Asadiktisi Tolak Wacana Sekolah Hibrid demi Efisiensi BBM: Jangan Korbankan Mutu Pendidikan Generasi Bangsa

oleh -106 Dilihat
Prof. Dr. Susanto Ketua Umum Asadiktisi memberikan keterangan terkait penolakan sekolah hibrid.
Ketua Umum PP Asadiktisi, Prof. Dr. Susanto, M.A., saat memberikan pandangan terkait dampak negatif sistem pembelajaran hibrid bagi perkembangan kognitif dan sosial siswa di Jakarta. (Foto: Dok. Pribadi)

Pacitanku.com, JAKARTA – Asosiasi Akademisi Pendidikan Tinggi Seluruh Indonesia (Asadiktisi) menolak keras wacana penerapan sistem sekolah hibrid sebagai alat efisiensi bahan bakar minyak (BBM) karena dinilai berisiko mengorbankan kualitas pendidikan dasar generasi bangsa.

Ketua Umum PP Asadiktisi, Prof. Dr. Susanto, M.A., menegaskan bahwa kebijakan efisiensi energi tidak semestinya menyasar sektor pendidikan yang bersifat fundamental.

Menurutnya, pola pembelajaran hibrid yang menggabungkan daring dan tatap muka justru berpotensi meningkatkan mobilitas secara tidak efisien dan tidak sejalan dengan semangat penghematan energi yang dicanangkan pemerintah.

“Mengingat mutu pendidikan itu adalah jantungnya masa depan bangsa dan negara. Jangan sampai kebijakan efisiensi BBM mengorbankan sesuatu yang fundamental bagi generasi,”kata Susanto pada Rabu (1/4/2026) di Jakarta.

Mantan Ketua KPAI tersebut menjelaskan, dari perspektif neurosains, interaksi langsung di kelas sangat krusial untuk aktivasi optimal fungsi otak siswa, mulai dari perhatian, emosi, hingga memori.

Pengalaman multisensori dalam kontak sosial terbukti memperkuat pemahaman dibandingkan pembelajaran berbasis layar.

“Pembelajaran berbasis layar dalam sistem hibrid berpotensi mengurangi kualitas stimulasi kognitif,”imbuh alumni Pondok Pesantren Al-Fattah Kikil Arjosari ini.

Selain aspek kognitif, Asadiktisi menyoroti dampak psikologis dan sosiologis. Kehadiran fisik guru dan teman sebaya penting untuk membangun ikatan emosional, motivasi, serta kepercayaan diri siswa. Sekolah juga merupakan ruang utama pembentukan karakter dan keterampilan sosial seperti kolaborasi dan penyelesaian konflik.

Dari sisi pedagogi, konsistensi metode sangat menentukan keberhasilan akademik. Model hibrid dianggap menghadirkan tantangan besar dalam pengelolaan kelas dan evaluasi, yang dapat memicu kesenjangan hasil belajar.

“Aspek kesehatan juga menjadi perhatian. Paparan layar yang berlebihan dapat memicu kelelahan visual, gangguan tidur, serta penurunan aktivitas fisik, yang akhirnya berdampak pada kesiapan belajar siswa,” pungkas Susanto.

No More Posts Available.

No more pages to load.