Petani Muda Harus Jadi Bos! Melon Hidroponik Deep Flow Technique Jadi Terobosan Ekonomi Baru Pacitan

oleh -1743 Dilihat
Pemilik Kitamani Garden, Sutarno, berharap agrowisata ini menginspirasi petani lokal, khususnya generasi muda. (Foto: Febriani Cahyaningtias/Pacitanku)

Pacitanku.com, TULAKAN – Inovasi pertanian modern telah hadir di Kabupaten Pacitan melalui pengembangan melon hidroponik di “Kitamani Garden”, Desa Nglaran, Kecamatan Tulakan, Kabupaten Pacitan.

Proyek yang didirikan Sutarno, seorang warga Pacitan yang berdomisili di Bekasi, ini bertujuan ganda, yakni menciptakan peluang ekonomi dari budidaya melon premium sekaligus menarik minat generasi muda Pacitan untuk berkecimpung di sektor pertanian.

Sutarno mengaku termotivasi untuk menggairahkan pertanian Pacitan setelah melihat kesuksesan anak-anak muda di daerah lain di Jawa Timur yang menjadi pemasok buah-buahan premium.

Ia mendirikan green house berukuran 550m² dan memilih sistem Deep Flow Technique (DFT) untuk menanam melon jenis Inthanon dan Lavender.

“Motivasinya adalah ekonomi yang jelas kita ngulik tentang ekonomi, saya mau kalau sukses, saya pengen Pacitan ini juga bergairah pertaniannya seperti daerah lain di Jawa Timur,”kata Sutarno, Minggu (2/11/2025) di Tulakan.

Baca juga: Mantap, Agrowisata Petik Melon di Tulakan Pacitan Kebanjiran Pengunjung

Sutarno menjelaskan, sistem DFT dipilih karena lebih tahan terhadap gangguan seperti pemadaman listrik dibandingkan sistem lain.

Meskipun proses tanam hingga panen memakan waktu 63 hingga 70 hari, kendala terbesar yang dihadapi adalah penyakit yang dipicu oleh kelembaban tinggi dan cuaca yang tidak menentu.

“Tapi terkait dengan penyakit di manapun tempatny pasti ada kendalanya misalkan seperti cuaca hujan panas tidak menentu, jadi kendala kita ada di kelembaban dan busuk batang,” katanya.

Untuk mengatasinya, pencegahan dilakukan secara ketat, termasuk pengolesan fungisida dan menjaga lingkungan green house tetap steril. Ia menambahkan, melon jenis Lavender dipilih karena lebih tahan penyakit dan cocok untuk petani pemula.

Potensi pasar melon premium ini terbukti sangat menjanjikan. Antusiasme masyarakat yang tinggi saat Sutarno membuka wisata edukasi (open garden) sejak 30 Oktober hingga 2 November menjadi bukti tingginya permintaan pasar lokal.

Sutarno berharap, terobosan ini dapat menggerakkan anak-anak muda Pacitan. Ia melihat di daerah lain di Jawa Timur, pemasok utama buah-buahan ke Jakarta didominasi oleh anak-anak muda.

“Saya berharap anak muda yang melakukan ini sehingga menjadi kekuatan ekonomi kita, menurut saya anak-anak muda di Pacitan ini belum mau menyentuh pertanian,” ungkapnya.

Ke depan, ia berencana menambah varietas tanaman hidroponik lain, seperti anggur dan strawberry, demi memperluas agrowisata edukasi.

No More Posts Available.

No more pages to load.