Soroti Akses Geografis hingga Mindset Masyarakat, Kepala SRMA 23 Ungkap Tantangan dan Peluang Emas Pendidikan Pacitan

oleh -104 Dilihat
Kepala SRMA 23 Pacitan Nanang Adang Kusdinar saat menjadi narasumber podcast di studio Pacitanku TV.
BICARA PRESTASI: Kepala SRMA 23 Pacitan, Nanang Adang Kusdinar (baju putih, red), saat memaparkan transformasi mental juara siswa prasejahtera dalam siniar (podcast) Kertas Kosong di studio Pacitanku TV, Selasa (12/5/2026). (Foto: Tangkapan Layar YouTube/Pacitanku TV)

Pacitanku.com, PACITAN — Kepala Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 23 Pacitan, Nanang Adang Kusdinar, membeberkan tiga rintangan utama sekaligus potensi besar dunia pendidikan di Kabupaten Pacitan.

Menurut pria yang akrab disapa Nanang ini, akses geografis, kondisi sosial ekonomi, hingga pola pikir masyarakat pelosok masih menjadi tantangan nyata, namun hal tersebut dapat ditaklukkan oleh tingginya daya juang pelajar yang ulet demi memutus mata rantai kemiskinan.

Menurut Nanang, tantangan paling mendasar yang dihadapi pelajar Pacitan adalah sulitnya akses transportasi dan topografi wilayah.

Baca juga: Siswa Sekolah Rakyat 23 Pacitan Sabet Sederet Prestasi Nasional, Bukti Kemiskinan Bukan Penghalang

Banyak anak yang tinggal di kawasan pelosok pegunungan, seperti daerah Donorojo, harus berjuang keras dengan biaya transportasi dan waktu tempuh yang tinggi demi menjangkau sekolah layak di pusat kota.

Tantangan kedua adalah persoalan sosial ekonomi yang kerap membatasi pilihan akses sekolah anak-anak. Terakhir, rintangan ketiga yang dinilai cukup berat adalah pola pikir atau mindset dari sebagian orang tua di wilayah tersebut.

“Jadi tantangan di Pacitan itu adalah satu akses, yang kedua adalah sosial ekonomi masyarakat, yang ketiga adalah mindset masyarakat untuk menjalani pendidikan yang lebih baik,”kata Nanang, dikutip dari siniar Kertas Kosong Pacitanku TV edisi 59, Sabtu (16/5/2026) di Pacitan.

Mantan Kepala SMAN 1 Nawangan ini juga menambahkan bahwa ada sebagian golongan masyarakat yang masih menganggap pendidikan tidak terlalu penting.

Hal ini membuat anak-anak pasrah pada kondisi, sehingga memunculkan asumsi bahwa kemiskinan seolah diturunkan dari generasi ke generasi karena terbatasnya pendidikan.

Di balik berbagai kendala tersebut, Nanang melihat peluang dan potensi emas yang dimiliki oleh para pelajar di Pacitan, yakni mental tahan banting.

Pengalamannya mengajar di wilayah Tulakan hingga Nawangan membuktikan bahwa siswa memiliki motivasi kuat untuk maju.

“Kalau potensi ini luar biasa. Daya juangnya luar biasa, jadi keinginan untuk majunya ini luar biasa, tahan banting. Dan sudah terbukti, Presiden kita kan juga dari Pacitan dua periode, nah itu kadang sering saya jadikan motivasi untuk anak-anak bahwa Pacitan ini luar biasa,”ungkap Nanang.

Guna menjawab berbagai tantangan ini, kehadiran SRMA 23 Pacitan dinilai sebagai solusi jitu dari pemerintah pusat.

Sekolah asrama ini menampung siswa dari kelompok ekonomi sangat miskin (Desil 1) dan miskin (Desil 2) tanpa memandang seleksi kemampuan akademik awal anak.

Di sekolah ini, pemerintah menanggung 100 persen kebutuhan siswa mulai dari pendidikan, asrama, makan bergizi, puluhan seragam, fasilitas laptop, hingga layanan spesialis kesehatan tanpa dipungut biaya sepeser pun.

Peluang keberhasilan siswa juga dipastikan berlanjut pasca-kelulusan.

Pemerintah melalui kementerian terkait telah memetakan jalur masa depan para lulusan SRMA, baik melalui bantuan beasiswa untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, maupun pemberian pelatihan keterampilan bagi mereka yang ingin langsung memasuki dunia kerja.

Video

No More Posts Available.

No more pages to load.