Pacitanku.com, PACITAN — Kabupaten Pacitan resmi dinobatkan sebagai daerah dengan kualitas udara terbersih di Jawa Timur berkat minimnya paparan polusi industri dan asap kendaraan bermotor. Kelestarian alam yang dikelilingi perbukitan hijau menjadi faktor utama terjaganya kualitas udara di wilayah tersebut.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Pacitan, Cicik Roudlotul Janah, menyambut positif capaian membanggakan ini. Menurutnya, minimnya polutan sejalan dengan karakter geografis Pacitan yang masih asri.
“Alhamdulillah, Indeks Kualitas Udara di Pacitan ditetapkan menjadi yang terbersih di Jatim. Hal ini menjadi gambaran bahwa udara di Pacitan sangat minim dari pencemaran akibat polutan debu pabrik, asap kendaraan bermotor, dan lainnya,”kata Cicik, rabu (7/10/2026) di Pacitan.
Meski meraih predikat terbaik, Cicik menegaskan pengawasan lingkungan tidak akan mengendur. DLH Pacitan terus memantau kualitas udara secara berkala minimal dua kali dalam setahun.
Pihaknya juga secara ketat mengawasi pelaku industri agar patuh pada komitmen dokumen lingkungan masing-masing.
Selain sektor industri, DLH menggandeng Dinas Perhubungan untuk mengendalikan emisi kendaraan melalui uji kelaikan secara rutin.
Peran aktif masyarakat juga terus didorong demi mempertahankan kualitas udara. DLH secara masif menyosialisasikan larangan membakar sampah sembarangan dan mengoptimalkan ruang terbuka hijau.
“Imbauan dan sosialisasi kepada masyarakat terus berjalan. Contohnya melalui program Car Free Day (CFD) setiap minggu untuk mengurangi polusi dari knalpot, sosialisasi jangan bakar sampah, hingga pemeliharaan ruang terbuka hijau,”tutur Cicik.
Diberitakan sebelumnya, secara akumulatif tahunan, Kabupaten Pacitan tercatat memiliki skor Indeks Kualitas Udara (IKU) tertinggi mencapai 81,34. Berdasarkan data IKU 2025 yang dirilis DLH Provinsi Jawa Timur melalui Open Data Jatim, capaian ini menempatkan Pacitan kokoh di puncak klasemen.
Nilai tersebut jauh meninggalkan ibu kota provinsi, Kota Surabaya, yang berada di peringkat ke-31 dengan skor 71,22. Sementara itu, persaingan di bawah Pacitan terpaut cukup tipis, disusul oleh Banyuwangi (79,67), Sumenep (79,60), dan Lamongan (79,57).
Sebagai catatan, perhitungan IKU resmi dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menggunakan skala 0–100, di mana semakin tinggi poinnya, kualitas udara dikategorikan semakin bersih. Standar ini berbeda dengan indeks polusi real-time pihak swasta seperti Air Quality Index (AQI) yang justru menggunakan angka kecil untuk indikator udara sehat.
“Karakteristik geografis Pacitan yang dikelilingi pegunungan dan pantai, serta minimnya industri skala besar, berkontribusi besar menjaga nilai IKU-nya tetap berada di papan atas,” tulis rilis evaluasi lingkungan makro tahunan DLH Jatim, Selasa (6/10/2026).
Meskipun secara harian indeks udara bisa berfluktuasi akibat perubahan arah angin dan partikulat PM2.5—khususnya pada musim kemarau—secara jangka panjang kualitas udara di Pacitan terbukti konsisten berada pada kategori Baik hingga Sangat Baik, serta tercatat paling sehat dan stabil se-Jawa Timur.










