Film Pendek “Tenang (Ini Tempat Untuk Pulang)” Harumkan Nama Pacitan di Festival Film Australia

oleh -918 Dilihat
Pemutaran film-film Jatim pilihan dalam Indonesia Western Australia Film Festival (IWAFF) 2025 di Perth dan Fremantle, Australia. (Foto: Istimewa)

Pacitanku.com, AUSTRALIA–Kabar membanggakan datang dari dunia perfilman Pacitan.

Sebuah film pendek kontemplatif berjudul Tenang (Ini Tempat Untuk Pulang), garapan sineas muda asal Pacitan, berhasil menembus ajang Indonesia Western Australia Film Festival (IWAFF) 2025.

Festival bergengsi ini digelar di Perth dan Fremantle, Australia, pada 27 September hingga 4 Oktober 2025, dengan menampilkan 33 karya film pendek terpilih dari Jawa Timur.

Film ini mengisahkan perjalanan pulang seorang pria bernama Awan (35) ke kampung halamannya di Desa Worawari, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur.

Kembalinya Awan ke desa pesisir itu membangkitkan kenangan masa kecilnya bersama sang ayah.

Jejak kebudayaan Eretan, tradisi menarik perahu nelayan ke pantai, serta simbol sebuah jaring tua menjadi pengingat tentang cinta, luka, dan keheningan yang tak pernah terucap.

Tanpa dialog, film ini mengajak penonton merasakan perjalanan batin seorang anak lelaki yang tumbuh dalam diam, mencoba berdamai dengan masa lalunya.

Sutradara sekaligus penulis film, Mizan Mohammad Latief, menyebut karya ini lahir dari pengalaman personal tim produksi.

“Kami mencoba mengangkat sisi emosi seorang anak yang pernah memiliki hubungan dingin dengan bapaknya ketika beranjak dewasa. Ada yang hanya bicara seperlunya, ada yang bertahun-tahun saling diam, bahkan ada yang tak sempat bertemu lagi karena kondisi keluarga,” tutur Latief kepada tim media Pacitanku.com

Menurutnya, manusia baru mampu berdamai dan memaafkan ketika jiwanya berada dalam kondisi tenang.

“Rasa tenang itulah yang membuat manusia merasa pulang,” tambah Latief.

Dari sisi artistik, film ini tampil dengan gaya naratif puitis tanpa penokohan yang kuat.

Alurnya justru dibangun dari suasana kontemplatif, suara-suara ingatan, dan visual yang memadukan fiksi dengan dokumenter.

Latief menjelaskan, adegan budaya Eretan direkam secara nyata di pantai, dengan masyarakat nelayan setempat yang terbiasa dengan kamera karena pendekatan intens dari tim produksi.

“Budaya bahari kami angkat sebagai representasi setting lokasi, sekaligus bagian dari identitas Pacitan sebagai wilayah pesisir selatan Jawa,” ujarnya.

Aditia Susiawan, produser film sekaligus tandem Latief sebagai penulis naskah, menambahkan bahwa karya ini juga menjadi bukti bahwa keterbatasan geografis tidak membatasi kreativitas.

“Pacitan bukan kota besar, tapi imajinasi bisa lahir dari mana saja. Cerita yang lahir dari tanah kelahiran justru memiliki kekuatan yang lebih jujur,” katanya.

Capaian ini pun mendapat apresiasi dari berbagai pihak.

Film Tenang bukan hanya mengisahkan hubungan personal ayah-anak, tetapi juga merekam kehidupan sosial masyarakat pesisir.

Sineas lokal Pacitan berhasil menghadirkan cerita yang sederhana namun penuh makna, dengan ketrampilan teknis dan kreativitas yang tak kalah dari karya sineas kota besar.

Lebih jauh, prestasi ini sekaligus menegaskan geliat perfilman di Pacitan.

Dalam beberapa tahun terakhir, semakin banyak film diproduksi dengan latar utama Pacitan, menunjukkan daerah ini mulai dilirik sebagai ruang kreatif.

Pemerintah daerah pun mulai berupaya memajukan perfilman, salah satunya dengan mengundang sineas nasional ke Pacitan untuk berbagi pengalaman dan membuka kolaborasi.

Menurut Latief, langkah ini patut disambut baik oleh komunitas film lokal.

Kesempatan akan semakin terbuka lebar ke depan, sehingga sineas-sineas lokal diharapkan menjadi semakin bersemangat dalam membuat karya.

Tidak inferior meskipun berasal dari kota kecil di ujung provinsi Jawa Timur.

“Harapannya, seluruh sineas atau pegiat film di Pacitan mendapat perhatian yang sama, kesempatan untuk terlibat, tumbuh, dan berkembang. Apalagi, Film adalah media penting untuk merekam jejak kebudayaan, peradaban, sosial, dan isu-isu daerah yang seringkali tak pernah terdengar,” jelasnya.

Ratih, salah satu pegiat budaya Pacitan sangat mengapresiasi film ini.

Dimana dapat memadukan tradisi lokal dengan teknis film  sehingga menghasilkan karya yang tidak hanya bisa dinikmati, tetapi juga dipakai untuk pembelajaran bagi komunitas film lokal.

“Film “Tenang” adalah sebuah karya yang layak ditonton bagi pecinta keindahan alam,budaya dan tradisi.

Film ini berhasil menggambarkan keindahan tradisi menarik jaring eretan dan kebersamaan masyarakat Pacitan.

Film ini juga mampu menjadi  pengingat akan pentingnya menghargai  dan melestarikan budaya maupun  tradisi lokal” katanya

Lebih lanjut, Ia menganggap dengan adanya film “Tenang”, bisa memperkenalkan Pacitan kepada dunia dengan cara yang estetik.

Membuktikan bahwa lewat film, potensi lokal Pacitan bisa diangkat.

“Melalui karya Film inilah cara yang tepat untuk mengenalkan Kab Pacitan tercinta dengan segala harmoni keindahannya kepada dunia dengan estetik” imbuhnya

Partisipasi Tenang (Ini Tempat Untuk Pulang) di IWAFF 2025 diharapkan tidak hanya menjadi kebanggaan bagi para pembuatnya, tetapi juga membuka jalan bagi film-film Pacitan lainnya untuk menembus panggung internasional.

Dari sebuah desa pesisir kecil, karya seni mampu berbicara banyak tentang keheningan, cinta, dan memori yang universal.

No More Posts Available.

No more pages to load.