Pacitanku.com, PACITAN – Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) PGRI Pacitan mengambil langkah strategis untuk membekali mahasiswanya dengan keterampilan relevan di era digital.
Melalui lokakarya penyiaran (broadcasting) yang digelar di aula kampus pada Kamis (17/7/2025), sebanyak 80 mahasiswa dari berbagai organisasi mahasiswa (ormawa) berkesempatan menimba ilmu langsung dari praktisi pertelevisian nasional.
Mengusung tema “Menyongsong Era Media Digital Bersama TVRI”, lokakarya ini menghadirkan dua narasumber kompeten dari TVRI Jawa Timur, Andre Arisotya dan Rina Fahlevi.
Kegiatan ini menjadi jembatan antara dunia akademis dan industri media, guna mencetak lulusan yang tidak hanya mumpuni secara teoretis, tetapi juga unggul dalam keterampilan praktis.
Ketua STKIP PGRI Pacitan, Bakti Sutopo dalam sambutannya menyampaikan apresiasi tinggi kepada TVRI Jawa Timur.
Ia menegaskan bahwa di era digital, kompetensi seperti retorika, hubungan masyarakat (public relation), dan kemampuan berbicara di depan umum menjadi krusial.
“Era digital menuntut kita untuk tidak terlepas dari keterampilan berbicara. Kompetensi ini sangat relevan, terutama bagi mahasiswa calon pendidik yang akan senantiasa berhadapan dengan publik, baik secara tatap muka maupun melalui media sosial,” ujar Bakti Sutopo.
Ia mendorong para mahasiswa untuk memanfaatkan momentum berharga ini untuk menggali ilmu sedalam-dalamnya dari para ahlinya.
Senada dengan hal tersebut, Wakil Ketua III Bidang Kemahasiswaan Sri Pamungkas berharap ilmu yang didapat para peserta dapat menginspirasi dan disebarluaskan di lingkungan organisasi masing-masing.
Menurutnya, peningkatan soft skill menjadi pembeda yang akan membuat lulusan STKIP PGRI Pacitan lebih berdaya saing.
“Kita harus menyadari bahwa kita membutuhkan masyarakat. Oleh karena itu, insan perguruan tinggi harus rela turun menuju jembatan sosial, membersamai masyarakat dengan ilmu yang berdampak baik,” tegasnya.
Dari sisi praktisi, Andre Arisotya dari TVRI Jawa Timur menjelaskan bahwa lokakarya ini bertujuan berbagi inspirasi seputar dunia penyiaran, mulai dari proses produksi berita hingga seluk-beluk profesi di baliknya. Ia menyoroti adanya kesamaan visi antara insan media dan tenaga pendidik.
“Kami di TVRI dan teman-teman mahasiswa ini sebenarnya memiliki satu visi dan misi yang sama, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Jika mereka adalah guru, kami adalah broadcaster, namun tujuannya sama,” jelas Andre.
Ia menambahkan, prospek kerja di dunia penyiaran kini terbuka sangat lebar dan tidak terbatas pada media konvensional.
“Media tidak hanya televisi. Kita punya media sosial seperti YouTube, TikTok, dan Instagram, yang bisa menjadi medium lebih murah untuk menyampaikan pesan dan membawa perubahan,” tambahnya.
Andre berpesan agar mahasiswa, sebagai agen perubahan, dapat memanfaatkan platform digital untuk menyuarakan hal-hal positif dan melawan disinformasi.
“Jangan hanya menyebar hoaks atau hal negatif. Bawalah perubahan positif, sekecil apa pun, melalui konten yang Anda produksi,” pesannya.
Sebagai penutup, ia membagikan kunci utama untuk menjadi seorang penyiar andal, yaitu “selalu dipenuhi rasa ingin tahu.”
Andre juga membuka pintu kolaborasi lebih lanjut dan mengundang para mahasiswa untuk belajar langsung di stasiun TVRI.
“Ayo main ke TVRI, karena TVRI adalah media milik publik. Mari kita sama-sama belajar untuk membentuk iklim bermedia sosial, informasi, dan komunikasi yang baik,”pungkasnya.












