UPDATE GEMPA NTT: 38 Orang Meninggal Akibat Gempa M 7,7 Nagekeo NTT, Ribuan Warga Mengungsi

No More Posts Available.

No more pages to load.