Daerah Miskin Sinyal di Pacitan Karena Banyak Titik Blank Spot

oleh -133.029 views
BTS Tower
BTS Tower
BTS Tower
BTS Tower

Pacitanku.com, PACITAN – Sinyal telekomunikasi yang mendrip-mendrip di sejumlah wilayah pelosok di Pacitan disebabkan karena masih minimnya jumlah menara base transceiver station (BTS). Berdasarkan data Diskominfo Pacitan, dari 118 titik perencanaan BTS, menara BTS hanya berdiri di 68 titik. 50 titik sisanya masih jadi lahan ‘’menganggur’’.

Karena itu, di Pacitan, masih banyak titik yang termasuk area blank spot. Kawasan tersebut boleh dikata miskin sinyal telekomunikasi. Ditengarai karena investor atau provider telekomunikasi menilai 50 titik tersebut kurang menarik dari sisi investasi. ‘’Sebab, membangun menara BTS itu juga butuh biaya yang tidak sedikit,’’ ujar Kepala Bidang Teknologi Informatika Diskominfo Pacitan, Supriyono, dilansir dari Radar Madiun pada Selasa (14/3/2017).

Pembuatan titik perencanaan menara BTS dibuat Diskominfo mengacu penataan ruang dan analisa terhadap jangkauan wilayah (coverage area) sinyal telekomunikasi. Salah satu yang jadi pertimbangan adalah kepadatan penduduk dan kondisi geografi wilayah.

Dari berbagai pertimbangan itu, idealnya ada 118 titik yang harus didirikan menara BTS, agar seluruh kabupaten ter-cover sinyal telekomunikasi. Namun, kenyataannya, 120 menara BTS ternyata berdiri di 68 titik saja. Satu titik dapat diisi sampai empat menara BTS. ‘’Di wilayah kota, tiga titik perencanaan menara BTS sudah terisi penuh. Sebaliknya di pelosok masih banyak yang kosong,’’ jelasnya.

Masih banyaknya titik perencanaan menara BTS yang menganggur itu dipandang Supriyono karena kurang menarik dari sisi investasi. Investor atau provider telekomunikasi harus mengeluarkan modal minimal ratusan juta rupiah hanya untuk membangun satu menara BTS. Pemkab tidak bisa membangun menara BTS sendiri karena tidak punya kewenangan. ‘’Kalau saja bisa, biayanya juga kelewat tinggi. Memberatkan anggaran,’’ sebutnya.

Menurut Supriyono, yang paling merasakan dampaknya adalah masyarakat. Akses informasi menjadi lebih sulit di sejumlah wilayah pelosok, karena kendala sinyal telekomunikasi tersebut. Sementara saat ini, akses informasi yang paling banyak dan cepat adalah melalui internet. ‘’Menyiasatinya melalui kerjasama-kerjasama dengan sejumlah provider, untuk menyediakan fasilitas internet di sejumlah wilayah yang termasuk blank spot itu,’’ ujarnya.


Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPM-PTSP) Pacitan, Prasetyo Wibowo, turut mengamini. Berdasarkan data DPM-PTSP, investasi di sektor komunikasi bersama dengan sektor transportasi dan pergudangan tahun lalu mencapai Rp 29 miliar.

Nominal tersebut masih kalah jauh jika dibanding dengan investasi di sektor perdagangan dan reparasi yang jumlahnya mencapai Rp 373 miliar. Pun, dari Rp 29 miliar tersebut, yang murni investasi di sektor komunikasi tidak sampai 50 persen.

‘’Pembangunan menara BTS itu mahal. Karena itu investor pun banyak pertimbangannya. Selain melihat kondisi wilayahnya, tentu mereka juga melihat berapa banyak konsumennya di Pacitan,’’ ujar Prasetyo.