Cegah Korban Jiwa Terulang, Anggota DPRD Pacitan Minta Pemda Wajibkan Pengawasan dan Pelatihan Keselamatan Tambang

oleh -237 Dilihat
Anggota Komisi II DPRD Pacitan dr Warkim Sutarto, MARS. (Foto: Istimewa)

Pacitanku.com, PACITAN – Tragedi memilukan menimpa dua penambang batu asah (ungkal) di Dusun Jambu, Desa Jeruk, Kecamatan Bandar, Kabupaten Pacitan, pada Sabtu (18/10/2025) sekitar pukul 09.00 WIB.

Kedua korban, Misradi (59) dan Sugeng Triono (25), meninggal dunia di lokasi tambang yang berbentuk terowongan, diduga kuat akibat keracunan gas beracun.

Korban meninggal dunia adalah Misradi, seorang karyawan swasta, dan Sugeng Triono, yang berupaya menolong Misradi setelah ia tergeletak di dalam terowongan.

Anggota Komisi II DPRD Kabupaten Pacitan, dr. H. Warkim Sutarto, MARS, menyampaikan rasa duka mendalam sekaligus menyoroti pentingnya keselamatan kerja (K3) di sektor tambang rakyat.

“Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Atas nama pribadi dan sebagai anggota DPRD Kabupaten Pacitan dari Fraksi Partai Demokrat maka saya dr. Warkim Sutarto MARS menyampaikan rasa duka cita yang mendalam atas musibah meninggalnya dua warga penambang,” ujar dr. Warkim, Senin (20/10/2025) di Pacitan.

Lebih lanjut, legislator Partai Demokrat dari daerah pemilihan (dapil) VI Pacitan (Tulakan dan Kebonagung) ini mengungkapkan bahwa dari sisi medis, menduga penyebab kematian berkaitan dengan kekurangan oksigen (hipoksia) atau paparan gas beracun seperti karbon monoksida (CO), yang mudah terkumpul di dalam gua yang sempit dan tertutup.

Selain itu, pemilik Rumah Sakit Medical Mandiri ini menambahkan, faktor lain seperti kelelahan fisik, panas berlebih, atau kurangnya cairan (dehidrasi) juga bisa memperparah kondisi korban yang bekerja tanpa alat pelindung.

Baca juga: Kronologi Lengkap Penambang Batu Asah Tewas Diduga Keracunan Gas

Atas peristiwa itu, dr Warkim menilai musibah ini menjadi pengingat serius bagi pemerintah daerah. Dr. Warkim mendorong agar setiap aktivitas penambangan, meskipun tradisional, wajib memperhatikan keselamatan.

Ia mendesak adanya ventilasi udara yang cukup, penggunaan alat pelindung diri (APD) seperti masker respirator, helm, serta pengawasan dan pelatihan dasar keselamatan dari pihak berwenang.

Dr Warkim juga berharap musibah ini menjadi pelajaran agar tidak ada lagi korban jiwa di sektor penambangan tradisional.

“Saya menghimbau agar ada koordinasi nyata antara pemerintah daerah dan instansi terkait agar dilakukan pemetaan dan pembinaan terhadap tambang rakyat di Pacitan. Kegiatan ekonomi masyarakat harus tetap berjalan, namun tidak boleh mengorbankan keselamatan jiwa,” tegas dr. Warkim.

Sebelumnya diberitakan, Kapolsek Bandar, Iptu Diko, menjelaskan kronologi kejadian bermula sekitar pukul 07.00 WIB ketika Misradi bersama dua rekannya, Agus dan Sikas, memasuki terowongan tanah sepanjang sekitar 70 meter. Setelah dua jam, teman-teman Misradi keluar, namun Misradi tertinggal di dalam.

Ketika Agus dan Sikas kembali masuk, mereka menemukan Misradi tergeletak dan segera keluar karena mulai kesulitan bernapas. Saat itulah Sugeng masuk untuk menolong, namun ia juga tidak keluar. Kedua korban kemudian ditemukan meninggal dunia.

No More Posts Available.

No more pages to load.