Pacitan Rawan Bencana, Begini Cara BPBD dan PWI Ubah Berita Jadi Senjata Mitigasi Warga

oleh -494 Dilihat
Kalaksa BPBD Pacitan Erwin Andriatmoko memaparkan materi didampingi Sulthan Shalahuddin dan Purwoto di Workshop Jurnalistik Kebencanaan
Kepala BPBD Pacitan, Erwin Andriatmoko (tengah) memaparkan materi tentang urgensi komunikasi kebencanaan, didampingi Sekretaris PWI Pacitan Sulthan Shalahuddin selaku moderator (kiri) dan narasumber jurnalis senior Purwoto (kanan) dalam Workshop Jurnalistik Kebencanaan di Parai Teleng Ria, Selasa (13/10). (Foto: Putro Primanto/Pacitanku)

Pacitanku.com, PACITAN – Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pacitan menggelar Workshop Jurnalistik Kebencanaan pada Selasa (13/10/2026) di Parai Beach Resort Teleng Ria, Kelurahan Sidoharjo, Pacitan.

Mengusung tema “Semangat Kolaborasi dan Penguatan Budaya Mitigasi”, kegiatan ini bertujuan memperkuat budaya mitigasi bencana di masyarakat melalui peran strategis pers dalam menyampaikan informasi yang akurat, edukatif, dan humanis.

Baca juga: Tangkal Hoaks Bencana, PWI dan BPBD Pacitan Bekali Jurnalis Ilmu Mitigasi

Selain insan pers, workshop turut diikuti oleh jajaran BPBD, serta perwakilan humas maupun tim media sosial dari instansi pemerintah hingga admin media sosial komunitas Pacitan.

Kepala Pelaksana BPBD Pacitan, Erwin Andriatmoko, menegaskan bahwa komunikasi kebencanaan memegang peran vital dalam mendukung penanggulangan bencana di wilayah rawan.

Alur informasi yang tepat mampu mencegah kepanikan sekaligus menyelamatkan nyawa.

“Dalam praktiknya, informasi mengenai potensi ancaman, peringatan dini, perkembangan situasi, serta langkah evakuasi perlu disampaikan secara jelas dan terkoordinasi,”kata Erwin.

“Informasi tersebut harus bersumber dari pihak yang berwenang dan disesuaikan dengan kondisi di lapangan,”imbuh mantan Camat Tulakan ini.

Di sisi lain, media juga memikul tanggung jawab besar agar tidak sekadar mengeksploitasi duka saat bencana melanda.

Praktisi media PWI sekaligus jurnalis senior Radio Suara Pacitan, Purwoto, memaparkan bahwa jurnalis harus mampu mengemas berita bencana secara menarik tanpa mengesampingkan kepentingan dan privasi publik.

“Wartawan dituntut mampu memilah fakta, memverifikasi informasi, serta menjaga etika ketika meliput masyarakat terdampak. Penggunaan foto, video, kutipan narasumber, dan data korban perlu mempertimbangkan aspek kemanusiaan,”jelas Purwo.

Pandangan tersebut sejalan dengan misi akademis Purwoto yang belum lama ini sukses merampungkan studi Magister Manajemen Bencana di Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Yogyakarta.

Baca juga: Riset Tesis Manajemen Bencana, Jurnalis Senior Purwo Dorong Media Lokal Bertransformasi Demi Target ‘Zero Victim’

Melalui tesisnya yang menyoroti analisis framing media pada pemberitaan banjir dan longsor Pacitan 2017, ia menekankan betapa krusialnya peran pers dalam edukasi kebencanaan.

Kondisi geografis Pacitan yang kompleks—mulai dari kawasan pesisir, perbukitan, hingga karst—membutuhkan kesadaran mitigasi yang berkesinambungan.

Oleh karena itu, pemberitaan idealnya bergeser dari sekadar data kerusakan menuju edukasi penyebab risiko, pengenalan jalur evakuasi, hingga praktik baik kesiapsiagaan warga.

“Dengan pendekatan tersebut, media dapat berkontribusi dalam membangun masyarakat yang lebih tangguh menghadapi bencana,”pungkas Purwo.

Melalui konsistensi literasi di media, diharapkan masyarakat semakin sadar bahwa pengurangan risiko bencana bukan sekadar tugas pemerintah, melainkan tanggung jawab bersama demi ketangguhan wilayah.

No More Posts Available.

No more pages to load.