Lahir dari Keheningan Pandemi, Batik Prabowo Canthing Pace Kini Jadi Denyut Nadi Budaya Pacitan

oleh -213 Dilihat
IDENTITAS DAERAH. Pengelola Batik Prabowo Canthing Pace, Bu Yayuk, menunjukkan salah satu kain batik bermotif buah mengkudu atau pace. Ia mengajak generasi muda untuk bangga mengenakan batik lokal sebagai wujud nyata pelestarian budaya bangsa. (Foto: Tim jurnalis magang Pacitanku)

Pacitanku.com, PACITAN — Pandemi Covid-19 beberapa tahun silam sempat mematikan denyut aktivitas sebagian besar masyarakat dan menyisakan kebingungan di balik pintu-pintu rumah yang tertutup rapat, namun di sebuah sudut Kabupaten Pacitan masa sunyi itu justru menjadi titik mula lahirnya sebuah karya seni yang kini melegenda.

Adalah Yayuk, sosok perempuan tangguh pengelola Batik Prabowo Canthing Pace yang berhasil mengubah krisis akibat pembatasan sosial menjadi peluang pelestarian budaya yang bernilai tinggi.

Perempuan yang akrab disapa Bu Yayuk ini menuturkan bahwa perjalanannya menekuni dunia wastra bermula dari ketidaksengajaan saat kebijakan lockdown membuat segala aktivitas warga terhenti total.

Rasa jenuh akibat hilangnya rutinitas harian memaksanya mencari kesibukan baru di dalam rumah hingga akhirnya ia menemukan ketenangan dalam aroma malam dan canting berkat bimbingan sang suami yang kebetulan berprofesi sebagai guru pembatik.

“Waktu itu saya bingung mau ngapain karena semua serba dibatasi. Kebetulan suami saya seorang guru pembatik, dari situ saya belajar,”kata Yayuk, baru-baru ini.

Bagi Yayuk, selembar kain batik bukanlah sekadar benda mati bermotif melainkan sebuah seni yang bernyawa.

Melalui tarian canting dan goresan malam panas di atas kain primis, ia melahirkan berbagai desain otentik salah satunya motif khas Canthing Pace yang menonjolkan keindahan anatomi daun dan buah pace atau mengkudu.

Pemilihan buah pace sebagai motif utama bukan tanpa alasan karena tanaman ini memiliki ikatan sejarah yang sangat kuat dengan identitas Kabupaten Pacitan.

Dalam narasi sejarah dan cerita lisan yang berkembang di masyarakat, wilayah ini kerap dikaitkan dengan istilah “Pace sisih wetan” yang menggambarkan daerah timur yang kaya akan buah pace.

Buah yang memiliki rasa pahit namun berkhasiat ini dipercaya pernah memberi kekuatan bagi tokoh pendiri Pacitan di masa lampau sehingga pace kini dimaknai sebagai simbol ketulusan, kekuatan, dan semangat gotong royong yang menjadi karakter dasar warga setempat.

“Batik Pace menjadi simbol Pacitan karena motifnya berasal dari legenda dan sejarah asal-usul nama Pacitan,”imbuh Yayuk.

Meskipun motif pace telah lama dikenal sebagai identitas daerah, Yayuk mengaku mulai memberikan sentuhan personal dalam setiap desain dan pengembangannya sejak ia terjun langsung membesarkan Batik Prabowo Canthing Pace.

Kini, melalui rumah produksinya di Lingkungan Barehan, Kelurahan Sidoharjo, ia membawa misi besar agar generasi muda tidak lagi memandang batik hanya sebagai simbol formalitas belaka melainkan sebagai identitas kebanggaan yang harus dipakai dan dijaga.

Ia berharap anak-anak muda Pacitan tergerak untuk ikut melestarikan warisan leluhur ini dengan cara yang paling sederhana yakni bangga mengenakan batik khas daerahnya sendiri dalam keseharian.

Dari rumah produksi sederhana yang berawal dari keisengan mengisi waktu luang, Batik Prabowo Canthing Pace telah membuktikan bahwa keterbatasan situasi justru mampu melahirkan kreativitas tanpa batas yang menjaga budaya tetap hidup.

“Dengan memakai Batik Prabowo Canthing Pace, itu sudah menjadi bentuk pelestarian budaya kita, budaya Indonesia,”pungkasnya.

No More Posts Available.

No more pages to load.