Sambut Hari Jadi Pacitan, Ratusan Warga Khidmat Ikuti Gelaran Budaya Laku Ndadari ke-13 di Sampang Arts Space

oleh -511 Dilihat
Suasana pementasan seni Laku Ndadari ke-13 di Sampang Arts Space Pacitan yang dihadiri ratusan penonton.
Menghidupkan kembali semangat kebersamaan di bawah cahaya "Purnama". Laku Ndadari ke-13 di Sampang Arts Space bukan sekadar pentas, tapi perjalanan hati merawat seni di Pacitan. (Foto: Okta Suci/Pacitanku)

Pacitanku.com, PRINGKUKU – Di bawah temaram lampu halaman Sampang Arts Space, Desa Pelem, Kecamatan Pringkuku, Sabtu (14/2/2026) malam, seratusan pasang mata khidmat menyaksikan Laku Ndadari ke-13.

Kegiatan seni budaya ini adalah sebuah ruang seni yang memberi panggung bagi ketulusan seniman muda untuk “bercahaya” sekaligus menyambut Hari Jadi ke-281 Kabupaten Pacitan.

Acara yang dimulai pukul 20.30 WIB ini menjadi bukti bahwa seni di Pacitan tidak hanya milik panggung besar, melainkan tumbuh dari ruang-ruang kebersamaan yang guyub.

Meski tidak tercatat dalam agenda resmi pemerintah daerah, momentum yang berdekatan dengan hari jadi kabupaten menjadi alasan kuat bagi para pelaku seni untuk ikut “berkeringat” merayakan identitas budayanya.

Founder Sampang Arts Space sekaligus penanggung jawab kegiatan, Anang Setiawan menegaskan bahwa esensi utama dari Laku Ndadari adalah menyediakan rumah bagi mereka yang masih dalam proses bertumbuh.

“Kami ingin memberi ruang bagi yang sedang belajar dan berkembang, bukan hanya yang sudah dikenal,”kata Anang.

Secara filosofis, Laku Ndadari diambil dari tradisi masyarakat desa tempo dulu yang memanfaatkan cahaya bulan purnama (ndadari) sebagai momen berkumpul.

Filosofi ini diterjemahkan menjadi sebuah perjalanan (laku) yang membawa manfaat bagi sesama.

Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, edisi ke-13 ini mengusung konsep kolaborasi lintas komunitas. Persiapan yang dilakukan tergolong singkat, yakni hanya sekitar satu pekan latihan, namun mampu menghadirkan pertunjukan yang menyentuh sisi humanis penonton.

Anang menambahkan bahwa tantangan terbesar saat ini bukanlah teknik pementasan, melainkan bagaimana menjaga agar seni tetap dicintai generasi muda. Baginya, panggung adalah ruang silaturahmi, bukan sekadar unjuk kebolehan.

“Dalam dunia seni itu saling mendukung. Laku Ndadari bukan hanya panggung pertunjukan, tetapi juga ruang silaturahmi. Seni tidaklah menakutkan dan pentas bukan semata soal teknik, melainkan juga ketulusan dan niat,”pungkasnya.

Hingga acara berakhir, suasana hangat terus menyelimuti lokasi.

Laku Ndadari ke-13 sukses menjadi “laku sing madhangi” (perjalanan yang menerangi), membuktikan bahwa keterbatasan ruang berekspresi bisa ditembus dengan semangat kolaborasi.

No More Posts Available.

No more pages to load.