Tembus Hujan Deras, 5.288 Penari Pecahkan Rekor MURI Langen Tayub Pacitan 2026

oleh -42 Dilihat
Wakil Ketua MPR RI Edhie Baskoro Yudhoyono menerima piagam Rekor MURI Langen Tayub Pacitan pada Gebyar Langen Tayub Pacitan 2026
REKOR DUNIA – Wakil Ketua MPR RI Edhie Baskoro Yudhoyono (empat dari kiri) menunjukkan medali dan piagam penghargaan Rekor MURI Langen Tayub Pacitan bersama perwakilan MURI serta jajaran Forkopimda dengan latar semarak kembang api dalam Gebyar Langen Tayub Pacitan 2026 di Stadion Wijaya Krida, Pacitan, Rabu (28/10/2026) malam (Foto: Tangkapan Layar Youtube Ibas Yudhoyono)

Pacitanku.com, PACITAN – Sebanyak 5.288 penari sukses memecahkan rekor dunia MURI Langen Tayub Pacitan sebagai pagelaran tari dengan peserta terbanyak di Stadion Wijaya Krida, Pacitan, Rabu (28/10/2026) malam.

Perhelatan kolosal Gebyar Langen Tayub Pacitan 2026 yang diprakarsai Wakil Ketua MPR RI Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas) bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda 2026 ini berlangsung khidmat meski sempat diguyur hujan deras.

Ribuan penari pria dan wanita dari 12 kecamatan tersebut tetap bertahan di tengah lapangan dengan mengenakan busana adat khas daerah. Antusiasme masyarakat yang tinggi membuat partisipasi penari melampaui target awal sebanyak 5.000 orang.

Sebanyak 5.288 penari—terdiri atas 3.130 penari pria dan 2.205 penari wanita dari 12 kecamatan—berdiri rapi membentuk barisan di tengah lapangan.

Di bawah alunan gamelan Jawa dan tembang para Waranggono, ribuan penari secara serentak menggerakkan tubuh mereka mengikuti ritme gending Dirgahayu, Mustika Pancasila, Pisang Bali, hingga Ricik-ricik.

Meski area stadion sempat dibasahi rintik hujan, semangat para peserta dari kalangan generasi muda hingga pandemen senior tetap menyatu penuh antusias dalam kibatan selendang atau sampur yang diayunkan secara selaras.

Baca juga: Semangat Sumpah Pemuda, Warga Lintas Usia di Jatigunung Pacitan Kompak Lestarikan Langen Tayub

Aksi 5.288 Penari Pecahkan Rekor MURI Langen Tayub Pacitan di Stadion Wijaya Krida
TARI KOLOSAL – Ribuan penari pria dan wanita dari 12 kecamatan kompak mengenakan busana adat berpadu sampur biru saat membawakan Tari Langen Tayub untuk memecahkan Rekor MURI Langen Tayub Pacitan dalam Gebyar Langen Tayub Pacitan 2026 di Stadion Wijaya Krida, Pacitan, Rabu (28/10/2026) malam (Foto: Tangkapan Layar Youtube Ibas Yudhoyono)

Ayunan sampur dan keselarasan gerak gemulai para penari menjadi simbol visual dari rasa saling menghargai, keakraban, serta keharmonisan antarwarga.

Setiap derap langkah dan gerakan para pambeksa tidak hanya menampilkan keindahan seni tradisi, tetapi juga memancarkan filosofi guyub rukun dan gotong royong yang mengikat persaudaraan masyarakat Pacitan.

Senior Representative Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI), Ari Andriani, mengapresiasi ketangguhan para peserta saat menyerahkan sertifikat rekor dunia bernomor 12.990/R.MURI/X/2026 kepada Edhie Baskoro Yudhoyono (Mas Ibas).

“Dari 5.000 peserta yang diusulkan, setelah kami verifikasi ada 5.288 peserta, sungguh luar biasa!” tegas Ari Andriani.

Senada, Ketua Umum MURI Jaya Suprana melalui sambutan virtual menilai pencapaian rekor dunia tari Langen Tayub ini memiliki makna yang melampaui catatan angka statistik.

“Museum Rekor-Dunia Indonesia memandang bahwa peristiwa ini bukan sekadar tentang jumlah penari yang luar biasa banyak. Lebih dari itu, ini cerminan semangat gotong royong dan kecintaan pada budaya daerah,” kata Jaya Suprana.

Sebagai pemrakarsa Gebyar Langen Tayub Pacitan 2026, Edhie Baskoro Yudhoyono menegaskan bahwa pelestarian tradisi merupakan fondasi utama dalam merawat ingatan sejarah dan identitas kebangsaan.

Wakil Ketua MPR RI Edhie Baskoro Yudhoyono memberikan sambutan pada acara pemecahan Rekor MURI Langen Tayub Pacitan di Gebyar Langen Tayub Pacitan 2026
RAWAT TRADISI – Wakil Ketua MPR RI sekaligus Pemrakarsa Acara, Dr. H. Edhie Baskoro Yudhoyono (Mas Ibas), mengenakan busana adat khas Jawa saat menyampaikan sambutan pembukaan Gebyar Langen Tayub Pacitan 2026 yang sukses mencatatkan Rekor MURI Langen Tayub Pacitan di Stadion Wijaya Krida, Pacitan, Rabu (28/10/2026) malam (Foto: Tangkapan Layar Youtube Ibas Yudhoyono)

Menurutnya, tarian tradisional ini merefleksikan kehangatan persaudaraan warga di momentum Hari Sumpah Pemuda 2026.

“Seni bukan sekadar gerak, bukan sekadar irama. Seni adalah jiwa, budaya adalah akar, dan tradisi adalah jati diri kita,” ujar Mas Ibas di hadapan ribuan warga dan jajaran pejabat daerah.

Legislator Daerah Pemilihan Jawa Timur VII itu mengingatkan agar pesatnya pembangunan daerah tetap berpijak pada kelestarian budaya Pacitan.

Legislator Partai Demokrat itu pun mengajak seluruh elemen masyarakat terus memberi ruang kreativitas bagi seniman tradisi agar kebudayaan nasional tetap relevan.

“Pacitan boleh terus melangkah maju, zaman boleh terus berubah, tetapi akar budaya jangan sampai patah,”pungkas Ibas.

No More Posts Available.

No more pages to load.