Pacitanku.com, PACITAN – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pacitan mengeluarkan peringatan dini terkait potensi peningkatan cuaca ekstrem yang diprediksi akan mencapai puncaknya pada Januari 2026.
Langkah antisipatif ini diambil otoritas kebencanaan setempat menyusul adanya gangguan iklim global serta rentetan kejadian bencana hidrometeorologi yang melanda wilayah Pacitan dalam dua pekan terakhir.
Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Kabupaten Pacitan, Erwin Andriatmoto, menjelaskan bahwa pihaknya terus memantau perkembangan informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebagai landasan pemetaan potensi bahaya.
Indikator utama yang menjadi perhatian meliputi peringatan dini cuaca, rilis pers cuaca ekstrem, serta prakiraan wilayah potensi banjir dan tanah gerak.
“Berdasarkan analisis data yang selaras dengan BMKG, puncak musim hujan tahun 2025/2026 diproyeksikan terjadi pada awal tahun depan,”kata Erwin, Ahad (7/12/2025) di Pacitan.
Erwin menegaskan bahwa kewaspadaan perlu ditingkatkan karena kondisi atmosfer saat ini cukup dinamis.
Sesuai hasil analisa BMKG, puncak musim hujan diperkirakan pada bulan Januari 2026.
Situasi ini diperparah oleh adanya pemicu iklim global yaitu La Nina lemah hingga pertengahan tahun 2026 dan gangguan atmosfer lainnya yang dapat menyebabkan munculnya siklon tropis, sehingga masyarakat harus terus mewaspadai dampak cuaca ekstrem.
Peringatan ini bukan tanpa dasar, mengingat dalam dua minggu terakhir Pacitan telah mencatat kejadian signifikan berupa angin kencang di Kelurahan Baleharjo serta banjir luapan di Desa Cokrokembang, Kelurahan Pacitan, dan Kelurahan Pucangsewu.
“Berdasarkan pemetaan risiko, BPBD menetapkan tujuh kecamatan sebagai wilayah paling rawan terdampak bencana hidrometeorologi, yakni Kecamatan Pacitan, Kebonagung, Arjosari, Nawangan, Tegalombo, Tulakan, dan Ngadirojo,”paparnya.
Sebagai upaya mitigasi konkret, BPBD telah menyusun dokumen Rencana Kontinjensi (Renkon) Tanah Longsor dan Banjir serta melakukan distribusi logistik ke setiap kantor kecamatan guna mempercepat respons penanganan darurat.
Koordinasi dengan pemerintah desa juga diperketat untuk memantau tanda-tanda awal bencana, seperti munculnya retakan tanah atau peningkatan debit sungai secara mendadak.
“Jalur komunikasi informasi juga dipastikan lancar melalui Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD Provinsi Jawa Timur,”tandas dia.
Erwin juga mengimbau warga agar selalu mengutamakan keselamatan dan kesehatan. Masyarakat diminta menghindari berkendara saat hujan lebat yang membatasi jarak pandang serta tidak berteduh di bawah pohon saat hujan disertai petir.
“Penting juga menjaga asupan gizi dan kebersihan lingkungan agar tubuh tetap bugar menghadapi perubahan cuaca,”ujar mantan Camat Tegalombo ini.
Selain itu, Erwin juga menyerukan semangat kesiapsiagaan kolektif demi meminimalisir risiko bencana. Pacitan rawan bencana, mari siaga.
“Masyarakat dan seluruh pihak terkait diminta terus memonitor perkembangan informasi dan peringatan dini cuaca dari BMKG dan BPBD agar tetap waspada namun tidak panik,”pungkasnya.












