Habitat Terganggu, Teror Ular Masuk Permukiman di Pacitan Timur Meningkat Dua Kali Lipat

oleh -240 Dilihat
WASPADA. Anggota Tim Animal Rescue Pacitan (EXALOS Indonesia) saat mengamankan ular dari permukiman warga. Sepanjang tahun 2025, tercatat lonjakan kasus evakuasi ular di wilayah Pacitan bagian timur hingga dua kali lipat, yang diduga kuat akibat alih fungsi lahan dan rusaknya habitat alami. Foto: Dok. EXALOS Indonesia

Pacitanku.com, PACITAN – Interaksi antara manusia dan satwa liar, khususnya ular, di wilayah Kabupaten Pacitan bagian timur menunjukkan tren peningkatan yang cukup mengkhawatirkan sepanjang tahun 2025.

Tim Animal Rescue Pacitan dari EXALOS Indonesia mencatat adanya lonjakan kasus evakuasi ular hingga dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya, sebuah fenomena yang disinyalir kuat akibat dampak alih fungsi lahan yang semakin masif.

Berdasarkan data rekapitulasi tim penyelamat, tercatat sebanyak 18 kasus evakuasi ular terjadi sepanjang tahun ini. Angka tersebut melonjak tajam jika disandingkan dengan catatan tahun 2024 yang hanya berjumlah 9 kasus.

Peningkatan intensitas konflik satwa ini terpusat di wilayah Pacitan bagian timur, membentang dari kawasan Wonogondo Kebonagung hingga Sudimoro.

Baca juga: Indukan King Kobra dan 21 Telur Siap Menetas di Pacitan Berhasil Dievakuasi

Mayoritas insiden masuknya ular ke area warga terjadi pada periode akhir tahun, tepatnya antara bulan Agustus hingga Desember.

Nugroho, perwakilan dari Tim EXALOS Indonesia, membenarkan adanya kenaikan signifikan tersebut. Menurutnya, data di lapangan menunjukkan bahwa ular semakin sering ditemukan berkeliaran di dekat aktivitas manusia.

“Sangat meningkat dibanding tahun 2024 yang hanya 9 kasus. Sudah terdata 18 kali selama setahun ini,”kata Nugroho.

Lebih lanjut, Nugroho menganalisis bahwa pergeseran fungsi lahan menjadi penyebab utama naiknya interaksi antara ular dan manusia.

Pembangunan permukiman dan alih fungsi lahan lainnya telah mendesak habitat alami satwa melata tersebut.

Kondisi ini diperparah dengan rusaknya rantai makanan di alam liar, yang memaksa ular keluar dari sarangnya demi bertahan hidup.

“Pergeseran fungsi lahan atau habitat yang digunakan sebagai bangunan menyebabkan pakan ular yang tersedia semakin langka. Hal ini menjadikan ular banyak ditemukan oleh manusia berkeliaran di sekitar permukiman,”jelas Nugroho.

Menghadapi situasi ini, Tim EXALOS Indonesia mengeluarkan seruan kepada masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan.

Imbauan ini menjadi krusial mengingat sebagian besar ular yang dievakuasi memiliki tingkat bisa yang mematikan, termasuk jenis King Kobra yang baru-baru ini ditemukan. Tim mengingatkan warga agar tidak panik namun tetap waspada jika bertemu ular.

Sangat disarankan untuk menjaga jarak aman sekitar 6 hingga 10 meter, karena ular dapat melakukan pergerakan atau serangan mendadak dalam radius tertentu.

Selain menjaga jarak, upaya pencegahan paling efektif adalah dengan menjaga kebersihan lingkungan rumah agar tidak menarik perhatian mangsa ular, seperti tikus.

Nugroho juga menegaskan agar warga yang tidak memiliki keahlian khusus untuk tidak nekat menangani ular berbisa sendirian.

“Tetap jaga kebersihan lingkungan dan waspada. Bagi yang awam tidak disarankan menyentuh ular dengan tangan kosong,”pungkasnya.

Bagi masyarakat Pacitan yang menemukan keberadaan ular dan membutuhkan penanganan darurat oleh tenaga profesional, dapat segera menghubungi Tim Animal Rescue Pacitan melalui nomor kontak 087806482994.

No More Posts Available.

No more pages to load.