Pacitanku.com, TULAKAN – Jalan penghubung antar kecamatan di Dusun Jeruk, Desa Ngumbul, Kecamatan Tulakan, Kabupaten Pacitan, yang sempat menghebohkan jagat maya karena ditanami pohon pisang oleh warga, akhirnya mendapatkan perbaikan.
Perbaikan jalan tersebut melalui upaya swadaya masyarakat setempat yang sudah terlalu lama menanti tindakan nyata.
Beberapa waktu lalu, video yang diunggah akun instagram @pacitan24jam menunjukkan kondisi jalan rusak parah di sejumlah titik, lengkap dengan pohon pisang sebagai simbol protes.
Bahkan, dalam video tersebut terekam seorang siswa sekolah yang nyaris tergelincir saat melintas. Kini, berkat kekompakan warga, akses jalan tersebut sedikit lebih baik.
Kepala Dusun Jeruk Mujianto membenarkan aksi gotong royong tersebut. Dia menjelaskan bahwa jalan tersebut berstatus aset kabupaten dan memegang peranan vital.
“Jalan ini merupakan jalur alternatif pendidikan menuju Ngadirojo dan akses utama ke Pasar Nggebyur yang ramai setiap pasaran Legi dan Wage,”tuturnya, Minggu (1/6/2025) di Tulakan.
Kerusakan jalan ini, menurut Mujianto, telah berlangsung lebih dari setahun tanpa perbaikan signifikan.
“Pembangunan terakhir kami ingat sekitar tahun 90-an dan sampai sekarang belum ada realisasi perbaikan lagi,”ujar Mujianto.
Pemerintah desa, lanjutnya, tidak memiliki kewenangan untuk mengalokasikan dana desa bagi perbaikan jalan kabupaten.
“Dana desa tidak boleh digunakan untuk membangun jalan kabupaten. Kalau tidak ada anggaran dari pihak terkait, kami juga tidak bisa membangun,”tegas Mujianto, menyoroti kendala birokrasi yang dihadapi.

Kondisi jalan yang menanjak dan licin, terutama saat hujan, kerap membahayakan pengguna jalan.
“Banyak anak-anak sekolah merasakan kendala jalan ini. Seringkali ada yang jatuh, jalannya itu licin, rusak parah,”keluhnya.
Namun demikian, inisiatif swadaya warga Dusun Jeruk berhasil menambal beberapa lubang dan memperbaiki saluran air seadanya.
“Alhamdulillah, kekompakan warga untuk bergotong royong bisa menolong sedikit untuk akses jalan rusak yang sempat viral itu,”imbuh Mujianto.
Meski perbaikan darurat senilai kurang lebih Rp2 juta dari iuran warga ini memungkinkan kendaraan roda dua melintas, kondisinya masih sulit bagi roda empat karena sebagian jalan ambles dan berlumpur.
“Masyarakat sini itu yang penting ada material, misalnya ada bantuan, itu swadayanya luar biasa. Tapi susahnya itu mencari sumber dana untuk membeli material. Ini kan jalan kabupaten, kalau sering-sering iuran itu kasihan juga sama warganya,”papar Mujianto.
Ironisnya, usulan perbaikan jalan ini sebenarnya telah masuk dalam Rencana Kerja Pemerintah (RKP) desa.

Namun, statusnya sebagai jalan kabupaten membuat pendanaan bergantung pada dinas terkait. Janji perbaikan pun pernah dilontarkan, terutama setelah jalan tersebut digunakan sebagai rute Napak Tilas Jenderal Sudirman, namun tak kunjung terealisasi.
“Dulu, warga diiming-imingi bahwa jalan ini akan dibangun, diprioritaskan, dan diaspal setelah digunakan sebagai rute napak tilas Jenderal Sudirman. Namun, sampai sekarang janji itu belum juga direalisasikan,”kenang Mujianto.
Aksi menanam pohon pisang, menurutnya, adalah puncak kekesalan warga.
“Tujuannya karena dari dulu jalan ini dijanjikan akan diaspal, tapi sampai rusak parah tidak ada realisasi sama sekali. Ada korban yang jatuh, anak sekolah juga kesulitan lewat, jadi masyarakat jengkel sampai akhirnya ditanami pisang,”jelasnya.
Kini, meski telah melakukan perbaikan swadaya, Mujianto dan seluruh warga Dusun Jeruk tetap berharap perhatian serius dari pemerintah daerah.
“Mudah-mudahan lewat media (Pacitanku) ini yang di atas sana (Pemerintah, red) bisa tahu atau bisa melihat situasi yang ada di desa saya. Kritikan yang bersifat membangun ini, saya bangga, mudah-mudahan bisa terealisasi untuk pembangunan permanen, khususnya di Dusun Jeruk untuk jalan kabupaten,”pungkasnya.












