Pacitanku.com, NAWANGAN – Kericuhan turnamen bola voli antardesa di Kecamatan Nawangan, Kabupaten Pacitan, akhirnya berujung damai pada Selasa (11/8/2026).
Ratusan pemuda yang tergabung dalam Aliansi Solidaritas Tokawi berhasil mencapai kesepakatan melalui mediasi terbuka di kantor kecamatan setempat, yang ditandai dengan permintaan maaf tertulis dari pihak panitia dan Desa Jetis Lor atas rentetan insiden serta intimidasi sejak babak semifinal.
Proses mediasi yang melibatkan Camat Nawangan, Polsek, Koramil, dan tokoh masyarakat tersebut sempat berjalan alot karena adanya adu argumen.
Namun, kesepakatan damai akhirnya tercapai setelah pihak-pihak yang diduga memicu provokasi dihadirkan langsung oleh kepolisian ke tengah forum mediasi.
Perangkat Desa Tokawi, Sumarwan, menegaskan bahwa penyelesaian tertulis menjadi syarat mutlak untuk memulihkan hubungan antardesa dan menjamin keamanan ke depannya.
“Mediasi secara terbuka ini memang sempat berjalan alot, namun pada akhirnya panitia tingkat kecamatan dan pihak Desa Jetis Lor secara resmi menyampaikan permintaan maaf serta mengakui kesalahan. Kami menuntut semuanya tertuang dalam surat pernyataan bermeterai. Jika ke depan pihak Jetis Lor mengulangi hal serupa, mereka harus bersedia ditindak secara pidana maupun perdata,”kata Sumarwan usai mediasi.
Konflik ini bermula pada laga semifinal putra, Jumat (7/8/2026), saat tim Tokawi memprotes penggunaan pemain dari luar Desa Jetis Lor yang melanggar kesepakatan rapat teknis (technical meeting).
Meski mediasi awal memutuskan larangan bermain bagi pemain luar, tim Jetis Lor justru meninggalkan lokasi sehingga panitia memutuskan kemenangan walkover (WO) untuk Desa Tokawi.
Keputusan WO tersebut memicu ketidakpuasan suporter lawan. Rombongan pemain Tokawi sempat dicegat di jalan sehingga harus memutar jalur demi keamanan.
Eskalasi memuncak pada laga semifinal putri keesokan harinya, ketika suporter Jetis Lor menduduki lapangan dan memaksa dua official Tokawi, Slamet dan Agus Wiyono, untuk menyampaikan permintaan maaf atas kericuhan yang bukan perbuatan mereka.
Merasa nama baik desa dan ofisialnya dicemarkan, pemuda Desa Tokawi akhirnya berkumpul dan membentuk Aliansi Solidaritas Tokawi.
Ketua Karang Taruna Desa Tokawi, Faris Puji Utomo, menjelaskan bahwa aksi turun ke kecamatan adalah langkah terakhir setelah surat tuntutan resmi mereka tidak mendapat respons panitia selama dua hari.
“Pembentukan Aliansi Solidaritas Tokawi murni sebagai langkah tegas kami untuk menuntut klarifikasi dan memulihkan nama baik desa, terutama official dan ketua tim kami yang seolah-olah ditumbalkan dan dijadikan tersangka kericuhan. Melalui aksi damai ini, kami bersyukur kebenaran bisa terungkap dan nama baik Desa Tokawi kembali bersih,”tegas Faris.
Dengan ditandatanganinya surat pernyataan dari pihak-pihak terkait, Pemerintah Desa Tokawi berharap persoalan ini benar-benar selesai dan kondusivitas olahraga di Kecamatan Nawangan dapat kembali terjaga.












