Tepis Gengsi Bertani, Petani Gen Z Pacitan ini Buktikan Budidaya Pepaya California Jadi Ladang Cuan Menjanjikan

oleh -215 Dilihat
PANEN TIAP HARI. Budi Kusuma (22), petani milenial asal Desa Nanggungan, Pacitan, saat memanen pepaya California di kebunnya, Selasa (23/12/2025). Mengembangkan lebih dari 1.000 pohon, ia mampu menghasilkan 2 kuintal buah per hari untuk memasok kebutuhan pasar lokal. (Foto: Fani Rahul/Pacitanku)

Pacitanku.com, PACITAN – Sektor pertanian kembali membuktikan diri sebagai ladang bisnis yang menjanjikan bagi generasi muda yang jeli melihat peluang.

Hal ini dibuktikan oleh Budi Kusuma (22), seorang petani milenial asal Desa Nanggungan, Kecamatan Pacitan, Kabupaten Pacitan, yang sukses mengembangkan budidaya pepaya California hingga mencapai populasi lebih dari 1.000 pohon.

Ketekunan yang dirintisnya selama dua tahun terakhir kini membuahkan hasil manis dengan panen rutin yang mencapai dua kuintal setiap harinya.

Perjalanan sukses Budi tidak didapat secara instan, melainkan dimulai dari skala kecil dengan bermodalkan keberanian dan riset pasar sederhana.

Baca juga: Belajar Otodidak dari Internet, Petani Gen Z Pacitan Sukses Tembus Pasar Luar Jawa Lewat Jamur Kuping

Pada awal merintis usahanya, pemuda ini hanya menanam sekitar 10 pohon di lahan yang terbatas.

LADANG BISNIS. Budi Kusuma menunjukkan kualitas pepaya California hasil budidayanya yang dihargai Rp6.000 per kilogram. Bermula dari 10 pohon, pemuda ini membuktikan pertanian bisa menjadi sumber penghasilan menjanjikan dengan manajemen yang profesional. (Foto: Fani Rahul)

Namun, seiring berjalannya waktu dan melihat respons pasar yang sangat positif, ia memutuskan untuk memperluas area tanamnya secara bertahap hingga menjadi ribuan pohon seperti saat ini.

“Awal mula saya menanam pohon pepaya itu karena di pasar melihat buah pepaya itu banyak peminatnya dan saya coba dulu tanam sepuluh pohon. Setelah panennya bagus dan peminatnya banyak, saya memberanikan diri untuk menambah jumlah tanaman,”kata Budi saat ditemui di kebunnya, Selasa (23/12/2025).

Pilihan Budi jatuh pada varietas pepaya California bukan tanpa alasan, sebab jenis ini dinilai memiliki pangsa pasar yang luas serta perawatan yang relatif mudah bagi pemula.

Keunggulan lain yang menjadi pertimbangan utamanya adalah masa panen yang cepat dan bersifat berkelanjutan atau tidak mengenal musim.

Menurutnya, pepaya California bisa dipanen terus menerus setiap hari sehingga arus pemasukan keuangan menjadi lebih stabil dibandingkan dengan komoditas pertanian musiman lainnya.

Produktivitas kebun yang dikelola Budi kini terbilang sangat produktif dengan hasil panen rata-rata mencapai 200 kilogram per hari.

Seluruh hasil panen tersebut didistribusikan ke Pasar Minulyo Pacitan dengan harga jual Rp6.000 per kilogram.

Menariknya, selain memasok ke pasar induk tradisional, banyak pedagang buah pinggir jalan yang datang langsung ke kebun untuk mengambil stok, sehingga Budi dapat memangkas biaya distribusi dan mempercepat perputaran hasil panen.

“Biasanya pedagang datang sendiri ke kebun, jadi saya tidak perlu repot mengantar semua ke pasar. Kalau pembeli datang langsung ke kebun, saya lebih hemat ongkos dan buah juga langsung terjual,”jelasnya.

Keberhasilan Budi ini seolah mematahkan stigma bahwa profesi petani kurang menjanjikan bagi anak muda.

Ia justru membuktikan bahwa jika dikelola dengan manajemen yang serius dan profesional, pertanian bisa menjadi sumber penghasilan utama yang sangat menguntungkan.

Budi pun berencana untuk terus menambah populasi tanaman pepaya California di lahannya dengan target produksi yang lebih besar agar mampu menembus pasar luar kota.

“Kalau dikelola dengan serius, pertanian itu bisa jadi sumber penghasilan yang menjanjikan, apalagi kalau pasarnya jelas. Saya ingin menambah pohon lagi supaya hasilnya lebih banyak dan bisa dikirim ke luar kota. Saya berharap anak muda tidak ragu untuk terjun ke pertanian, karena peluangnya masih sangat besar,”pungas Budi.

No More Posts Available.

No more pages to load.