Harga Mulai Naik Lagi, Jangan Terburu-buru Menjual Tanaman Porang

oleh -Dibaca 9.396 kali
Presiden Jokowi saat meninjau fasilitas pabrik pengolahan porang PT Asia Prima Konjac, Kamis (19/08/2021). (Foto: BPMI Sekretariat Presiden/Laily Rachev)

Pacitanku.com, PACITANTanaman porang kini menjadi salah satu komoditas unggulan Indonesia. Pasalnya, potensi dan nilai yang sangat besar serta tingginya permintaan porang dipasar ekspor.

Bahkan, minat petani bercocok tanam porang terus meningkat karena adanya tingkat keuntungan yang memadai. Selain itu mulai berkembangnya industri olahan berbahan baku, serta didukung oleh kesesuaian lahan.

Tingginya minat petani menanam porang berdampak terhadap harga. Namun terbilang dinamis dalam range wajar dan tergantung dengan mekanisme pasar (supply and demand). Meski harga porang sempat turun, kini mulai mengalami kenaikan.

“Memang kondisi harga porang di lapangan saat ini Rp 6.000 tapi sudah mulai naik lagi di angka Rp 6.500/kg. Beberapa tahun lalu pernah harga mencapai Rp 4.000, juga pernah Rp 2.500, bahkan pernah rendah hingga Rp 600/kg,” kata Yoyok Triono, Petani Porang asal Kabupaten Madiun mengutip laman Kominfo Jatim, Kamis (26/8/2021).

Yoyok yang sudah menjadi petani porang sejak tahun 2010 mengungkapkan, saat ini banyak petani baru, khususnya petani porang yang berharap keuntungan yang besar, sehingga harapannya terhadap porang juga tinggi.

“Meskipun ada dinamika harga, tanaman porang dibandingkan dengan tanaman pangan lain maupun palawija memang masih lebih menguntungkan,”ujarnya.

Yoyok berharap harga porang ke depan stabil. Menurutnya, salah satu cara yang dapat dilakukan dalam menjaga harga porang agar tetap stabil adalah menunda masa panen ke masa panen berikutnya, sehingga keuntungan dan hasilnya akan menjadi lebih besar.

“Untuk menjaga harga kita tidak terburu-buru menjual bila harga belum cocok. Ini berbeda dengan tanaman lain, porang bisa ditunda panennya dan aman tidak rusak, malah nanti dipanen pada musim berikutnya umbinya semakin besar,“ katanya.

Selain itu menurut Yoyok, keuntungan dalam menanam porang adalah perawatannya yang terbilang cukup mudah, serta minimnya serangan hama penyakit yang dapat merugikan petani.

Lebih lanjut Yoyok mengungkapkan, meski harga porang cukup dinamis tapi masih memberi keuntungan pada petani. Bahkan, porang hasil produksi petani khususnya di Kabupaten Madiun tetap laku dan dibeli pengepul.

Selain kegiatan budidaya, di Madiun juga mulai tumbuh usaha pengolahan porang skala kecil dan UKM untuk menambah penghasilan.

“Saat ini porang masih memberikan keuntungan besar pada petani karena produktivitas porang tahun ini lebih besar dibanding tahun kemarin,“ ungkapnya.

Sebelumnya, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (Mentan SYL) mengungkapkan, penurunan harga porang hanya karena faktor supply dan demand. Terpenting adalah pemerintah mendorong budidaya tanaman porang karena hasilnya sangat menjanjikan untuk diekspor.

“Satu hektarenya menjanjikan hasil yang sangat besar. Kita berharap harga porang bagus. Tetapi kami juga tidak boleh bergantung pada ekspor. Karena itu, perlu melakukan end product atau produksi akhir harus dilakukan di Indonesia,” kata SYL.

Video Harga Porang di Pacitan Cenderung Stagnan, Kapan Harganya Tinggi?