Pacitanku.com, PACITAN — Lonjakan harga suku cadang motor impor yang mencapai angka 30 persen dalam dua bulan terakhir membuat resah sejumlah pemilik bengkel di Kabupaten Pacitan.
Fenomena kenaikan harga yang tak terkendali ini memaksa para pelaku usaha mikro di sektor jasa otomotif tersebut memutar otak menerapkan strategi pelayanan ekstra demi menjaga loyalitas pelanggan agar tidak berpaling di tengah lesunya daya beli masyarakat saat ini.
Gejolak harga di tingkat pengecer ini dipicu oleh fluktuasi nilai tukar rupiah serta membengkaknya biaya logistik global yang berdampak langsung pada komponen vital kendaraan.
Suku cadang kategori fast-moving seperti kampas rem, filter udara, hingga komponen mesin seperti piston dan ring kini mengalami kenaikan harga berkisar antara 15 hingga 30 persen dari harga normal, sebuah angka yang cukup memberatkan bagi konsumen di daerah.
Supinardi, pemilik Bengkel Dani Motor yang berlokasi di Jalan RM Suryo, Temon, Ploso, Kecamatan Pacitan, mengungkapkan bahwa perubahan harga modal terjadi hampir setiap pekan sehingga membuatnya kesulitan menetapkan tarif jual.
Pria berusia 56 tahun ini menuturkan bahwa kenaikan paling signifikan terasa pada barang-barang impor merek ternama, khususnya pada komponen rantai atau gear set yang banyak dicari konsumen.

“Barang impor seperti rantai atau gear set merek ternama kenaikannya terasa sekali. Awalnya kami coba bertahan dengan harga lama, tapi modal untuk stok berikutnya tidak cukup jika harga jual tidak ikut naik,”kata Supinardi saat ditemui di bengkelnya, Sabtu (27/12/2025).
Kondisi pasar yang tidak menentu ini menempatkan Supinardi dan rekan seprofesinya dalam posisi dilematis karena menaikkan harga terlalu tinggi berisiko membuat pelanggan lari, sementara menahan harga lama akan menggerus margin keuntungan hingga titik terendah.
Guna menyiasati hal tersebut, ia mulai menawarkan opsi rasional kepada pelanggan berupa penggunaan suku cadang lokal berkualitas atau suku cadang orisinal bekas layak pakai sebagai alternatif solusi bagi mereka yang memiliki anggaran terbatas.
Supinardi menekankan bahwa kunci bertahan di situasi sulit ini adalah komunikasi terbuka dengan konsumen.
Ia selalu memberikan penjelasan logis mengenai penyebab kenaikan harga sebelum menawarkan pilihan produk, apakah pelanggan tetap menginginkan barang impor orisinal dengan harga baru atau beralih ke merek lokal yang lebih terjangkau namun kualitasnya sudah teruji.
Menurutnya, pendekatan edukasi dan transparansi ini justru membuat pelanggan lebih menghargai kejujuran bengkel dan tetap setia melakukan perawatan kendaraan di tempatnya.
Tak hanya menawarkan alternatif suku cadang, strategi lain yang diterapkan adalah inovasi layanan berupa paket servis hemat yang memberikan potongan biaya jasa jika pelanggan membeli oli dan onderdil secara bersamaan, serta layanan tambahan seperti pembersihan motor gratis.
Supinardi berharap pemerintah maupun distributor besar dapat segera melakukan intervensi untuk menstabilkan harga rantai pasok agar inflasi di sektor jasa transportasi ini tidak semakin membebani masyarakat kecil di Pacitan.












