13 Rumah di Kebonagung Terdampak Tanah Gerak

oleh -131.096 views
Salah satu rumah terdampak tanah gerak di Purworejo Pacitan. (Foto: Pujono/BPBD Pacitan)
Foto Ilustrasi: Salah satu rumah terdampak tanah gerak di Purworejo Pacitan. (Foto: Pujono/BPBD Pacitan)

Pacitanku.com, KEBONAGUNG – Titik baru pergerakan tanah muncul di Desa  Karangnongko, Kecamatan Kebonagung, (7/3). Sebanyak 13 rumah mengalami retak-retakan akibat fenomena tersebut. Menjalarnya garis retakan hanya membutuhkan waktu tiga bulan sejak pertama kali ditemukan.

Fenomena tanah gerak Desa Wonoanti Kecamatan Tulakan, lalu Desa Purworejo Pacitan Kota, dan Desa Glinggangan Kecamatan Pringkuku. Tanah gerak terparah terjadi di Purworejo. Di desa itu, sebanyak 19 rumah menjadi korban, sebelas di antaranya rusak parah.

Sedangkan di Karangnongko, kendati belum parah merusak rumah dan mengancam jiwa, namun fenomena tersebut cukup membuat warga merasa was-was. ‘’Rasa cemas tetap ada. Sebab, retakan ini terus meluas,’’ ujar salah satu korban pergerakan tanah Karangnongko, Slamet Kuncoro, dilansir dari Radar Madiun.

Di rumah Slamet, garis retakan pertama kali diketahui di teras rumahnya. Hanya butuh tiga bulan, garis retakan menjalar sepanjang 20 meter mencapai ke bagian belakang rumah. Akibat retakan di lantai itu, lantai terasnya bergelombang.




Hal itu juga membuat pintu depan rumahnya tidak bisa lagi dibuka tutup. Menurut Slamet, perkembangan retakan dapat dirasakan dari dalam rumah. ‘’Kerap terdengar suara tiang penyangga atau lantai itu merekah. Kalau diamati, per hari kadang bisa sampai setengah sentimeter,’’ katanya.

Dari rumah Slamet, retakan rupanya terus menjalar sampai ke 12 rumah lainnya di RT 3/RW 2. Sejak semakin parah Februari lalu, Slamet dan warga lainnya melapor ke kepala desa dan camat setempat. Laporan mereka kemudian ditindaklanjuti BPBD yang turun meninjau lokasi.

Kepala Seksi Rehabilitasi dan Rekonstruksi BPBD Pacitan, Pujono, menyebut total terdampak pergerakan tanah Karangnongko berdasarkan data resmi ada 13 rumah. Lebar retakan paling parah hanya dua sentimeter.

Namun, panjang garis retakan mencapai ratusan meter, jika diukur dari rumah Slamet hingga rumah paling barat yang terdampak. ‘’Fenomenanya terbilang baru, jika dibandingkan lokasi gerakan tanah lainnya yang ada di Pacitan,’’ ujarnya.

Dari peninjauan yang dilakukan, Pujono menyebut pihaknya belum bisa memberi keputusan apakah warga terdampak pergerakan tanah Karangnongko harus direlokasi atau tidak. Sebab, kendati terus berkembang, namun kondisi rumah masih dinilai relatif aman untuk ditinggali.

Namun, tidak menutup kemungkinan perkembangannya bisa menjadi lebih parah lagi. Sebab, musim hujan diperkirakan baru akan berakhir April mendatang. ‘’Untuk sementara masih relatif aman. Tetapi potensi perkembangannya masih ada, selama hujan terus turun,’’ terangnya.