Pacitanku.com, PACITAN — Eksistensi nasi tiwul sebagai identitas kuliner tradisional Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, terbukti tetap kokoh dan diminati masyarakat di tengah gempuran variasi makanan modern.
Hidangan sederhana berbahan dasar singkong kering atau gaplek ini justru kian populer dan menjadi buruan utama, baik bagi warga lokal maupun wisatawan yang ingin bernostalgia dengan cita rasa ndeso yang otentik.
Geliat pelestarian kuliner warisan nenek moyang ini terlihat jelas dari aktivitas di sejumlah warung makan tradisional di kawasan Desa Gawang, Kecamatan Kebonagung.
Berdasarkan pantauan di lokasi, warung tersebut tampak ramai dipadati pengunjung, terutama saat memasuki akhir pekan dan musim liburan.
Para penikmat kuliner rela antre demi sepiring nasi tiwul hangat yang disajikan dengan paduan lauk sederhana namun menggugah selera, seperti ikan asin, sayur lodeh, sambal terasi, hingga urap sayur.
Salah satu pemilik warung nasi tiwul, Anik, mengakui bahwa permintaan terhadap menu tradisional ini cenderung stabil bahkan meningkat dalam beberapa tahun terakhir.
Perempuan berusia 51 tahun tersebut menuturkan bahwa pelanggannya kini tidak hanya didominasi oleh warga sekitar, melainkan juga wisatawan luar daerah yang sengaja datang untuk mencicipi keunikan rasa yang ditawarkan.
“Banyak yang penasaran ingin mencoba makanan khas Pacitan. Kalau akhir pekan bisa habis sebelum siang,”kata Anik, Rabu (7/1/2025).
Fenomena ini menandai pergeseran makna nasi tiwul dalam kehidupan sosial masyarakat Pacitan.
Jika dahulu sajian ini dikenal sebagai makanan pokok pengganti beras di masa sulit, kini tiwul telah bertransformasi menjadi komoditas kuliner yang memiliki nilai budaya dan sejarah tinggi.
Cita rasanya yang khas dengan tekstur yang unik menjadi daya tarik tersendiri yang sulit ditemukan pada nasi beras biasa.
Nevril, salah seorang penikmat kuliner lokal yang ditemui di lokasi, mengungkapkan kepuasannya setiap kali menyantap hidangan tersebut.
Menurutnya, perpaduan nasi tiwul dengan lauk pauk tradisional menciptakan sensasi rasa yang membuatnya tidak pernah bosan untuk terus menikmatinya.
“Rasanya enak dan unik. Hampir setiap hari saya memakannya,” ungkap Nevril.
Keberadaan warung-warung tradisional yang konsisten menyajikan menu ini dinilai memegang peranan vital dalam melestarikan kekayaan pangan daerah.
Di tengah perubahan pola konsumsi masyarakat yang dinamis, nasi tiwul berhasil mempertahankan posisinya sebagai ikon kuliner Pacitan yang tidak hanya mengenyangkan, tetapi juga merawat ingatan tentang sejarah dan kearifan lokal.











