Hingga Pertengahan Februari, DBD di Pacitan Capai 240 Kasus

oleh -Dibaca 1,113 kali

Pacitanku.com, PACITAN – Setelah dipastikan menjadi daerah dengan jumlah kasus Demam Berdarah Dengue terbanyak di Jawa Timur pada bulan Januari 2016, penderita di Pacitan terus mengalami kenaikan.

Data dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Pacitan hingga 12 Februari 2016, jumlah kasus DBD di Pacitan sudah mencapai 240 kasus atau meningkat 71 kasus dibanding bulan Januari yang mencapai 169 kasus.

Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Dinas Kesehatan Pacitan, Bambang Widjanarko menyatakan bahwa meski meningkat, namun kasusDBD di Pacitan belum masuk kategori kejadian luar biasa (KLB).

“Dibanding bulan yang sama tahun sebelumnya, kasus penyakit DBD memang sedikit menurun. Kalau Januari tahun lalu, sudah ada 280 kasus, namun tahun ini hanya 169 penderita,” jelasnya kepada wartawan, Selasa kemarin.

Menurut Bambang, tidak semua penyakit dengan gejala klinis panas tinggi, dipastikan sebagai DBD. Hal tersebut perlu dilakukan penyelidikan epidemiologi (PE) terlebih dulu. “Tidak semua penyakit dengan panas tinggi, diklaim sebagai DBD. Ada juga penyakit demam dengue, namun bukan DBD,” ujarnya.


Saat ini, pihak Dinas Kesehatan sendiri baru bisa menginput data setelah ada pelaporan dari unit layanan kesehatan yang merawat pasien DBD. Seperti puskesmas dan rumah sakit daerah (RSD). Sebelum menyampaikan pelaporan, setiap unit layanan kesehatan harus melakukan PE terlebih dulu. Sebab tidak semua penyakit dengan gejala panas tinggi, merupakan DBD.

Sebelumnya diberitakan di Pacitanku.com, Kabupaten Pacitan menduduki daerah tertinggi dengan kasus demam berdarah dengue (DBD) di Provinsi Jawa Timur. Dinas Kesehatan (Dinkes) Jatim mencatat 152 kasus DBD di kabupaten tersebut dan tak ada korban meninggal sepanjang Januari 2015.

Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Masalah Kesehatan Dinas Kesehatan Jatim (Kabid PPMK Dinkes Jatim), Ansarul Fahrudda, mengatakan kebersihan lingkungan menjadi alasan kasus DBD tertinggi ditemukan di Pacitan. Yaitu tak terawat dan kumuh.

“Jadi kami imbau masyarakat selalu membersihkan tempat-tempat kumuh di lingkungannya. Jangan selalu bergantung sama petugas. Kesadaran masyarakat terhadap kebersihan adalah hal paling utama,” kata Ansarul di kantornya di Kota Surabaya beberapa waktu lalu. (yun/net/RAPP002)