Pacitanku.com, PACITAN — Gebrakan pelestarian budaya terjadi di Kabupaten Pacitan. Kesenian tradisional Langen Tayub yang kerap diidentikkan dengan kalangan tua, kini sukses berstatus “naik kelas” dengan merambah dunia pendidikan sebagai ekstrakurikuler pelajar.
Hal itu terjadi seiring tuntasnya pengukuhan kepengurusan paguyuban di 10 kecamatan pada Agustus 2026.
Paguyuban Langen Tayub Kabupaten Pacitan bergerak cepat dan masif memperluas ekosistem kesenian ini agar lebih tertata dan berkelanjutan.
Hingga kini, kepengurusan di 10 dari total 12 kecamatan telah resmi dikukuhkan secara bertahap. Sisanya, yakni Kecamatan Bandar dan Arjosari, ditargetkan rampung pada akhir tahun 2026.
Di tingkat akar rumput, sebanyak 12 desa juga telah mendapatkan pengesahan resmi dari Paguyuban Kabupaten. Meski demikian, pengukuhan pengurus di tingkat desa tetap diserahkan sepenuhnya kepada wewenang kepala desa setempat demi menghormati kebijakan pemerintahan desa.
Baca juga: HUT ke-81 RI, Warga Karangsono Hidupkan Semangat Guyub Lewat Langen Tayub
Namun, pencapaian paling fenomenal dari ekspansi budaya ini adalah merangseknya Langen Tayub ke kalangan generasi muda. Mengusung jargon “Tayub Naik Kelas” dan “Tayub Keren”, kesenian ini tak sekadar menjadi tontonan, melainkan telah menjadi sarana pendidikan dan ruang kreativitas pelajar.
Ketua Paguyuban Langen Tayub Kabupaten Pacitan, Wayan Diana, S.Pd., M.M., mengungkapkan bahwa antusiasme masyarakat, khususnya pelajar, sangat di luar dugaan. Di Kecamatan Ngadirojo dan Punung, pengenalan budaya ini bahkan telah berkembang menjadi ajang perlombaan bergengsi antarsiswa.
“Yang paling menggembirakan adalah ketika Tayub mulai masuk ke sekolah. Ketika anak-anak muda mulai belajar, tampil, bahkan mengikuti lomba Tayub antarsiswa seperti yang sudah dilakukan di Ngadirojo dan Punung, di situlah kita melihat bahwa proses regenerasi Tayub benar-benar berjalan,” ujar Wayan Diana, Minggu (23/8/2026).
Menurut Wayan, kampanye “Tayub Naik Kelas” menuntut cara pengemasan budaya yang lebih segar agar diterima semua kalangan tanpa harus membuang pakem tradisinya.
Senada dengan hal tersebut, Ketua Dewan Pembina Paguyuban Langen Tayub Kabupaten Pacitan, Dr. Arif Setia Budi, S.Sos., M.P.A., menilai penguatan struktur dari kabupaten hingga desa adalah langkah taktis untuk memastikan budaya tidak terputus di tengah jalan.
Ia menekankan bahwa warisan budaya tidak cukup hanya dipertahankan, melainkan wajib diwariskan.
“Tayub boleh berkembang, boleh dikemas lebih modern, tetapi jati diri dan nilai budaya yang ada di dalamnya harus tetap dijaga. Naik kelas bukan berarti meninggalkan tradisi, tetapi bagaimana tradisi itu semakin berkualitas, semakin dikenal dan semakin dicintai,” tegas Dr. Arif.
Dengan jejaring yang semakin solid dan tingginya minat generasi muda, masa depan kesenian Langen Tayub di Pacitan kini diyakini akan terus hidup, bergerak, dan relevan mengikuti perkembangan zaman.












