Pacitanku.com, TULAKAN — Kepala BPJS Ketenagakerjaan Cabang Pacitan, Sultan, bersama Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Pacitan, Nanang Hardwijono, mendatangi rumah duka nelayan korban kecelakaan laut di Desa Jetak, Kecamatan Tulakan, Kabupaten Pacitan, Kamis (15/10/2026).
Kunjungan tersebut sekaligus memastikan penyaluran hak santunan dan menyampaikan duka cita mendalam.
Kegiatan itu dilakukan setelah korban bernama Mislan (66) ditemukan meninggal dunia usai mengapung di perairan setempat. Sementara itu, satu nelayan lainnya yakni Budianto (57) hingga kini masih dalam proses pencarian intensif oleh tim SAR gabungan.
Kepala BPJS Ketenagakerjaan Pacitan, Sultan, menegaskan bahwa almarhum Mislan tercatat sebagai peserta aktif, sehingga ahli waris berhak menerima jaminan perlindungan sosial.
“Kami atas nama keluarga besar BPJS Ketenagakerjaan menyampaikan duka cita yang mendalam atas musibah laka laut yang menimpa para nelayan kita. Almarhum Bapak Mislan terdaftar aktif sebagai peserta BPJS Ketenagakerjaan, sehingga setelah seluruh proses administrasi selesai diurus, kami akan segera menyerahkan haknya kepada ahli waris, yaitu santunan beserta hak-hak lainnya,”kata Sultan di rumah duka.
Sultan menambahkan, pihaknya berkomitmen mempermudah proses pemberkasan agar dana santunan dapat segera diterima oleh pihak keluarga.
Diberitakan sebelumnya di Pacitanku.com, insiden nahas ini bermula ketika Mislan dan Budianto berangkat melaut pada Senin (12/10/2026) sore. Petunjuk awal hilangnya korban baru terungkap pada Selasa (13/10/2026) pukul 02.30 WIB, ketika seorang saksi mata bernama Fajar menemukan mesin serta perahu korban terdampar tanpa awak di kawasan Pantai Watu Murep.
Setelah tiga hari pencarian maraton, tim SAR gabungan bersama nelayan setempat akhirnya menemukan jasad Mislan pada Kamis (15/10/2026) petang dalam kondisi terapung sekitar 1,5 mil laut dari bibir Pantai Tawang, Desa Sidomulyo, Kecamatan Ngadirojo. Sempat terkendala derasnya arus malam hari, jasad korban berhasil dievakuasi dan diserahkan kepada keluarga. Hingga kini, operasi kemanusiaan masih difokuskan untuk mencari keberadaan Budianto.









