Pacitanku.com, PACITAN — Pagi masih terasa sejuk ketika rombongan Pemerintah Desa Sukoharjo, Kecamatan Pacitan bersiap di halaman balai desa.
Pada Jumat (13/2/2026), tepat pukul 08.00 WIB, deretan bendhi atau dokar kuda tampak berjajar rapi , bersiap mengantarkan para peserta menuju sebuah perjalanan yang bukan sekadar tradisi tahunan.
Perjalanan ini adalah bentuk penghormatan mendalam terhadap jejak sejarah panjang berdirinya Kabupaten Pacitan yang kini genap berusia 281 tahun.
Ziarah ke Makam Tumenggung Notopuro kembali digelar sebagai agenda warisan leluhur yang terus dijaga kelestariannya.

Acara yang bertepatan dengan momen perayaan hari jadi kabupaten ini diikuti secara khidmat oleh kepala desa, pamong, serta jajaran perangkat Desa Sukoharjo.
Sebelum iring-iringan kuda melangkah menuju lokasi makam, rombongan terlebih dahulu singgah untuk mengambil air dari Sumur Njero yang berada di kawasan petilasan Desa Sukoharjo.
Air bersejarah tersebut kemudian dimasukkan ke dalam wadah kendi sebagai simbol kesucian sekaligus medium penghormatan dalam prosesi ziarah.
Setibanya di kompleks makam yang terletak di Dusun Karang, Desa Kembang, Kecamatan Pacitan, rombongan peziarah langsung disambut hangat oleh perwakilan aparat desa setempat.
Suasana hening dan sakral seketika menyelimuti area pemakaman saat untaian doa bersama mulai dipanjatkan.
Puncak prosesi ditandai dengan momen ketika Kepala Desa Sukoharjo menyiramkan air suci dari kendi ke atas pusara Tumenggung Notopuro, yang kemudian disusul dengan tradisi tabur bunga oleh seluruh peserta ziarah.

Kepala Desa Sukoharjo, Solichin, memaparkan bahwa kegiatan ziarah ini memiliki makna filosofis dan historis yang sangat mendalam bagi urat nadi kehidupan masyarakat desa.
“Ritual ini sangat sakral bagi kami sebagai generasi penerus yang melanjutkan tradisi sekaligus menjaga kelestarian budaya. Melalui ziarah makam tersebut, kami senantiasa memberikan penghormatan kepada Tumenggung Notopuro,”kata Solichin.
Berdasarkan catatan sejarah yang diyakini turun-temurun oleh masyarakat setempat, Tumenggung Notopuro merupakan figur pemimpin pertama sekaligus pencetus berdirinya wilayah yang kini dikenal sebagai Kabupaten Pacitan.
Desa Sukoharjo sendiri, yang pada masa lampau bernama Padukuhan Ngerjoso, memegang peranan vital sebagai lokasi cikal bakal pemerintahan kabupaten.
Baca juga: Rawat Ingatan Sejarah, Pemkab Pacitan Gelar Ziarah Makam Tokoh Pendiri di Momen Hari Jadi ke-281
Hal ini dibuktikan dengan keberadaan petilasan bupati pertama di Dusun Ngerjoso, yang ditandai dengan situs Sumur Njero serta Ompak Papat sebagai fondasi awal berdirinya pusat pemerintahan Pacitan.
Bagi warga setempat, tradisi ziarah yang telah diwariskan sejak era kepemimpinan Raden Tumenggung Notopuro ini bukan sekadar ritual kebudayaan semata. Kegiatan nyekar telah melebur menjadi identitas desa dan sarat akan nilai-nilai keagamaan.
“Sebagai bangsa yang beragama dan berbudaya, tradisi ziarah sangat dianjurkan dan harus dilestarikan. Ini bentuk penghormatan kepada para pendahulu sekaligus memanjatkan doa untuk keberlangsungan kehidupan generasi berikutnya,”tambahnya.
Menyadari besarnya nilai historis yang diwariskan, Pemerintah Desa Sukoharjo menempatkan pelestarian situs makam dan tradisi ini sebagai program prioritas.
Baca juga: Ini Jadwal Lengkap Hari Jadi Pacitan ke-281, Full Semarak Budaya
Keberadaan peninggalan tersebut tidak hanya menjadi kebanggaan, tetapi juga aset sejarah dan potensi budaya yang tak ternilai harganya bagi desa.
“Kami memprioritaskan pemeliharaan sarana prasarana maupun tradisi kebudayaannya. Insya Allah akan selalu terjaga kelestariannya,”pungkas Solichin.
Video Kenapa Pacitan Masuk Jawa Timur? Padahal Kulturnya Jawa Tengah Banget!











