Gempa Gunungkidul Dirasakan Hingga Pacitan, Dipicu oleh Deformasi Batuan Dalam Lempeng

oleh -Dibaca 1.073 kali
Ilustrasi gempabumi

Pacitanku.com, PACITAN – Gempabumi kembali terjadi di perairan selatan Jawa pada Rabu (6/4/2022). Hasil analisis Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menunjukkan gempabumi memiliki magnitudo 4,9. Gempabumi tersebut juga cukup teras di Kabupaten Pacitan, Jawa Timur.

Episenter gempa ini terletak pada koordinat 8,21 LS dan 110,57 BT, tepatnya di laut pada jarak 24 km arah barat daya Gunungkidul dengan kedalaman 123 km.

Koordinator Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami Daryono dalam keterangannya, Rabu siang mengatakan dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa Yogyakarta yang terjadi tersebut merupakan jenis gempa berkedalaman menengah akibat adanya deformasi/patahan pada bagian Lempeng Indo-Australia yang menunjam ke bawah Pulau Jawa tepatnya di zona Benioff.

“Gempa ini bukan jenis gempa subduksi megathrust dan bukan juga gempa akibat sesar aktif kerak dangkal (shallow crustal earthquake). Gempa ini terjadi di Zona Benioff, yang mana pada lempeng Indo-Australia yang menunjam ke bawah Jawa tidak lagi landai tetapi sudah menukik,”jelasnya.

Lebih lanjut, Daryono mengatakan slab lempeng yang tersubduksi lebih dalam ini ada bagian yang mengalami deformasi atau patah yang kemudian memancarkan gelombang gempa.

“Sebagai contoh Gempa Benioff yang merusak akhir-akhir ini adalah Gempa Selatan Jawa Timur yang terjadi pada 21 Mei 2021 dengan magnitudo 5,9 di kedalaman 110 km. Gempa ini merusak ratusan rumah di 7 kabupaten dan kota di Jawa Timur, khusunya Blitar dan Malang,”ujar dia.

Dalam gempa yang terjadi pada Rabu pagi itu, guncangan gempa Yogyakarta dirasakan di Gunungkidul, Bantul, Sleman, Trenggalek dalam skala intensitas II MMI dan Pacitan II-III MMI.

“Patut disyukuri bahwa hingga saat ini belum ada laporan dampak kerusakan yang ditimbulkan akibat gempa tersebut, karena gempa dalam lenpeng semacam ini mampu memancarkan guncangan sangat kuat di atas rata-rata gempa sekelasnya. Seperti halnya Gempa Benioff di selatan Jawa Timur meskipun magnitudonya relatif kecil 5,9 tetapi mampu merusak ratusan bangunan rumah,”paparnya.

Daryono mengatakan, hingga pukul 10.30 WIB, hasil monitoring BMKG terhadap gempa Yogyakarta-Pacitan ini belum menunjukkan adanya aktivitas gempa susulan (aftershock).

“Wilayah Yogyakarta dan sekitarnya merupakan daerah rawan gempa. Sejarah mencatat, gempa merusak sudah terjadi beberapa kali seperti pada tahun 1840, 1859, 1867, 1875, 1937, 1943, 1957, 1981, dan 2006,”pungkasnya.