Disperta Pacitan Selidiki Kematian Mendadak Ternak Sapi

oleh -Dibaca 1.925 kali

Pacitanku.com, PACITAN – Kematian misterius sebelas sapi ternak di Sobo, Pringkuku, sejak setahun terakhir masih belum dapat dipastikan penyebabnya. Dinas Pertanian (Disperta) baru turun ke lapangan meninjau kematian mendadak sapi ternak di Sobo, Rabu (5/4/2017) lalu.

Sample dari tanah di sekitar kandang matinya sapi ternak juga masih harus diuji laboratorium. ‘’Saat ini masih suspect. Sebab, sejumlah tanda yang muncul dari kematian sapi ternak Senin lalu belum seratus persen mengarah akibat antraks. Kepastiannya menunggu uji lab dari sample tanah yang diambil. Kami juga harus mengetahui darimana sapi tersebut dibeli,’’ terang Kepala Bidang (Kabid) Kesehatan Hewan Disperta, Agus Sumarno.

Agus tidak menampik bahwa antraks merupakan salah satu dari sekian banyak kemungkinan penyebab matinya sebelas hewan ternak di Sobo. Sebab, sudah ada dua desa di kecamatan Pringkuku yang positif antraks. Agustus lalu, temuan sapi yang mati mendadak di Ngadirejan dan Pringkuku dipastikan positif akibat antraks.

Selain dari uji lab, kepastian juga didapat dari penelusuran asal usul sapi di kedua desa tersebut. Sapi yang mati mendadak di Ngadirejan dan Pringkuku berasal dari Cemeng, Donorojo. Setelah ditelusuri lagi, sapi yang dibeli dari Cemeng rupanya berasal dari Pracimantoro, Wonogiri. ‘’Wonogiri termasuk wilayah endemis antraks. Kami pastikan positif setelah mencocokkan hasil uji lab dengan hasil penelusuran pembelian sapi,’’ jelasnya.




Hal yang sama coba dilakukan di Sobo. Agus perlu mencari tahu dari mana sebelas sapi yang mati mendadak itu berasal. Kemungkinan positif antraks semakin besar jika sapi ternak ternyata didapat dari Wonogiri, Boyolali, dan Kulonprogo, yang notabene wilayah endemis antraks.

Dari informasi sementara, Sukatmi, salah seorang peternak sapi di Sobo, baru membeli sapi sebulan yang lalu. Menurut Agus, kemungkinan sapi ternak Sukatmi mati karena antraks semakin besar. ‘’Sebab tahun lalu setelah ada temuan positif antraks, kami langsung melakukan vaksinasi di sejumlah desa di Pringkuku. Jika baru dibeli, kemungkinan sapi tersebut belum mendapat vaksin,’’ terangnya.

Dari total populasi sapi ternak sebanyak 22 ribu ekor, tahun lalu vaksinasi sudah menyasar delapan ribu ekor sapi di delapan desa. Sebagian desa berada kecamatan Pringkuku. Selain akan menyelidiki penyebab pasti kematian sapi ternak di Sobo, Disperta juga akan melakukan vaksinasi dan memberikan disinfektan di seluruh kandang sapi ternak di desa itu.

Agus menyesalkan pihaknya telat dilapori adanya temuan sapi ternak yang mati mencurigakan itu. sebab menurutnya, masih ada kemungkinan sapi ternak bisa diselamatkan. ‘’Kalau ditangani dengan tepat, kemungkinan masih bisa diselamatkan,’’ ujarnya.

Sumber: Radar Madiun