Tantangan Mengadapi Jamila Setelah Cempaka dan Dahlia

oleh -131.978 views
Kondisi pantauan banjir Pacitan dengan citra udara pada Rabu (29/11/2017). (Foto: Gilang Aryo)

Pacitanku.com, JAKARTA – Fenomena cuaca yang sangat mengkhawatirkan masyarakat terjadi pada akhir November hingga awal Desember 2017 terjadi sebagian wilayah Indonesia, terutama Pulau Jawa dan Sumatera.

Kekhawatiran itu benar-benar terjadi ketika muncul hujan lebat dan angin kencang di wilayah-wilayah itu. Hujan dan angin kencang mengakibatkan beberapa dampak lainnya, seperti banjir, longsor dan gelombang tinggi.

Hal itu menimbulkan dampak lanjutan berupa penutupan jalur transportasi laut dan udara serta munculnya pengungsian warga terdampak bencana.

Kata “siklon” digunakan oleh otoritas terkait, yakni Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) untuk menyebut penyebab cuaca ekstrem itu.

Siklon adalah sebuah wilayah atmosfer bertekanan rendah yang bercirikan pusaran angin yang berputar berlawanan dengan arah jarum jam di bumi belahan utara dan searah jarum jam di bumi belahan selatan.

Siklon adalah akibat yang berasal dari angin yang bisa mengakibatkan tornado atau angin puting beliung serta penyebab yang berasal dari angin lainnya.

Indonesia baru saja menghadapi siklon yang disebut oleh BMKG sebagai siklon Cempaka yang berada di perairan sekitar 32 kilometer (km) sebelah selatan-tenggara Pacitan Provinsi Jawa Timur. Kekuatan siklon 65 km per jam pada Selasa (28/11).

Dampak dari siklon tropis Cempaka adalah cuaca ekstrem seperti hujan deras, angin kencang, dan gelombang tinggi di Jawa dan Bali.

Setelah adanya deteksi dan peringatan dini dari BMKG, cuaca ekstrem benar-benar terjadi dan telah mengakibatkan banjir, longsor dan puting beliung di 21 kabupaten dan kota di Pulau Jawa dan Bali. Data yang telah disampaikan Posko Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Bencana tersebut terjadi Kabupaten Situbondo, Sidoarjo, Pacitan, Wonogiri, Ponorogo, Serang, Sukabumi, Purworejo, Tulungagung, Semarang, Klaten, Malang, Wonosobo, Klungkung, Kota Yogyakarta, Gunung Kidul, Kulon Progo, Sleman, Bantul, Kudus dan Sukoharjo.

Daerah Pacitan yang paling dekat dengan siklon tropis Cempaka terjadi hujan lebat sehingga menimbulkan banjir dan longsor pada Selasa (28/11) dinihari.

Sungai-sungai meluap mengakibatkan ribuan rumah terendam banjir. Banjir meluas terjadi 13 desa di tiga kecamatan, yaitu Pacitan (Desa Sirnoboyo, Desa Sukoharjo, Desa Kayen, Desa kembang, Desa Ploso, Desa Arjowinangun, Desa Sidoharjo), Kecamatan Kebon Agung (Desa Purworejo, Desa Banjarjo, Desa Kebon Agung), dan Kecamatan Arjosari (Desa Pagutan, Desa Jatimalang, Desa Arjosari). Jalan lintas selatan lumpuh total.

Banjir dan longsor mengakibatkan 25 orang meninggal dunia yang menerjang Kabupaten Pacitan. Ke-25 korban meninggal dunia terdiri dari 19 orang akibat tertimbun tanah longsor dan enam orang hanyut terbawa banjir. 

Banjir, longsor dan puting beliung juga melanda wilayah di DI Yogyakarta pada 28 November. Banjir terdapat tiga titik banjir di Kabupaten Gunung Kidul dan dua titik di Kabupaten Kulonprogo.

Beberapa permukiman terendam banjir hingga semeter. SMK Pelayaran dan SMP 3 Satosari terendam banjir sehingga proses belajar-mengajar terganggu.

Longsor terjadi di 22 titik, yaitu 16 titik longsor di Kabupaten Bantul, dua titik di Kabupaten Kulonprogo, satu titik di Kabupaten Gunung Kidul dan tiga titik di Kabupaten Sleman. Longsor menimpa rumah dan menjebol tembok masjid Pondok Pesantren di Kulon Progo sehingga tiga santri luka ringan. Puting beliung juga melanda 56 titik di daerah Yogyakarta.

Siklon Dahlia Siklon tropis Cempaka kemudian bergerak menjauhi wilayah Indonesia pada Rabu (29/11). Setelah Cempaka pergi, ternyata kekhawatiran masih menghinggapi masyarakat karena munculnya siklon Dahlia di perairan Hindia Belanda. Cempaka pergi, namun Dahlia datang.

Karena itu peringatan dini kemudian dikeluarkan khususnya bagi masyarakat di wilayah Bengkulu, Lampung, Banten dan beberapa provinsi lainnya di Pulau Jawa, Bali dan Nusa Tenggara Barat (NTB) hingga Nusa Tenggara Timur (NTT).

Semua pihak dengan harap-harap cemas kemudian mencermati perkembangan cuaca dan khawatir mengenai apa yang akan terjadi.

Siklon Dalia ini memberikan dampak berupa hujan sedang hingga lebat di Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur dan Bali.

Dampak angin kencang lebih dari 20 knot, di antaranya di Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta dan Jawa Timur bagian barat dan selatan.

Gelombang laut dengan ketinggian 2,5-4,0 meter di perairan selatan Jawa hingga Lombok, Selat Bali bagian selatan dan Selat Lombok bagian selatan, Samudra Hindia selatan Bali hingga NTT. Siklon ini juga mengakibatkan gelombang laut dengan ketinggian 4,0-6,0 meter di Samudra Hindia selatan Jawa.

Berdasarkan analisis BMKG pada 2 Desember 2017 pukul 07.00 WIB, posisi siklon ini di Samudra Hindia sebelah selatan Jawa Tengah, sekitar 10,8 LS, 110,9 BT atau sekitar 345 km sebelah selatan Cilacap. Siklon bergerak ke timur tenggara dengan kecepatan 4 knot (8 km per jam) menjauhi wilayah Indonesia.

Informasi itu melegakan jajaran pemerintah dan masyarakat di wilayah yang diindikasikan rawan bencana akibat cuaca buruk. Namun kepergian Cempaka dan Dahlia bukan berarti cuaca buruk berakhir sama sekali karena saat ni memasuki musim hujan yang sering mengakibatkan munculnya bencana atau musibah seperti banjir, tanah longsor dan angin puing beliung.

Jamila Serangkaian bencana dan musibah yang terjadi telah mengakibatkan kerugian materi dan non materi warga yang menjadi korban maupun warga yang hanya terdampak. Data dan fakta yang disampaikan BNPB serta berbagai media termasuk media sosial telah secara gamblang menggambarkan bahwa bencana dan musibah akibat datangnya Cempaka dan Dahlia mengakibatkan jumlah warga dalam jumlah yang tidak sedikit harus mengungsi.

Tenda-tenda pengungsian didirikan di daerah yang relatif aman dari bencana dan juga di fasilitas umum serta tempat ibadah. Bukan hanya kerugian jiwa dan gangguan psikologi, musibah dan bencana akibat Cempaka dan Dahlia telah juga mengakibatkan kerugian materi yang tidak sedikit.

Kerusakan lahan pertanian dan peternakan, kerusakan rumah atau tempat tinggal dan–bahkan rumahnya hilang hanyut terbawa banjir serta roboh. Tidak sedikit pula rumah penduduk yang tertimbun longsor. Semua itu menimbulkan penderitaan dalam jangka pendek ataupun panjang.

Warga yang semula kategori mampu atau sejahtera mungkin tiba-tiba menjadi miskin karena harta bendanya rusak, bahkan hilang. Belum lagi kalau bicara rumah yang menjadi rusak ringan, sedang hingga berat, bahkan hilang dan hanyut, tertimbun atau roboh. Semua itu menjadi benan moral dan material yan arus ditanggung korban bencana alam akibat Cempaka dan Dahlia.

Itulah sebabnya Menteri Sosial (Mensos) Khofifah Indar Parawansa mengkhawatirkan akibat bencana alam yang beberapa pekan melanda sejumlah daerah di Indonesia memunculkan “Jamila” alias jadi miskin lagi di kalangan masyarakat yang menjadi korban.

Apalagi sekitar 80 persen dari warga yang terdampak bencana alam ini akhirnya berstatus jadi miskin lagi alias “jamila”. Meski sebelumnya mereka sudah masuk kategori sejahtera, kata Mensos usai menutup Jambore Nasional ke-2 Relawan Muhammadiyah di UMM Dome di Malang, Jawa Timur, Minggu (3/2).

Berdasarkan pemetaan wilayah yang dilakukan BNPB, kata Khofifah, selama Desember 2017, ada 323 kota dan kabupaten di Indonesia yang berisiko tinggi terhadap bencana alam, mulai dari banjir, gunung meletus dan tanah longsor.

Cempaka dan Dahlia telah mendongkrak jumlah warga yang menjadi korban sehingga harus sementara tinggal di pengungsian. Angka pengungsian hingga September 2017 mencapai 3,2 juta jiwa. Angka tersebut naik signifikan jika dibandingkan dengan tahun 2016 yang hanya 2,7 juta jiwa dan 2015 mencapai 1,2 juta.

Kalau bertanya kepada mereka, jawabannya sudah bisa ditebak bahwa mereka tidak ingin berlama-mana menjadi pengungsi yang hidup di lokasi-lokasi penampungan sementara. Karena itu penanganan pasca bencana perlu menjadi terus-menerus menjadi perhatian serius.

Penanganan pada tahap tanggap darurat tampaknya juga harus jadi prioritas, termasuk bantuan pangan dari pemerintah. Pemerintah Daerah harus mau mengeluarkan SK Tanggap Darurat agar bisa mengeluarkan cadangan pangan di gudang Bulog.

Untuk tingkat kota dan kabupaten, cadangan pangan bagi masyarakat yang bisa dikeluarkan di bawah 100 ton, untuk tingkat provinsi hingga 200 ton, dan di atas 200 ton harus melalui SK Menteri Sosial.

Dalam kaitan ini, “Standard Operating Procedure” (SOP)-nya sudah sangat jelas sehingga kepala daerah tidak perlu ragu. Jika beras cadangan yang dikeluarkan untuk penanganan bencana alam itu tidak mencukupi, bisa mengajukan ke Kementerian Sosial.

Pengentasan Angka dan data mengenai jumlah pengungsi yang disampaikan itu mencengangkan bahwa siklon Cempaka dan Dahlia demikian dahsyat.

Kini menjadi tugas dan tantangan pemerintah beserta jajarannya untuk mengatasi persoalan tersebut dengan berbagai program penanganan pascabencana.

Melihat banyaknya jumlah korban Cempaka dan Dahlia serta luasnya cakupan wilayah yang terdampak, tampaknya penuntasannya tidak hanya mengandalkan pemerintah.Semua bergerak untuk satu tujuan, yaitu meringankan penderitaan korban dan memulihkan psikis serta perekonomiannya Budaya gotong-royong yang sudah sangat melekat dalam kehidupan masyarakat Indonesia perlu digencarkan lagi agar penderitaan korban Cempaka dan Dahlia segera berakhir. Badan usaha milik negara (BUMN) badan usaha milik daerah (BUMD), bahkan badan usaha milik desa (BUMDes) adalah salah satu kekuatan untuk menuntaskan warga korban bencana atau musibah yang kini jadi jamila.

Begitu juga berbagai komunitas di masyarakat serta perusahaan swasta perlu digerakkan peran sumbangsihnya dan juga semakin disadarkan bahwa bencana atau musibah berpotensi terjadi dimana saja dan kapan saja. Hal itu mengingat banyaknya wilayah Indonesia yang rawan bencana, baik banjir, longsor, angin puting beliung, kekeringan maupun kebakaran.

Untuk jangka pendek bantuan yang dibutuhkan tentu menyangkut pemulihan psikis para korban, bantuan pangan dan untuk jangka panjang bisa beragam. Misalnya pemberian keterampilan untuk menghasilkan berbagai produk kerajinan yang pemasarannya dibantu pemerintah, BUMN, BUMD, BUMDes, komunitas-komunitas di masyaraka serta pihak swasta.

Beberapa hari lalu tersebar foto-foto di media sosial para pengungsi letusan Gunung Agung di Bali yang membuat kerajinan terbuat dari bahan bambu. Mereka menghasilkan piring makan yang unik dan biasa digunakan di restoran tertentu. Tampaknya yang dibutuhkan selanjutnya adalah bantuan pemasarannya karena tanpa pemasaran, maka sebagus, seunik dan sekualitas apapun sebuah produk tidak akan memberi nila tambah bagi perajin.

Aktivitas itu hanyalah salah satu contoh bagaimana korban bencana harus bertahan hidup saat ini maupun masa yang akan datang. Semua itu agar mereka tidak menjadi jamila. (Ant/RAPP002)