Penggunaan Cold Storage Tenaga Surya di Tamperan Mutlak Dibutuhkan

oleh -Dibaca 1.466 kali
Kondisi ruangan Cold Storage menghasilkan suhu hingga minus 5 derajat Celcius. (Foto: Tommy Apriando/Mongabay Indonesia)
Kondisi ruangan Cold Storage menghasilkan suhu hingga minus 5 derajat Celcius. (Foto: Tommy Apriando/Mongabay Indonesia)
Kondisi ruangan Cold Storage menghasilkan suhu hingga minus 5 derajat Celcius. (Foto: Tommy Apriando/Mongabay Indonesia)
Kondisi ruangan Cold Storage menghasilkan suhu hingga minus 5 derajat Celcius. (Foto: Tommy Apriando/Mongabay Indonesia)

Pacitanku.com, PACITAN – Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Tamperan, Pacitan pada akhirnya menggunakan sistem pendingin atau Cold Storage berbasis tenaga surya. Hal ini tentu sangat berpengaruh kepada produktivitas peningkatan produksi ikan di Pelabuhan Ikan terbesar di Pacitan itu. Namun, sebelumnya diketahui bahwa warga nelayan enggan dan ragu menggunakan lemari pendingin berenergi terbarukan.

Nelayan ragu bahwa dengan energi surya bisa menghasilkan energi dingin yang baik. Akan tetapi saat ini diketahui bahwa para nelayan di Tamperan memahami bahwa energinya stabil dan bagus. Walaupun lemari pendingin yang ada masih belum bisa menjawab kebutuhan yang lebih besar bagi nelayan dan suhu yang lebih dingin hingga bisa membekukan ikan.

“Kapasitas ratusan kilo diharap bisa diperbesar hingga ton dan suhunya diturunkan hingga -30 derajat celcius. Ini karena hasil tangkapan semakin meningkat, dan menghemat biaya operasional pendinginan ikan,” kata Choirul Huda, Kepala seksi Pelabuhan Perikanan Pantai Tamperan, seperti dilansir dari laman resmi Mongabay Indonesia, Kamis (22/5/2014).

Penggunaan energi terbarukan untuk lemari pendingin di Pacitan merupakan bukti bahwa energi ramah lingkungan itu bisa bermanfaat, bisa dilakukan dan diaplikasikan. Energi terbarukan adalah solusi tepat untuk menghambat laju perubahan iklim.

Energi terbarukan juga menjadi sumber energi potensial agar Indonesia dapat mewujudkan keadilan energi dan kedaulatan energi. “Indonesia harus mulai beralih menggunakan energi ramah lingkungan (terbarukan) dan meninggalkan energi kotor dari batubara,” kata Arif Fiyanto dari Greenpeace Indonesia.

Redaktur : Robby Agustav