Produksi Tanaman Pangan Menurun, Begini Penjelasan Dishutbun Pacitan

oleh -13874 views
Bupati Pacitan Menanam Padi dengan Metode SRI, Rabu (14/5/2014) di Gayuhan Arjosari. (Foto : Doc. Info Pacitan)
Bupati Pacitan Menanam Padi dengan Metode SRI, Rabu (14/5/2014) di Gayuhan Arjosari. (Foto : Doc. Info Pacitan)
Lahan Kedelai (Foto : tempo)
Lahan Kedelai (Foto : tempo)

Pacitanku.com, PACITAN – Kepala Dinas Dinas Kehutanan dan Perkebunan (Dishutbun) Kabupaten Pacitan, Wardoyo menyampaikan penjelasan terkait pernyataan pengalihan pupuk bersubsidi dari tanaman pangan ke tanaman kayu-kayuan.

Sebelumnya, kelompok jabatan penyuluh Dinas Tanaman Pangan dan Peternakan (Distanak) Pacitan sempat menuding, salah satu kendala peningkatan produksi padi sebesar 10 persen saban tahunnya karena kurangnya kuota pupuk unorganik. Penyebabnya adalah banyaknya pupuk bersubsidi yang seharusnya diperuntukan pemupukan tanaman pangan, seperti kedelai, padi, serta jagung, namun dialihkan ke tanaman kayu-kayuan

Menurut Wardoyo, pihaknya tidak memungkiri, seandainya ada pupuk bersubsidi yang dipergunakan petani untuk memupuk tanaman kayu-kayuan. Ia juga tak menampik jika benturan kepentingan yang selama ini terus dihadapi petani, memang masih menjadi persoalan klasik yang sulit terpecahkan.

“Apalagi, realita dilapangan memang banyak petani, selain memiliki lahan pertanian, juga memiliki lahan kering yang ditanami kayu-kayuan, karena persoalan tersebut, tidak menutup kemungkinan para petani kita ada yang mengalihkan sebagian jatah pupuknya untuk memupuk tanaman kayu-kayuan, karena alasan ekonomi,” paparnya, baru-baru ini kepada wartawan.

Petani, kata Wardoyo, juga menginginkan hasil lebih dari usaha mereka bercocok tanam. Selain bergantung hidup dari tanaman musiman yang dalam jangka waktu pendek bisa segera dipanen, mereka juga mengadu untung dengan menanam tanaman jangka panjang.

“Meski jangka waktu tanamnya hingga lima tahun lebih, akan tetapi hasil panenan mereka jauh lebih gede ketimbang tanaman musiman. Persoalan tesebut, yang mungkin melatari pemikiran petani, mengalihkan sebagian pupuknya untuk merabuk tanaman kayu-kayuan miliknya,” terangnya.

Data dari Dishutbun, selama tiga tahun terakhir, luasan area pertanian teknis di Pacitan, menyempit hingga 6.000 hektar lebih. Sementara luasan hutan hak justru terus meningkat seiring harapan petani meningkatkan taraf perekonomiannya dengan menanam kayu-kayuan.

Saat ini, luas hutan hak di Pacitan, sudah mencapai 72.000 hektar lebih. Para petani, diakuinya lebih terfokus mengembangkan tanaman bawah tegakan. Seperti porang, jahe, serta kunir. Sebab tanaman tersebut tidak membutuhkan banyak penyinaran. Berbeda dengan tanaman padi yang memang membutuhkan perlakuan khusus. Selain penyinaran cukup, juga ketersediaan air dan pemupukan berimbang.

“Dishutbun sejatinya sudah banyak memberikan konseling kepada petani agar lebih mengedepankan penggunaan pupuk bokasi dan kandang. Namun kembali lagi, mereka juga butuh peningkatan ekonomi. Sehingga wajar, agar tanaman kayu mereka cepat gede, terpaksa harus dirabuk denga pupuk unorganik,”pungkasnya. (yun/RAPP002)