Geliat UMKM di Balik Pementasan 281 Penari Kethek Ogleng

oleh -131 Dilihat
Pementasan 281 penari Kethek Ogleng SMAN 1 Nawangan di Monumen Sudirman tak hanya peringati Hari Jadi Pacitan, tapi jadi tumpuan rezeki pedagang kecil.
Bukan sekadar tarian, tapi juga harapan. 281 penari Kethek Ogleng "Binraja ing Kamulyan" meriahkan Hari Jadi ke-281 Pacitan di Nawangan. Di balik topeng dan gerak lincah, ada doa-doa pedagang kecil agar ekonomi terus berputar. (Foto: Intannvalentina Saputri/Pacitanku)

Pacitanku.com, NAWANGAN – Sebanyak 281 siswa SMAN 1 Nawangan menyuguhkan tari Kethek Ogleng bertajuk “Binraja ing Kamulyan” di pelataran Monumen Jenderal Sudirman, Desa Pakis Baru, Kecamatan Nawangan, Pacitan pada Kamis (12/2/2026) pagi.

Sebuah persembahan kolosal memperingati Hari Jadi ke-281 Kabupaten Pacitan yang sekaligus menjadi tumpuan harapan bagi para pedagang kecil di Nawangan.

Acara yang dihadiri Camat Nawangan, Sukarwan ini dimulai pukul 10.30 WIB. Angka 281 penari dipilih secara simbolis untuk menyelaraskan usia kabupaten.

Namun, di balik riuhnya tepukan penonton, pementasan ini adalah panggung bertahan hidup bagi warga seperti Ibu Hariyati, pedagang makanan yang menggantungkan omzetnya pada kerumunan massa.

“Iya, lebih ramai kalau ada acara,” ujar Hariyati singkat sembari melayani pembeli di sekitar lokasi monumen.

Bagi Hariyati dan rekan-rekannya, pementasan seni bukan sekadar pelestarian budaya, melainkan nafas ekonomi.

Sebanyak 281 siswa SMAN 1 Nawangan mengenakan kostum Kethek Ogleng putih duduk di lapangan rumput di depan Monumen Jenderal Soedirman di Pacitan, Jawa Timur. Mereka membentuk formasi di depan tangga hitam besar yang mengarah ke patung Jenderal Soedirman di puncak bukit.
Ratusan siswa SMA Negeri 1 Nawangan mementaskan Tari Kethek Ogleng secara kolosal di kawasan Monumen Jenderal Soedirman, Pacitan, Kamis (12/2/2026). Pagelaran budaya yang melibatkan 281 penari ini diselenggarakan untuk menyambut Hari Jadi Kabupaten Pacitan ke-281. (Foto: Ceisya Salsabilla Naqiya Calisa)

Ia berharap kegiatan serupa rutin digelar agar pelaku UMKM di kawasan sejarah tersebut tetap mendapatkan pembeli secara berkelanjutan.

Hal senada namun dengan nada lebih getir dirasakan Sartum.

Pedagang yang sudah sepuluh tahun setia menggelar lapak di kawasan Pakis Baru ini mengaku hasil penjualannya pada momentum kali ini belum sesuai ekspektasi.

“Mboten ramai, nggih sakniki ngeten niki (Tidak ramai, ya sekarang seperti ini),” keluh Sartum dalam bahasa Jawa yang lugas.

Meski telah bersiap sejak pukul 10.00 WIB, ia berharap penonton bisa lebih membeludak agar dagangannya lancar terserap.

No More Posts Available.

No more pages to load.