Bertahan Hampir Dua Dekade, Produksi Genteng dari Punung Pacitan Rambah Cilacap hingga Boyolali

oleh -275 Dilihat
TEMBUS PASAR LUAR. Perajin genteng dan bata merah, Marni (45), mengecek kualitas genteng hasil produksinya di Dusun Pacing, Desa Ploso, Kecamatan Punung, Jumat (19/12/2025). Merintis usaha sejak 2006, produk UMKM lokal Pacitan ini kini sukses menembus pasar lintas daerah hingga ke Cilacap dan Boyolali dengan kapasitas produksi mencapai 30 ribu genteng per bulan. (Foto: Nurma Shela Rachmawati/Pacitanku.com)

Pacitanku.com, PUNUNG – Berawal dari usaha rumahan memproduksi bata dan genteng untuk kebutuhan tetangga, Marni (45), warga Dusun Pacing, Desa Ploso, Kecamatan Punung, Kabupaten Pacitan kini sukses menembus pasar lintas daerah.

Usaha yang dirintisnya sejak tahun 2006 dengan skala kecil tersebut kini telah berkembang pesat dan mampu memasok material bangunan hingga ke Kabupaten Cilacap dan Boyolali, Jawa Tengah.

Transformasi usaha milik Marni tidak terjadi dalam semalam.

Pria paruh baya ini memulai bisnisnya hampir dua dekade lalu dengan memanfaatkan potensi tanah liat yang melimpah di lingkungan sekitar tempat tinggalnya.

Awalnya, produksi hanya ditujukan untuk memenuhi pembangunan rumah warga di wilayah Kecamatan Punung.

Namun, konsistensi Marni dalam menjaga kualitas produk membuat permintaan terus meningkat seiring berjalannya waktu. Kini, ia tidak hanya melayani masyarakat lokal, tetapi juga menjadi pemasok tetap bagi sejumlah toko material dan proyek pembangunan skala besar.

Proses produksi di tempat Marni dilakukan secara bertahap dan teliti, mulai dari pengambilan bahan baku, penggilingan, pencetakan, pengeringan, hingga pembakaran.

Di halaman rumahnya, ribuan genteng tampak tersusun rapi menjalani proses penjemuran sebelum dibakar. Marni memastikan setiap tahapan diawasi langsung agar kualitas produk tetap terjaga sesuai standar pasar.

Ketekunan Marni tidak hanya berdampak pada ekonominya sendiri, tetapi juga memberikan efek positif bagi lingkungan sekitar.

Usaha ini mampu menopang perekonomian sedikitnya lima keluarga di Dusun Pacing dengan menyediakan lapangan pekerjaan tambahan.

Warga lokal dilibatkan secara aktif dalam berbagai lini produksi, mulai dari pengolahan bahan hingga distribusi barang.

Keberhasilan usaha ini pun membawa perubahan besar bagi kehidupan pribadi Marni yang kini mampu membiayai pendidikan putrinya hingga ke jenjang perguruan tinggi.

Meski demikian, perjalanan usaha Marni bukan tanpa kendala. Tantangan terbesar muncul saat musim hujan tiba, di mana proses pengeringan genteng memakan waktu lebih lama sehingga berdampak pada keterlambatan produksi.

Namun, semangatnya untuk mempertahankan usaha yang telah berjalan hampir 20 tahun ini tidak pernah surut.

Dalam kondisi normal, ia mampu mencatatkan angka penjualan yang cukup fantastis untuk skala industri rumahan.

Saat ditemui di lokasi produksinya, Marni mengungkapkan bahwa rata-rata penjualan genteng mencapai 30 ribu buah per bulan, sedangkan bata merah berkisar di angka 25 ribu buah per bulan. Jumlah ini bisa melonjak signifikan ketika memasuki musim proyek pembangunan.

Harga yang ditawarkan pun cukup kompetitif, yakni berkisar Rp1.400 di tingkat pabrik hingga Rp2.000 per buah di pasaran, tergantung pada kualitas dan volume pembelian.

“Kalau musim proyek, permintaan biasanya naik. Tapi kalau sedang sepi, kami menyesuaikan produksi dengan kebutuhan pasar,”kata Marni, Jumat (19/12/2025).

Ke depan, Marni memiliki harapan besar untuk terus memperluas jaringan pemasaran dan memberdayakan lebih banyak tenaga kerja lokal.

Ia juga berharap adanya perhatian lebih dari pemerintah setempat untuk turut membantu memasarkan produk lokal Pacitan.

Dukungan tersebut dinilai sangat penting agar pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) seperti dirinya bisa berkembang lebih luas dan memberikan kontribusi nyata pada perekonomian desa.

No More Posts Available.

No more pages to load.