Pacitanku.com, NGADIROJO — Kawasan sumber mata air Kapyuran yang menaungi Grojogan Wonopolo di Kecamatan Ngadirojo, Kabupaten Pacitan, hingga kini masih memegang peran vital sebagai nadi kehidupan bagi masyarakat sekitar.
Keberadaan mata air alami yang memancarkan kesegaran dari celah bebatuan ini tidak hanya dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan air bersih sehari-hari, tetapi juga menjadi oase wisata gratis yang menawarkan ketenangan di tengah hiruk-pikuk aktivitas warga.
Berdasarkan pantauan di lokasi pada Sabtu (27/12/2025), debit air di kawasan ini tetap mengalir jernih dan stabil, sebuah fenomena alam yang disyukuri warga karena mata air ini dikenal tidak pernah mengalami kekeringan meskipun musim kemarau panjang melanda.
Air yang melimpah dari Grojogan Wonopolo dimanfaatkan secara maksimal oleh penduduk untuk berbagai keperluan, mulai dari memasak, mandi, hingga mengairi lahan pertanian kecil di sekitar permukiman.
Selain fungsi utamanya sebagai sumber penghidupan, aliran air yang jatuh membentuk kolam dangkal menjadi daya tarik tersendiri bagi anak-anak dan remaja untuk bermain air, terutama saat sore hari.
Suasana yang asri tanpa adanya bangunan beton komersial membuat lokasi ini menjadi pilihan favorit warga lokal, seperti Rizki (14), pengunjung asal Desa Pagerejo yang mengaku betah berlama-lama karena keasrian tempat tersebut.
Rizki menilai bahwa Grojogan Wonopolo memberikan kenyamanan tersendiri karena kondisinya yang masih sangat alami dan belum tersentuh pembangunan masif.
Menurutnya, kejernihan air dan suasana tenang yang ditawarkan menjadi alasan utama tempat ini layak dikunjungi untuk sekadar melepas penat.
Senada dengan Rizki, Faiz (13) yang juga berasal dari Desa Pagerejo menambahkan bahwa minimnya fasilitas modern justru tidak mengurangi pesona kawasan tersebut, melainkan menjadi nilai tambah karena lingkungan menjadi lebih bersih dan tidak terlalu bising oleh keramaian wisatawan massal.
Hingga saat ini, pengunjung yang datang untuk menikmati kesejukan Grojogan Wonopolo tidak dikenakan biaya masuk sepeser pun.
Ketiadaan warung permanen atau infrastruktur buatan manusia justru memperkuat identitasnya sebagai wisata berbasis alam yang lestari.
Meski demikian, para pengunjung tetap diimbau untuk selalu waspada terhadap debit air yang bisa berubah sewaktu-waktu dan senantiasa menjaga kebersihan lingkungan agar kelestarian mata air yang juga memiliki nilai sejarah dan budaya bagi masyarakat Ngadirojo ini tetap terjaga untuk generasi mendatang.












