Sepi Pengunjung, Pantai Taman Pacitan Tetap Setia Jadi Rumah Konservasi Penyu

oleh -174 Dilihat
Pemandangan pesisir Pantai Taman Pacitan yang sepi pengunjung di Desa Hadiwarno.
Suasana Pantai Taman di Desa Hadiwarno, Kecamatan Ngadirojo, Kabupaten Pacitan, yang tampak lengang. Minimnya penambahan fasilitas baru membuat tingkat kunjungan wisatawan ke destinasi bahari ini menurun drastis dalam tiga tahun terakhir. (Foto: Tika Mayastuti/Pacitanku)

Pacitanku.com, PACITAN – Destinasi wisata edukasi dan konservasi Pantai Taman di Desa Hadiwarno, Kecamatan Ngadirojo, Kabupaten Pacitan, kini berjuang bertahan di tengah penurunan tajam jumlah wisatawan.

Meski sepi pengunjung dan minim fasilitas baru sejak pandemi Covid-19, pengelola setempat tetap setia menjaga kelestarian habitat penyu demi edukasi generasi mendatang.

Penurunan jumlah kunjungan ini berdampak langsung pada operasional pengelola.

Selama tiga tahun terakhir, tercatat jumlah pengunjung hanya menyentuh angka 7.000 orang, membuat realisasi pendapatan tertahan di angka Rp85 juta dari target Rp95 juta.

Koordinator pengelola Pantai Taman, Condro atau yang akrab disapa Cokro, mengungkapkan bahwa kelesuan pariwisata ini tidak lepas dari kurangnya inovasi fasilitas di kawasan tersebut.

Ditambah lagi, wahana flying fox yang sempat menjadi ikon kebanggaan kini berhenti beroperasi akibat kendala manajemen internal dan tingginya biaya perawatan.

“Pengunjung itu yang dikeluhkan dari dulu sampai sekarang, pantai sini itu cuma gini-gini saja. Enggak ada penambahan apa, tempat yang sejuk atau taman buat anak-anak muda,”kata Cokro saat ditemui Pacitanku.com, baru-baru ini.

Di tengah keterbatasan finansial dan fasilitas, Cokro dan timnya enggan menyerah pada keadaan. Mereka tetap mempertahankan misi mulia Pantai Taman sebagai lokasi strategis pendaratan tiga jenis penyu langka di Indonesia, yakni penyu hijau, penyu kembang, dan penyu belimbing.

Penyu di dalam kolam penampungan edukasi konservasi Pantai Taman Pacitan
Salah satu penyu yang dirawat di kolam edukasi Pantai Taman, Pacitan. Untuk menyiasati tingginya biaya operasional pakan harian, pengelola saat ini hanya menyisakan dua ekor penyu di kolam penampungan sebagai sarana edukasi visual bagi wisatawan. (Foto: Tika Mayastuti/Pacitanku)

Untuk menyiasati tingginya biaya pakan harian, pengelola mengambil langkah adaptif dengan hanya menyisakan dua ekor penyu di kolam penampungan sebagai sarana edukasi visual bagi wisatawan. Sementara itu, kelestarian penyu lainnya tetap dijaga di alam bebas.

Pihak pengelola juga memastikan kenyamanan pengunjung dengan merawat fasilitas penunjang yang tersisa, seperti musala, dua titik toilet, dan kolam renang.

Harga tiket masuk pun sengaja dipertahankan sangat terjangkau tanpa ada kenaikan di hari libur, yakni Rp10.000 untuk dewasa dan Rp5.000 untuk anak-anak.

Ke depan, pengelola memendam harapan besar agar kawasan timur pantai yang masih luas dapat segera ditata dan dikembangkan.

Dengan semangat konservasi yang masih menyala, Pantai Taman menanti sentuhan revitalisasi agar dapat kembali bangkit menjadi primadona wisata bahari di wilayah selatan Pacitan.

No More Posts Available.

No more pages to load.