Akhir Penantian Karmin, Warga Pacitan yang Puluhan Tahun Dipasung Kini Dievakuasi Ipda Purnomo untuk Rehabilitasi

oleh -643 Dilihat
MENUJU KESEMBUHAN. Tim Yayasan Berkah Bersinar Abadi bersama anggota Polres Pacitan saat mengevakuasi Karmin (60) dari kediamannya di Desa Petungsinarang, Kecamatan Bandar, Rabu (14/1/2026). Setelah puluhan tahun dipasung, Karmin akan menjalani rehabilitasi intensif di Lamongan. (Foto: Sulthan Shalahuddin/Pacitanku)

Pacitanku.com, BANDAR — Penderitaan panjang Karmin, pria paruh baya berusia 60 tahun asal Dusun Ketro, Desa Petungsinarang, Kecamatan Bandar, Kabupaten Pacitan, akhirnya menemui titik terang setelah puluhan tahun hidup terkurung dalam bilik sempit akibat pemasungan.

Pada Rabu (14/1/2026), Karmin bersama empat warga Pacitan lainnya yang mengalami gangguan kejiwaan dievakuasi oleh tim gabungan untuk mendapatkan perawatan medis dan rehabilitasi yang layak di Lamongan.

Proses evakuasi yang dipimpin langsung oleh IPDA Purnomo dari Yayasan Berkah Bersinar Abadi bersama jajaran Polres Pacitan berlangsung haru.

Langkah ini menjadi wujud nyata kehadiran negara dan kepedulian kemanusiaan terhadap warga yang selama ini terpinggirkan akibat masalah kesehatan mental.

Total terdapat lima orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) yang dibawa dalam misi kemanusiaan kali ini untuk menjalani pemulihan intensif yang memadukan pendekatan medis dan spiritual.

Adik kandung Karmin, Sukirno, menuturkan kisah pilu kakaknya yang mulai menunjukkan gejala gangguan kejiwaan sejak tahun 1984, tidak lama setelah pulang merantau dari Pekalongan.

Pihak keluarga sebenarnya tidak tinggal diam dan telah berupaya maksimal mencari kesembuhan, mulai dari pengobatan medis di rumah sakit hingga ke Solo, namun kondisi Karmin tak kunjung membaik.

Perilaku Karmin yang kerap mengamuk dan berpotensi membahayakan keselamatan warga sekitar memaksa keluarga mengambil keputusan berat untuk melakukan pemasungan demi keamanan bersama.

“Sudah kami bawa berobat ke rumah sakit, bolak-balik sampai ke Solo, tapi belum ada perubahan. Kami terpaksa memasung karena takut kalau terjadi apa-apa, keluarga juga tidak berani mengambil risiko,”kata Sukirno dengan nada lirih.

Menanggapi kondisi tersebut, IPDA Purnomo menegaskan bahwa tindakan pemasungan harus dihentikan dan diganti dengan layanan kesehatan yang memanusiakan manusia.

Polisi yang dikenal aktif dalam kegiatan sosial ini menjelaskan bahwa kelima pasien akan menjalani perawatan terpadu yang melibatkan dokter jiwa dan terapi pendukung lainnya.

Masa pemulihan diperkirakan memakan waktu satu hingga dua bulan, terutama bagi pasien dengan riwayat pemasungan lama seperti Karmin yang membutuhkan penanganan lebih intensif.

“Total ada lima orang yang kami evakuasi hari ini. Kami mohon doa dari seluruh masyarakat Pacitan agar saudara-saudara kita ini bisa sembuh dan kembali hidup normal. Yang paling penting adalah bagaimana mereka diperlakukan secara manusiawi, tidak boleh lagi ada perantaian atau pemasungan,”tegas Purnomo.

Dukungan penuh juga datang dari Kapolres Pacitan, AKBP Ayub Diponegoro Azhar, yang memastikan keberlanjutan penanganan pasien pascarehabilitasi.

Pihak kepolisian berkomitmen untuk terus menyisir dan membantu warga Pacitan lainnya yang masih membutuhkan pertolongan serupa. Kapolres berjanji akan mengembalikan para pasien ke tengah kehangatan keluarga masing-masing setelah tim medis menyatakan kondisi mereka stabil dan sehat secara kejiwaan.

“Setelah kondisinya membaik, mereka akan kami kembalikan ke keluarga. Ke depan, kami juga akan melanjutkan evakuasi ODGJ lain di Pacitan yang masih membutuhkan penanganan,”pungkas Kapolres.

No More Posts Available.

No more pages to load.