Bisakah Pacitan Memiliki Desa Wisata Seperti Zaanse Schans di Belanda?

oleh -13482 views

Oleh: Andung Damar Sasongko*

ZAANSE SCHANS, adalah desa wisata yang didirikan dengan tujuan untuk melestarikan peninggalan sejarah, menggambarkan kehidupan masyarakat Belanda tempo dulu dengan bangunan rumah tradisional belanda yang bersejarah, terletak dikota zaanstad tepatnya disebelah Jembatan Juliana. 

Kawasan ini menyerupai museum terbuka, dengan penataan lansekap yang indah, dengan suasana pedesaan dan menyenangkan untuk dinikmati sepanjang tahun dan segala usia

Zaans Schans adalah desa wisata yang menceritakan kisah kehidupan sehari-hari di wilayah Zaan selama berabad-abad. Zaan adalah salah satu industri tertua, terdapat museum Zaanse Tijd (Museum Waktu Zaan) De Bonte Hen telah bertahan sejak 1693, desa wisata ini bukan seperti museum-museum yang ada, karena rumah-rumah yang ada memang dihuni, dan beraktivitas sehari-hari, arsitekturnya didominasi oleh lansekap berair dan industri tua.

Kondisi ini menggambarkan tempat para pekerja di masa lalu yang sejarahnya masih dapat ditelusuri meski abad ke-19.

Desa wisata ini adalah terkenal dengan ratusan ribu wisatawan setiap tahun, ilustrasinya tahun 2016 ada 1,8 juta, pada 2017, 2,2 juta wisatawan. Lalu apa yang menarik dari desa wisata satu ini?

Yang pertama, tentu potensinya, dimana jalur akses yang mudah ke lokasi desa wisata. Disini ada  jalur transportasi air, bisa menggunakan cruise/ kapal yang agar bisa sampai di lokasi “Desa Wisata” Zaanse Schans dengan  melewati jembatan Julianabrug yang unik yaitu salah satu bagian jembatan akan terangkat bila kapal akan melewatinya.

Kemudian kedua adalah jalur transportasi darat, bisa menggunakan kereta 15 menit ke Koog-Zaandijk dan 10 menit berjalan kaki dari stasiun, atau dengan kendaraan pribadi.

Selanjutnya, melihat Keindahan Kincir Angin Belanda, kita bisa menemukan jejak kehidupan warga Belanda tempo dulu, yaitu bisa melihat dari dekat beberapa kincir angin yang sudah berumur tua namun hingga kini masih bisa beroperasi, disana terdapat 6 kincir angin berukuran besar yang memiliki nama dan berfungsi yang berbeda-beda, misalnya De Huisman (pembuatan makanan mustard), De Kat (pembuatan cat), De Gekroonde Poelenburg & het Jonge Schaap (penggergajian kayu) dan De Zoeker Oliemolen & De Bonte Hen oliemolen (pembuatan minyak).

Selain itu ada 2 kincir yang berukuran lebih kecil yaitu De Windhond biksteen en slijpmolen(mengasah batu) dan  De Hadel weidemollen(memompa air).

Hal menarik selanjutnya dari desa wisata ini adalah, menikmati bangunan-bangunan rumah kayu berarsitektur Belanda, asli desa zaanse schans yang didominasi warna hijau. Beberapa bangunan difungsikan sebagai museum yang menggambarkan dan menyimpan koleksi barang-barang tempo dulu masyarakat North Holland.

Misalnya Museum supermarket tertua di Belanda, Albert Heijn, yang berdiri pada tahun 1887. Kemudian De Tinkoepel Tinnegieterij sebagai tempat kerajinan perak yang sudah ada ratusan tahun lalu dan  museum jam yang dikenal dengan nama Het Nederlandse Uurwerk.

Disini juga ada museum pembuatan roti dan kue yang disebut dengan Bakkerij museum in de Gecroonde Duyvekater. Kemudian De Catherine Hoeve, melihat demo secara langsung pembuatan keju sekaligus menjual beragam jenis keju, Restoran De Kraai yang menyediakan kue pancake tradisional Belanda (pannekoek). Selanjtunya ada juga distillery museum & tasting room di atau tempat penyulingan minuman sekaligus mencicipinya di De Tweekoppige Phoenix.

Apakah Pacitan bisa seperti desa wisata tersebut?

Saya berharap Pacitan dapat segera memiliki sebuah kawasan Desa Wisata yang menarik dalam menciptakan suatu kawasan pariwisata, sehingga dapat menjadi pilihan Wisatawan, untuk berkunjung di Pacitan,

Saya merencanakan agar kawasan Watukarung bisa nenjadi pilot project suatu kawasan atau desa wisata, desa wisata yang dikembangkan harus sustainable, yaitu pariwisata yang menitikberatkan keberlanjutan lingkungan, sosial, dan budaya kedalam satu kemasan.

Hal ini dikelola dan dimiliki oleh masyarakat, untuk masyarakat, dengan tujuan memungkinkan pengunjung untuk meningkatkan kesadaran mereka dan belajar tentang masyarakat dan lokal cara hidup. Titik beratnya adalah berdasarkan kekhasan/potensi kebudayaan yang terdapat pada kawasan tersebut.

Lalu bagaimana peran pemerintah daerah? Tentu pemda dalam hal ini sangat berperan memberikan Aksesbilitas yang baik, sehingga mudah dikunjungi wisatawan dengan menggunakan berbagai jenis alat transportasi.

Selanjutnya juga memiliki obyek-obyek dan potensi yang menarik, yaitu berupa alam, seni budaya, legenda, kuliner lokal.

Berikutnya adalah masyarakat dan aparat pemerintahan menerima dan memberikan dukungan yang tinggi terhadap desa wisata serta para wisatawan yang datang.

Peran berikutnya adalah memberikan rasa aman bagi wisatawan, menyediakan akomodasi, telekomunikasi, dan tenaga kerja yang memadai. Dan yang terakhir, adalah pemerintah berperan memberikan keterhubungan dengan obyek wisata lain yang sudah dikenal oleh masyarakat luas.

Semoga kelak Pacitan memiliki desa wisata yang mampu menyejahterahkan masyarakatnya. Seperti halnya Desa Wisata Zaanse Schans.


* Penulis adalah putra asli Pacitan, saat ini menjabat di PT. HUTAMA KARYA (Persero)sebagai General Manager Departemen Konstruksi II. Andung lulus S1 bidang Arsitektur dan menyelesaikan S2 bidang Perencana Kota di Universitas Diponegoro Semarang


Kolom opini adalah kolom khusus yang disediakan untuk menyampaikan gagasan, atau permasalahan yang berujung terciptanya satu solusi dalam konteks pembangunan Pacitan. Opini sepenuhnya tanggung jawab penulis. Redaksi tidak bertanggungjawab atas muatan atau isi dari opini yang dikirim. Jika Anda tertarik, bisa mengirimkan opini Anda ke [email protected]