Jaga Predikat UNESCO Global Geopark, Tiga Kabupaten Lintas Provinsi Konsolidasikan Masa Depan Geopark Gunung Sewu

oleh -35 Dilihat
Sekda Pacitan Heru Wiwoho menyerahkan cendera mata Wayang Beber Pacitan kepada Asesor UNESCO Prof. Emeritus Dato’ Dr. Ibrahim Bin Komoo dalam evaluasi Geopark Gunung Sewu.
Sekda Pacitan Heru Wiwoho (kiri) menyerahkan cendera mata Wayang Beber Pacitan kepada Asesor UNESCO Prof. Emeritus Dato’ Dr. Ibrahim Bin Komoo (kanan) di sela rapat koordinasi evaluasi Gunung Sewu UNESCO Global Geopark di Rumah Dinas Bupati Pacitan, Sabtu (24/10/2026). Warisan budaya khas Pacitan ini menjadi bagian dari kekayaan keragaman budaya (cultural diversity) yang mendukung kelestarian kawasan Geopark Gunung Sewu. (Foto: Dok. Prokopim Pacitan)

Pacitanku.com, PACITAN — Pemerintah Kabupaten Pacitan, Wonogiri, dan Gunungkidul yang tergabung dalam kerja sama Pawonsari menggelar rapat koordinasi bersama asesor internasional di Pacitan, Sabtu (24/10/2026), guna mematangkan evaluasi Geopark Gunung Sewu dalam mempertahankan status UNESCO Global Geopark menjelang Revalidasi III tahun 2027.

Pertemuan monitoring dan evaluasi di Halaman Wingking (Halking) Rumah Dinas Bupati Pacitan tersebut menjadi langkah krusial di tengah rangkaian pra-revalidasi yang berlangsung pada 24–27 Oktober 2026.

Asesmen empat tahunan ini menentukan apakah kawasan kars lintas tiga provinsi tersebut berhak meraih Kartu Hijau (Green Card) untuk perpanjangan status dunia selama empat tahun, atau justru menerima Kartu Kuning (Yellow Card) dengan tenggat pembenahan dua tahun.

Sekretaris Daerah (Sekda) Pacitan Heru Wiwoho, saat mewakili Bupati Pacitan membuka acara, menekankan bahwa pengakuan internasional ini menjadi motor penggerak utama bagi sektor wisata Pacitan dan daerah penyangga di sekitarnya.

“Bagi Kabupaten Pacitan, keberadaan Gunung Sewu UNESCO Global Geopark merupakan kekuatan strategis dalam mendorong perkembangan pariwisata,”kata Sekda Heru Wiwoho saat membacakan sambutan Bupati Pacitan, Sabtu (24/10/2026).

Kendati demikian, Heru mengingatkan bahwa pengelolaan warisan bumi tersebut tidak dapat dijalankan secara terpisah. Menurutnya, dibutuhkan kolaborasi yang solid antara pemerintah daerah, badan pengelola geopark, dan masyarakat lokal.

Rakor strategis ini turut dihadiri Direktur Sumber Daya Energi, Mineral, dan Pertambangan Kementerian PPN/Bappenas Togu Pardede beserta jajaran, Asesor UNESCO Prof. Emeritus Dato’ Dr. Ibrahim Bin Komoo, Sekda Kabupaten Gunungkidul selaku Ketua Badan Pengelola Gunung Sewu UNESCO Global Geopark Sri Suhartanta, kepala perangkat daerah Provinsi Jawa Timur, pakar geologi, serta para pengelola geosite.

Dalam evaluasi kali ini, konsorsium pengelola memfokuskan pemenuhan lima kriteria utama UNESCO yang memadukan keragaman geologi (geodiversity), hayati (biodiversity), dan budaya (cultural diversity), disertai edukasi mitigasi bencana pada bentang alam yang memiliki sekitar 40.000 bukit kerucut kars tersebut.

Sejak memperoleh pengakuan UNESCO di Tottori, Jepang, pada 19 September 2015, kawasan ini menaungi 33 situs warisan yang tersebar di tiga zona: Geoarea Barat di Gunungkidul (13 situs, termasuk Gunung Api Purba Nglanggeran dan Gua Pindul), Geoarea Tengah di Wonogiri (7 situs, termasuk Gua Sodong dan Pantai Sembukan), serta Geoarea Timur di Pacitan (13 situs).

Khusus di wilayah timur, ke-13 geosite Pacitan yang menjadi tumpuan penilaian terbagi ke dalam tiga kategori unggulan. Kategori wisata bahari meliputi Pantai Klayar, Pantai Buyutan, Pantai Srau, Pantai Watukarung, dan Teluk Pacitan.

Kategori gua kars mencakup Gua Gong, Gua Tabuhan, Gua Luwengombo, serta Gua Luwengjaran, sedangkan situs arkeologi dan geologi prasejarah meliputi Song Terus, Sungai Baksoka, Guyang Warak, serta Situs Ngrijangan.

Mengusung filosofi “Memuliakan Warisan Bumi, Menyejahterakan Masyarakat”, keberlanjutan status Geopark Gunung Sewu dalam jaringan UNESCO Global Geopark tidak sekadar menjaga kebanggaan label internasional.

Melalui pelibatan aktif UMKM, Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), pengelola homestay, hingga pemandu lokal di sepanjang jalur kerja sama Pawonsari, predikat dunia ini menjadi jaminan promosi cuma-cuma bagi wisata Pacitan, Wonogiri, dan Gunungkidul di panggung global sekaligus magnet investasi hijau yang berkelanjutan.

No More Posts Available.

No more pages to load.