Pacitanku.com, TEGALOMBO – Menjelang datangnya bulan suci Ramadhan, warga Desa Kebondalem, Kecamatan Tegalombo, Kabupaten Pacitan, merawat tradisi megengan dan nyekar.
Kegiatan itu sebagai bentuk pembersihan jiwa dari amarah sekaligus pengingat mendalam akan hari kematian.
Tradisi turun-temurun ini bukan sekadar ritual menyambut bulan puasa, melainkan sebuah ruang bagi masyarakat desa untuk mempererat persaudaraan dan menundukkan ego duniawi.
Secara harfiah, megengan berakar dari kata dalam bahasa Jawa ‘megeng’ yang berarti menahan.
Salah satu warga Desa Kebondalem, Eni, menjelaskan bahwa tradisi ini menjadi pijakan awal bagi masyarakat untuk menyiapkan mental dan spiritual sebelum berpuasa.
“Megengan itu artinya menahan. Menahan hawa nafsu dan amarah sebelum memasuki bulan Ramadhan,” ujar Eni saat ditemui, Selasa (17/2/2026) di Kebondalem, Tegalombo Pacitan.
Nilai kebersamaan dalam megengan diwujudkan lewat cara yang sederhana namun sarat makna. Masyarakat secara sukarela memasak berbagai hidangan tradisional, lalu membagikannya kepada tetangga terdekat.

“Tradisi megengan itu dilakukan dengan saling menukar makanan dengan tetangga, seperti nasi yang disertai apem, ketan, dan kolak,”tambahnya.
Selain berbagi makanan, persiapan spiritual masyarakat juga dilengkapi dengan tradisi nyekar atau berziarah ke makam keluarga dan leluhur.
Di balik nisan, warga merenungkan kembali hakikat kehidupan yang fana. Momen ini menjadi teguran halus bahwa setiap manusia pada akhirnya akan berpulang.

Eni menegaskan, ziarah ini murni merupakan wujud penghormatan dan sarana refleksi diri bagi yang masih hidup, bukan bentuk penyimpangan keyakinan.
“Nyekar itu bukan berarti musyrik. Karena dengan berkunjung ke makam mengingatkan kita semua nantinya juga akan kembali ke sana,”kata Eni.
Di tengah arus modernisasi yang bergerak cepat, warga Desa Kebondalem menaruh harapan besar pada pundak generasi penerus. Tradisi sarat nilai kemanusiaan ini diharapkan tidak terkikis oleh zaman.
“Harapannya, tradisi megengan ini tetap dilestarikan. Anak-anak muda harus menguri-uri (merawat) kebudayaan Jawa agar tidak hilang dan tetap lestari,” pungkasnya.










