Pacitanku.com, DONOROJO – Tim Ekspedisi Gahvara Yava 2026 berhasil mengungkap temuan ekologis dan geologis penting saat mengesplorasi Luweng Ombo di Desa Kalak, Kecamatan Donorojo, Pacitan mulai 9 hingga 19 Agustus 2026.
Temuan tersebut meliputi identifikasi biota, jejak eDNA, hingga penambahan rekor panjang lorong bawah tanah di Gua Luweng Ombo.
Ketua Ekspedisi Gahvara Yava 2026, Muh. Wahid Guntur Pambudi, menyampaikan bahwa 30 personel yang terlibat dalam penelusuran sukses mengevakuasi sampel ilmiah dan memverifikasi konektivitas lorong gua. Fokus ekspedisi ini menghasilkan data substansial bagi penelitian keanekaragaman hayati karst di wilayah tersebut.
“Selain penambahan peta lorong Gua Luweng Ombo, kami juga berhasil mengambil sampel dari sedimen lumpur dan air untuk nanti diuji eDNA-nya guna mengetahui biota apa saja yang pernah hidup di situ. Kami juga berhasil mengambil biota udang serta kepiting,” ungkap pria yang akrab disapa Guntur tersebut, usai mengikuti upacara HUT ke-81 RI di kawasan Luweng Ombo, Senin (17/8/2026).
Lebih lanjut, temuan krusial lainnya adalah pembuktian sistem hidrologi bawah tanah. Tim berhasil memverifikasi peta terdahulu yang menyebutkan bahwa lorong utama Gua Luweng Ombo secara sah terhubung dengan Gua Luweng Kebon hingga mencapai area Mosi Chamber.
Di samping temuan ekologis, ekspedisi ini turut mencatatkan rekor baru dalam pemetaan speleologi nasional. Total panjang lorong Gua Luweng Ombo bertambah dari 7,5 kilometer menjadi 8.242,5 meter.
Pencapaian ini menaikkan peringkat Luweng Ombo menjadi gua terpanjang ketujuh di Indonesia, sekaligus mengukuhkan statusnya sebagai gua terdalam di Pulau Jawa pada kedalaman 246 meter.
Seluruh data tersebut diperoleh melalui medan yang sangat ekstrem. Guntur menjelaskan, tim harus berhadapan dengan area berlumpur pekat serta ancaman zona minim oksigen.
“Kesulitan utama di Gua Luweng Ombo adalah lumpur yang sangat dalam. Di beberapa titik, kedalamannya mencapai dada hingga leher orang dewasa, sehingga sangat menghambat pergerakan. Selain itu, di beberapa bagian lorong terdapat fenomena minim oksigen yang memicu hiperventilasi, sehingga menyebabkan gejala hipoksia pada penelusur di dalam,” jelasnya.
Mengingat tingginya risiko keselamatan dan masih adanya lorong berstatus Continue Unexplored (belum tereksplorasi hingga ujung), tim memutuskan untuk menunda penelusuran lanjutan.
“Ke depan pasti akan kita lanjutkan, tapi kemungkinan tidak dalam waktu dekat. Kita perlu menyusun strategi dan persiapan. Hasil evaluasi dari ekspedisi kali ini tentu saja menjadi bekal untuk ekspedisi berikutnya,” pungkasnya.
Sebagai penutup rangkaian kegiatan, ekspedisi ini juga diwarnai dengan aksi solidaritas kemanusiaan. Tim membangun instalasi air bersih yang diproyeksikan mampu mengaliri 32 rumah warga di Dusun Sawahan Kulon, Desa Klepu, Kecamatan Donorojo.
Video Ekspedisi Gahvara Yava 2026 Dimulai! Ratusan Caver Siap Taklukkan Luweng Ombo Pacitan











