Pacitanku.com, PACITAN — Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) STKIP PGRI Pacitan kembali menegaskan komitmennya dalam pelestarian budaya lokal melalui penyelenggaraan kegiatan Panembromo pada tahun 2026 ini.
Agenda tahunan yang melibatkan ratusan mahasiswa tersebut tidak hanya dimaknai sebagai kewajiban pemenuhan tugas mata kuliah Bahasa Jawa semata, melainkan menjadi wadah strategis untuk menanamkan kecintaan generasi muda terhadap nilai-nilai luhur budaya Jawa di tengah arus modernisasi.
Pada gelaran yang digelar Kamis (8/1/2026) ini, Panembromo mengusung tema “Ngleluri Budaya Jawi” yang diikuti oleh sekitar 173 mahasiswa PGSD STKIP PGRI Pacitan, khususnya dari semester tiga.
Tema tersebut dipilih sebagai ajakan persuasif bagi para mahasiswa untuk menelusuri, menghayati, dan menghidupkan kembali roh kebudayaan Jawa.
Puncak kegiatan diisi dengan pertunjukan karawitan dari masing-masing kelas, di mana para peserta memadukan harmonisasi suara dalam bernyanyi bersama iringan musik gamelan tradisional yang menuntut kekompakan dan rasa kebersamaan tinggi.
Siti Rahayu, salah satu mahasiswa semester tiga PGSD yang terlibat dalam kegiatan ini, mengungkapkan bahwa Panembromo menjadi sarana efektif bagi mahasiswa untuk tidak hanya memahami budaya secara teoritis di ruang kelas, tetapi juga mempraktikkannya secara langsung.
Menurutnya, kegiatan ini penting untuk melatih mahasiswa agar lebih mengenal dan menjadikan budaya Jawa sebagai bagian tak terpisahkan dari identitas sehari-hari mereka.
“Selain sebagai bentuk pemenuhan tugas mata kuliah Bahasa Jawa, kegiatan ini bertujuan untuk menumbuhkan rasa cinta terhadap budaya lokal serta melatih mahasiswa agar lebih mengenal, memahami, dan melestarikan budaya Jawa dalam kehidupan sehari-hari,”kata Siti Rahayu di sela-sela kegiatan.
Meskipun catatan sejarah pasti mengenai awal mula penyelenggaraan Panembromo belum diketahui secara detail, Siti menyebutkan bahwa kegiatan ini telah berjalan secara konsisten setidaknya dalam dua tahun terakhir.
Ia juga menyoroti adanya sedikit perbedaan teknis dalam pelaksanaan tahun ini dibandingkan tahun sebelumnya, terutama berkaitan dengan apresiasi kompetisi.
“Saya tidak mengetahui secara pasti sejak tahun berapa Panembromo pertama kali diadakan, tetapi berdasarkan informasi yang ada, kegiatan ini telah berjalan selama dua tahun berturut-turut. Pada tahun sebelumnya terdapat pemberian penghargaan di setiap kelas, sedangkan pada tahun ini tidak diselenggarakan pemberian penghargaan,”paparnya.
Kemeriahan acara tidak hanya berhenti pada panggung seni budaya. Kegiatan Panembromo tahun ini juga disemarakkan dengan bazar kewirausahaan yang diinisiasi oleh mahasiswa PGSD semester satu.
Kolaborasi antara seni dan kewirausahaan ini diharapkan mampu mencetak calon pendidik yang tidak hanya berbudaya, tetapi juga memiliki jiwa kemandirian ekonomi yang kuat untuk bekal masa depan.












