Gunarto Gondrong: Festival Ronthek 2025 Sukses Kembalikan Jati Diri Musik Pacitan

oleh -170 Dilihat
Apresiasi ini datang dari seniman tradisional tingkat nasional, Gunarto "Gondrong", yang menilai edisi tahun ini menunjukkan kemajuan pesat dan otentik. (Foto: Sulthan Shalahuddin/Pacitanku)

Pacitanku.com, PACITAN – Gelaran Festival Ronthek Pacitan 2025 menuai pujian atas keberhasilannya mengembalikan ruh utama kesenian ronthek ke panggung pertunjukan.

Apresiasi ini datang dari seniman tradisional tingkat nasional, Gunarto “Gondrong”, yang menilai edisi tahun ini menunjukkan kemajuan pesat dan otentik.

Diundang secara khusus sebagai juri, seniman asal Yogyakarta tersebut melihat adanya pergeseran signifikan yang positif.

Para peserta kini mampu menonjolkan harmonisasi dan aransemen musik ronthek sebagai kekuatan utama, sebuah elemen yang menurutnya sempat meredup pada perhelatan sebelumnya.

“Tahun-tahun sebelumnya, ronthek justru tenggelam oleh aspek pendukung seperti musik modern, kostum mencolok, atau tata lampu. Tapi tahun ini beda. Semua peserta bisa menonjolkan suara dan aransemen ronthek itu sendiri. Itu yang patut diapresiasi dan dijaga,” ujar Gunarto usai malam final di Alun-Alun Pacitan.

Menurutnya, kemajuan ini merupakan langkah krusial untuk menjaga relevansi dan identitas festival. Ia menegaskan bahwa nama besar “Festival Ronthek” harus selaras dengan sajian yang ditampilkan, di mana musik bambu khas Pacitan itu menjadi primadona, bukan sekadar pelengkap.

“Namanya Festival Ronthek, maka yang utama harus tetap rontheknya. Bukan sekadar bungkus hiburan. Dan saya senang tahun ini semangat itu terasa kuat,” imbuhnya.

Tantangan Menuju Panggung Global

Meski memberikan catatan positif, Gunarto juga menanggapi wacana untuk membawa festival ini ke panggung internasional. Ia menyambut baik ambisi tersebut, namun mengingatkan bahwa jalan menuju skala global menuntut persiapan yang matang dan komprehensif.

Gunarto menyoroti natur kesenian ronthek yang bersifat kolosal. Pertunjukan yang melibatkan puluhan personel, beragam instrumen, dan proses kreatif yang panjang memerlukan dukungan pendanaan yang solid dan berkelanjutan.

“Skala internasional itu menuntut kesiapan serius, bukan hanya soal pertunjukan, tapi juga pendanaan. Ronthek itu kesenian kolosal—melibatkan banyak personel, alat, dan proses kreatif yang tak sedikit. Artinya, butuh atensi besar dari banyak pihak, mulai dari pemerintah daerah hingga pusat,” ungkapnya.

Ia berharap, semangat untuk memperkuat identitas lokal yang telah berhasil dicapai tahun ini tidak luntur oleh gegap gempita wacana internasionalisasi. Baginya, kebanggaan terbesar adalah ketika ronthek mampu memukau dunia tanpa harus kehilangan jiwa dan kearifan lokal yang terkandung di dalamnya.

“Kalau ronthek kita bisa tampil di pentas dunia, tanpa kehilangan rohnya, itu akan jadi kebanggaan kita bersama,”pungkas Gunarto.

No More Posts Available.

No more pages to load.