Arak Tumpeng Kupat ke-4 Desa Tamanasri Pringkuku Pacitan Berlangsung Meriah, Tradisi Idul Fitri Sarat Budaya

oleh -206 Dilihat
Suasana prosesi Arak Tumpeng Kupat Desa Tamanasri yang dipusatkan di Lapangan Glagah Ombo. (Foto: Dok. Panitia)

Pacitanku.com, PRINGKUKU-Tradisi Arak Tumpeng Kupat Desa Tamanasri kembali digelar meriah sebagai agenda tahunan yang kini memasuki tahun ke-4.

Arak Tumpeng Kupat merupakan suatu acara yang diselenggarakan Pemerintah Desa Tamanasri sebagai ungkapan rasa syukur terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan juga sebagai simbol kerukunan masyarakat.

Kegiatan yang menjadi bagian dari perayaan Idul Fitri ini berlangsung di Lapangan Glagah Ombo dan diikuti dengan antusias oleh masyarakat serta dihadiri berbagai unsur Forkopimda, Forkopimca, Pemdes, Karang Taruna Kabupaten Pacitan, dan Tokoh Kepemudaan lainya.

Rangkaian kegiatan diawali dengan berbagai penampilan dari sekolah dan dusun di Desa Tamanasri.

Pertunjukan drumband, tari tradisional, nyanyian, hingga pildacil turut memeriahkan suasana sekaligus menampilkan kreativitas generasi muda desa.

Selain itu, kesenian tradisional Slawatan Pawijian juga menjadi bagian penting dalam rangkaian acara.

Slawatan Pawijian merupakan kesenian musik tradisional yang hingga kini masih dilestarikan oleh masyarakat Desa Tamanasri.

Kesenian ini memiliki fungsi penting sebagai sarana ritual, dengan sajian yang mengikuti pola ritme, laras, dan syair yang khas serta sarat nilai spiritual, sehingga memperkuat nuansa religius dalam perayaan tersebut.

Memasuki waktu ba’da duhur, prosesi inti Arak Tumpeng Kupat pun dimulai.

Acara dibuka dengan penampilan Sedulur PSHT cilik dari salah satu MI yang mendapat sambutan meriah dari para penonton.

Puncak acara ditandai dengan prosesi arak-arakan tumpeng kupat yang dihias cantik menggunakan janur kelapa.

Arak-arakan dimulai dari Joglo Pemerintah Desa Tamanasri menuju Lapangan Glagah Ombo, diiringi panji-panji dari seluruh dusun sebagai simbol persatuan masyarakat.

Selanjutnya, prosesi dilanjutkan dengan umbul dungo, persembahan Tari Cahyo Pangleburan, serta penyerahan wayang janur dari Kepala Desa Tamanasri kepada dalang Sabdorasul sebagai bentuk pelestarian seni dan budaya lokal.

Kepala Desa Tamanasri, Sugiatun, menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi momen penting bagi masyarakat untuk mempererat kebersamaan.

“Di momen ini kita bisa bertemu bersilaturahmi, insyaallah berkah. Ketupat atau dalam bahasa Jawa kupat dapat diartikan ngaku lepat atau mengakui kesalahan. Merupakan simbol makanan tradisi yang biasanya dihadirkan pada saat perayaan hari raya Idul Fitri,” ujarnya.

Sementara itu, salah satu panitia, Vicho, mengungkapkan bahwa tradisi Arak Tumpeng Kupat di Tamanasri bukan sekadar acara tahunan, tetapi juga simbol rasa syukur dan kebersamaan warga.

“Melalui kegiatan ini, masyarakat tidak hanya merayakan tradisi, tetapi juga menjaga nilai gotong royong dan warisan budaya. Kami berharap tradisi ini terus lestari dan semakin dikenal luas,” jelasnya.

Dengan terselenggaranya Arak Tumpeng Kupat ke-4 ini, masyarakat Desa Tamanasri berharap nilai-nilai budaya, religiusitas, dan kebersamaan dapat terus terjaga serta diwariskan kepada generasi selanjutnya.

No More Posts Available.

No more pages to load.