Sejarah Festival Ronthek Pacitan

oleh -1.023 views
Salah satu bidadari di Festival Ronthek Pacitan 2017. (Sumber Foto: Instagram @diamondrev_)

Pacitanku.com, PACITAN – Festival Ronthek rencananya akan kembali digelar pada Kamis (12/9/2019) mendatang. Festival ini disebut menjadi agenda seni budaya masyarakat Pacitan yang sayang untuk dilewatkan.

Awalnya, agenda tahunan ini adalah sebuah acara sederhana yang digunakan untuk membangunkan warga melaksanakan sahur untuk ibadah puasa Ramadhan.

Namun lambat laun, ronthek berubah menjadi kreasi tarian dinamis yang indah. Tahun 2011, festival Ronthek Gugah Nagari sampai tercatat di Museum Rekor Indonesia (MURI) karena diikuti oleh 2.818 orang.

Ronthek Kecamatan Pringkuku. (Foto: Humas Pemkab)

Baca juga: Mengenal Budaya Asli Pacitan: Ronthek dan Kethek Ogleng

Ronthek adalah sejenis musik penggugah saat sahur di bulan puasa. Ronthek berasal dari kata “ronda thetek” yang merupakan alat musik sejenis kentongan untuk ronda atau siskamling, terbuat dari bambu yang dilubangi memanjang di bagian tengahnya.

Cara memainkannya dipukul-pukul dengan bambu juga sehingga terdengar alunan musik yang unik dan indah. Dahulu Seni Ronthek Gugah Sahur hanya dikombinasikan dengan instrumen musik tradisional seperti gong, kenong, suling, dan saron.

Namun, saat ini dikombinasikan juga dengan instrumen musik modern seperti saxophone dan bass drum. Tradisi ini mengutamakan kekompakan dan keserasian pemain alat musik, penari, dan pesinden.

Foto: Humas Pemkab Pacitan

Baca juga: Bidadari-bidadari Festival Ronthek Pacitan 2017

Konsep dari kegiatan ini adalah perlombaan Ronthek yang diikuti oleh perwakilan desa/kelurahan se-Kecamatan Kota Pacitan dan perwakilan Kecamatan se-Kabupaten Pacitan. Karena banyaknya kontestan yang berpartisipasi dalam kegiatan ini, maka tidak jarang kegiatan ini berlangsung selama berhari-hari pada saat malam hari.

Yang menarik, dalam hajatan ini bukan sekadar adu kreasi memainkan instrumen musik saja melainkan menjadi karnaval malam hari yang disemarakkan dengan tarian dan berbagai penampilan untuk menarik perhatian.

Karnaval ronthek ini sangat meriah. Karena, selain para pemain ronthek yang berdandan layaknya pawai 17 Agustusan dan lebih kreatif lagi seperti Carnival yang digelar di berbagai kota.

Selain itu, setiap kelompok juga mendekorasi kendaraan menjadi aneka macam bentuk yang kreatif. Ronthek menjadi event budaya lokal yang menarik untuk di tunggu. Festival Ronthek adalah satu khazanah seni budaya yang cukup menjadi hiburan yang menarik bagi masyarakat Pacitan, yang mulai digelar saat tahun 2011 atau saat tahun pertama Bupati Indartato menjabat.

Kemeriahan festival Ronthek Pacitan 2017 hari pertama, menampilkan 12 tim yang menghibur masyarakat. (Foto: Humas Pemkab)

Saat festival dimulai, ini menjadi hiburan tersendiri bagi masyarakat Pacitan, karena pada saat itu, ribuan masyarakat Pacitan tumplek bleg menjadi satu di jalur protokol Pacitan.

Selain agenda inti adalah ronthek, biasanya para penari menampilkan busana unik khas Pacitan yang dipadukan dengan tarian menarik, seni musik dengan irama yang bagus, serta tidak ketinggalan properti yang digunakan menambah menarik acara tahunan ini.

Properti yang digunakan tersebut diantaranya adalah mobil yang dihias sedemikian rupa, kemudian kostum yang hampir sama dengan agenda budaya di berbagai kota besar di tanah air.

Juara Festival Ronthek dari masa ke masa

Pertama kali, Festival Ronthek digelar Tahun 2011 tepatnya 18-19 Agustus 2011. Saat itu belum berbentuk festival, melainkan adalah lomba, dimana pada  pertama ini dimenangkan oleh Ronthek dari Desa Sedayu Kecamatan Arjosari.

Pada tahun kedua, lomba Ronthek kembali diadakan di Bulan Agustus 2012. Kali ini ganti Desa Bangunsari Kecamatan Pacitan yang keluar sebagai pemenangnya.

Kemudian, pada tahun 2013 kembali diadakan Lomba Ronthek, kali ini penyelenggaraannya di bulan September 2013, dengan Desa Tanjungsari sebagai pemenangnya.

Tahun 2014 lomba ronthek diselenggarakan pada bulan Juli dengan perubahan ke arah Festival, sehingga juaranya diambil dari beberapa kategori yaitu penyaji terbaik, penata musik terbaik dan pelestari budaya.

Untuk hasilnya, lima penyaji terbaik adalah Desa Tanjungsari, Kecamatan Arjosari, Kelurahan Pucangsewu, Desa bangunsari dan Kelurahan Pacitan. Sedangkan tiga penata musik terbaik diraih oleh Kelurahan Baleharjo, Kecamatan Arjosari dan Kecamatan kebonagung. Untuk kategori pelestari budaya diraih oleh Desa Mentoro.

Pada tahun 2015, Ronthek Pacitan digelar pada 21-23 Agustus dalam rangka peringatan HUT ke 70 RI, untuk kategori lima penyaji terbaik, ada lima grup Rontek, yakni Desa Arjowinangun, Kelurahan Pucangsewu, Desa Menadi, Kecamatan Pringkuku dan Kecamatan Ngadirojo.

Sementara, untuk tiga penata musik terbaik jatuh ke tangan Desa Tanjungsari, Kecamatan Arjosari dan Kelurahan Pacitan. Sementara untuk kategori pelestari budaya jatuh ke tangan tim rontek Kecamatan Tegalombo.

Pada tahun 2016, Festival Ronthek Pacitan digelar pada 21-22 Agustus dengan hasil sebagai penyaji terbaik adalah tim dari kelurahan Pacitan. Kemudian tiga penata musik terbaik non ranking diraih Kelurahan Pacitan, Kecamatan Punung dan Kecamatan Kebonagung.

Dalam event tahun 2016, juga diperoleh tiga penata tari terbaik non ranking yang diraih Pucangsewu, Sidoharjo dan Ploso. Penghargaan lain adalah tiga penata properti/artistik terbaik non ranking yang diperoleh Ngadirojo, Pringkuku dan Baleharjo.

JUARA UMUM. Grup Ronthek Raung Bambu Pringkuku juara umum Festival Ronthek Pacitan 2018. (Foto: Dok Humas Pacitan)

Pada tahun 2017, lima penyaji terbaik non ranking tahun 2017 diperoleh tim Ronthek “Songgolangit” Kecamatan Punung, tim Ronthek “Laskar Gempar” Kelurahan Pacitan, tim Ronthek “Jago Suroloyo” Kecamatan Tegalombo, tim Ronthek “Teratai Budoyo” Kecamatan Bandar dan tim Ronthek “Sawunggaling” Desa Menadi.

Pada tahun 2018 lalu, Grup Ronthek “Raung Bambu” Kecamatan Pringkuku akhirnya dinobatkan sebagai juara umum.

Untuk kategori penyaji terbaik juga didapatkan Grup Ronthek “Bina Sakti” Kelurahan Pucangsewu, “Mandala Gong 2000” Kecamatan Punung, “Laskar Gempar” Kelurahan Pacitan, “Raung Bambu” Kecamatan Pringkuku dan “Gringsing Sinampurno” Kecamatan Tegalombo.

Sementara, kategori penata musik terbaik didapatkan tim “Pring Sejati” Desa Bangunsari Kecamatan Pacitan, “Sekar Melati” Kecamatan Arjosari, “Ceria” Desa Tanjungsari, “Raung Bambu” Kecamatan Pringkuku dan “Gugah Rasa” Kecamatan Donorojo.

Menarik untuk ditunggu, tahun 2019 ini tim mana saja yang akan menjadi para jawara.